Imbas dari perceraian orang tua, saudara kembar bernama Jenna dan Jenny pun hidup terpisah. Selagi Jenna hidup dengan penuh kesengsaraan karena tinggal bersama sang Ayah, Jenny hidup begitu mewah karena Ibunya menikah lagi dengan CEO mapan bernama J...
"Nyaman ya habis peluk-pelukan sama cowok?" ujar Sebastian, sesaat Jane baru sampai di lantai dua.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Laki-laki yang sudah mandi dengan rambut basah itu seperti biasa, nongkrong di depan TV sambil menyetel acara bola.
"Protes aja kaya netizen!" serunya sambil berlalu melewati lelaki itu.
"Ingat ya, sekali lagi lo ke tempat kaya gitu gue aduin ke nyokap lo!" ancam Sebastian, sebelum gadis itu memasuki kamarnya.
Jane hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berlalu. Ternyata Sebastian semakin lama semakin menjengkelkan. Jane pun langsung terpikir, pantas saja Jenny lebih memilih menjadi anak pendiam di keluarga kaya raya ini biar tidak ada yang mengusik hidupnya. Faktanya semakin humble hidup di sekitar Sebastian, yang ada semakin rumit.
Ia pun mengambil beberapa helai baju tidur yang ada di lemari Jenny, ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang belum mandi sore karena pulang kuliah langsung diajak main oleh Agatha.
Tak lama di kamar mandi, Jane keluar dari kamar mandi yang berada di dalam kamar luasnya itu. Betapa terkejutnya ia tiba-tiba sudah ada Mamanya di sana. "Hai, Ma," sapanya ragu.
Nadine menoleh sebentar ke arah Jane, lalu kembali memfokuskan matanya pada pigora yang ada foto Jenny membawa medali. "Kamu berbuat apa sampai-sampai Revel curiga sama kamu?"
Jane melangkah maju, ia duduk di pinggiran kasurnya. "Maaf, mungkin aku terlalu banyak bicara jadi Revel curiga."
"Saya kan sudah bilang, saya sudah tulis semua di buku yang saya berikan sama kamu. Di sana jelas tertulis karakter Jenny seperti apa, jadi jangan bertindak asal-asalan!" omel Nadine, layaknya Ibu tiri.
Jane hanya menundukkan kepalanya bersamaan rambut basahnya yang jatuh mengikuti arah kepala.
"Ingat ya, jangan gegabah! Kalau kamu ketahuan kasihan Jenny, bisa-bisa masa depan yang sudah dia rancang sebaik mungkin berantakan."
Yah, faktanya memang hanya Jenny yang memiliki masa depan sedangkan Jenna tidak. Gadis itu hanya menghabiskan hari demi hari untuk mencari duit dengan sebisa mungkin.
"Iya Ma, maaf." Jane mencoba tersenyum di atas sakit hatinya. "Boleh aku tanya?"
Nadine kembali menoleh ke arah Jane. Meski dia tidak mengiyakan, raut wajahnya tampak menunggu pertanyaan dari anaknya itu.
"Jenny, emang kenapa Jenny sampai koma? Dia kecelakaan? Atau ...."
"Jangan pikirkan hal itu," potong Nadine sambil beranjak dari kursi sebelum Jane menyelesaikan kalimatnya. "Jangan pernah bahas hal itu. Kamu nggak perlu tahu. Yang jelas tugas kamu di sini hanya menggantikan Jenny sampai Jenny benar-benar pulih."
Jane menutup mulutnya rapat-rapat.
Nadine melangkah pergi dengan raut kesal. "Beberapa minggu ke depan saya ke luar negeri, jadi jangan bikin ulah lagi. Fokus aja sama pelajaran di kampus!" pintanya sebelum keluar dan menghilang dari pandangan Jane.