17 - Will You be Mine?

880 48 8
                                        

Dekorasi di ballroom malam Minggu kali ini begitu mewah namun terkesan soft karena dipenuhi dengan bunga mawar putih. Tidak hanya bunga mawar putih yang ada disepanjang jalan depan sampai ke area panggung, tetapi di bagian panggungnya juga penuh akan bunga yang jika dihitung bisa mencapai puluhan ribu itu.

 Tidak hanya bunga mawar putih yang ada disepanjang jalan depan sampai ke area panggung, tetapi di bagian panggungnya juga penuh akan bunga yang jika dihitung bisa mencapai puluhan ribu itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kemudian di bagian tembok ballroom yang awalnya coklat gold, diubah juga dengan putih. Selain itu ada sorot-sorot lampu yang menghiasi hingga tatanan dekorasi begitu memukau.

Jujur saja, baru kali ini Jenna melihat dekorasi seindah ini. Ada sebenarnya yang lebih wow, tapi dekor ini yang sangat melekat sesuai seleranya. "Mewah banget, gila!" ucapnya terkagum-kagum malam itu saat beberapa tamu mulai menghadiri undangan.

"Hm, keren banget!" sahut Dafa yang berdiri di sampingnya.

"Acara lamaran siapa sih? Anak konglomerat?" tanya gadis itu.

Dafa mengangguk. "Hm, anak konglomerat."

"Mana orangnya dari tadi gue nggak lihat?" Jenna celingak-celinguk, sejak tadi ia hanya melihat para tamu yang sebenarnya jumlahnya tidak terlalu banyak. Tapi memang di lembar banquet acara, tamu undangan hanya sekitar lima puluh orang saja.

Padahal dengan jumlah hanya lima puluh orang, meeting room pun bisa digunakan daripada menghamburkan duit menyewa ballroom sebesar ini.

"Jen, sana ganti baju!" perintah Pak manajer. "Sekalian di rias."

"Kenapa harus saya sih pak yang jadi jadi tukang bawa bunga?" keluh Jenna sekali lagi. Saat masuk kerja tadi mendadak memang dia ditugaskan untuk menjadi salah satu bagian kelancaran acara tim inti karena permintaan klien. Klien meminta salah satu staff membantu membawakan bunga saat acara lamaran berlangsung.

"Udah sana, yang cocok cuman kamu. Ya masa saya suruh Dafa bawain bunga ke calon ceweknya, ngomel nanti kliennya," omel Pak manejer.

"Sana! Ganti!" Dafa pun mendorong tubuh Jenna sampai ke bagian salah satu ruangan khusus tanpa CCTV yang biasanya digunakan untuk ruang fitting dan make up saat ada acara.

Sesampainya di sana, Jenna duduk di salah satu kursi rias. Bukan hanya disuruh mengganti costum, ternyata wajahnya juga dirias. Kulit wajah sehatnya diberi foundation, bedak, blush on pink, kelopak matanya diberi eyeshadow pink tipis dan blink-blik, kemudian ditambahkan eyeliner, bulu mata juga. Lalu alisnya dibentuk ala-ala Korea dan bibirnya diberikan warna soft pink.

Tak hanya itu, rambut panjangnya juga dibentuk ala-ala bridesmaid. Usai tata riasnya selesai, ia pun mengganti pakaian kerjanya dengan sebuah gaun putih simple dengan rok sdikit mengembang.

"Gorgeous!" ujar salah satu penata rias. "Cantik banget!"

Jenna senyum malu-malu, ia pun melihat dirinya sendiri di cermin yang memang begitu menakjubkan malam ini. Ya, bukannya Jenna narsis namun faktanya seperti itu. Apalagi sepatu yang dinekaannya juga berwarna putih, menambah tampilannya begitu elegan.

Our Hidden StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang