Imbas dari perceraian orang tua, saudara kembar bernama Jenna dan Jenny pun hidup terpisah. Selagi Jenna hidup dengan penuh kesengsaraan karena tinggal bersama sang Ayah, Jenny hidup begitu mewah karena Ibunya menikah lagi dengan CEO mapan bernama J...
Kedatangan Nadine dan James Lawrence ke rumah membuat Jane bernapas sedikit lega. Jane rasa jika ada Nadine dan James di rumah, paling tidak anak tunggal James itu tidak bisa bertindak macam-macam lagi padanya.
Sejak kejadian hari itu, setiap hari Sebastian makin dan semakin menggoda Jane. Alasannya sama, katanya agar Jane jatuh hati padanya. Tentu saja Jane kesal pada Sebastian, apalagi beberapa kali kakak tirinya itu mencoba untuk menciumnya. Sebenarnya Jane mencoba mengerti dengan kelakuan-kelakuan bar-bar Sebastian, wajar saja, bukankah Sebastian memang lama tinggal di luar negri?
Sebastian dan James baru pindah ke Indonesia tujuh tahun lalu, jadi bisa dikatakan di usia Sebastian dua puluh empat tahun ini separuhnya ia habiskan di luar sana. Dan juga, walau Sebastian kini sudah mahir berbahasa Indonesia dengan logat bulenya, dia masih sering mengunjungi rumahnya yang ada di California.
"Gimana kuliah kamu?" tanya Nadine, padahal baru saja Jane duduk di kursi untuk sarapan pagi bersama sebelum berangkat kuliah. "Udah mulai main-main alat musik?"
"Em, sudah tapi masih ke pengenalan dasar aja," jawab Jane dengan senyum kakunya. Ya, meskipun Nadine ibunya dan sudah beberapa bulan mereka tinggal bersama tetap saja Jane tidak merasakan kasih sayang Ibu dalam diri Nadine untuknya.
"Perlu saya datangin guru musik lagi buat kamu?" Nadine menatapnya tajam.
Jane menggelengkan kepalanya. "Udah cukup Ma, lagian kuliah aku nggak tentu jadwalnya. Kadang pagi, kadang sore, ada kuliah malam juga."
"Ya makanya pulang kuliah tetap latihan mandiri di rumah. Jangan malah kelayapan."
James menghela napasnya. "Stop, honey. Biarkan dia sarapan dulu."
Jane tersenyum ke arah James yang duduk di sebelah Nadine. "Thanks, James."
Nadine pun menghentikan ocehannya berkat larangan dari James. Sepulang dari luar negri memang Nadine Anastasya itu lebih uring-uringan.
Jane yang duduk diseberang Nadine itu cepat-cepat memakan sarapannya, kemudian beranjak dari kursi di saat yang lain masih sibuk menikmati makanan.
"Gue antar aja, sekalian gue ke kantor," ujar Sebastian, ikut beranjak dari kursinya. Lelaki itu memandang nakal ke arah Jane.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Nggak usah, sama driver aja," ucap Jane, memberikan isyarat pada Sebastian agar lelaki itu tidak mengganggungnya.
"Nggak apa Jane, sekali-kali Bastian antar kamu. Lagian satu arah juga kok," sahut James.
Jane menghembuskan napasnya dengan kesal. Selalu ada saja cara dari Sebastian Lawrence itu untuk mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Emh, okay."
Dengan berat hati, Jane pergi meninggalkan rumah kediaman Lawrence untuk mengikuti langkah Sebastian. Laki-laki bertubuh tinggi dengan wangi maskulin itu memasangkan helm di kepala Jane setibanya di parkir utama rumah.