Imbas dari perceraian orang tua, saudara kembar bernama Jenna dan Jenny pun hidup terpisah. Selagi Jenna hidup dengan penuh kesengsaraan karena tinggal bersama sang Ayah, Jenny hidup begitu mewah karena Ibunya menikah lagi dengan CEO mapan bernama J...
"Mulai hari ini kamu tinggal bersama saya," ucap Ibu-ibu berkepala lima itu. Tatapannya dingin pada seorang gadis yang kini terduduk di depannya. "Kemasi barang kamu, saya tunggu di depan."
"Tapi ...."
"Nggak ada tapi-tapian. Saya sudah bicara dengan Papa dan Mamamu. Mereka sudah sepakat. Kamu bawa saja barang seadanya dulu," potong wanita itu tegas, lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar gadis bernama Jenna tersebut. "Saya tunggu di luar," katanya lagi sebelum menghilang diedaran mata Jenna.
Jenna berdiri dari tempat duduknya. Senyumnya mengembang tipis.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah dua belas tahun berlalu, ini kali pertamanya bisa melihat wajah Ibu kandungnya lagi. Meski wanita itu begitu dingin dan berkata ketus padanya, ia tetap lega. Ia rasa doanya terkabul, yah, doa sederhana yang ia panjatkan setiap harinya selama ini dikabulkan oleh Tuhan.
Dalam ingatannya saat berusia enam tahun kala itu, wanita tersebut tak juga menua. Dia tetap cantik, anggun, dan menawan. Namun terlepas dari itu, sikapnya begitu berbeda. Wanita berusia lima puluh tahun bernama Nadine Anastasya tersebut tidak lagi menyapanya dengan tatapan hangat dan penuh kasih sayang.
Tetapi, baginya itu tetaplah sebuah kebahagiaan yang tidak tertandingi adanya. Tanpa pikir panjang, Jenna langsung mengemas barang-barang yang ia butuhkan seadanya. Mulai dari baju-baju harian, baju jalan, sepatu, makeup, dan tak lupa sebuah syal yang selalu ia simpan dengan baik di lemari bajunya.
***
Jenna melangkahkan kakinya masuk ke sebuah rumah besar bak istana di negeri dongeng. Wajar saja Jenna terpukau, bangunannya begitu megah tak hanya bagian depan saja, tapi sampai ke bagian dalam dan belakang.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nadine yang tak lain adalah Ibu kandungnya sendiri itu membawanya sampai ke sebuah kamar di lantai dua. "Ini kamar Jenny, kamu bisa pakai semua barangnya," jelas Nadine masih kaku. Ia pun menunjuk sebuah buku di atas meja saat mereka memasuki kamar milik Jenny itu. "Di sini sudah saya rangkum teman-teman dekat Jenny siapa saja, kesukaan Jenny apa, yang Jenny hindari apa, dan apa saja yang harus dilakukan. Kamu hafalkan!" tambahnya.