18 - Pasar Street Food.

3.2K 131 0
                                        

Happy Reading.

Mobil sedan berwarna hitam bermerk Mercedes-Benz C-Class memasuki area parkir di pasar itu, setelah memarkirkan mobilnya, Bryan turun terlebih dulu untuk membukakan pintu untuk Trianna.

Trianna turun dari mobil dan mengucapkan terimakasih, mereka berdua berjalan sembari bergandengan tangan. Mereka berdua  memasuki area pasar street food, pilihan pertama Trianna tertuju pada kedai taco yang ada di sana. Mereka memesan 2 taco dengan isian daging sapi asap dan 2 es jeruk.

Setelah menerima pesanan mereka dan membayarnya, Bryan dan Trianna duduk di kursi yang tersedia di sana untuk memakan taco yang mereka beli. Belum habis taco yang ada di tangan Trianna, Trianna mulai mencium aroma bakar-bakaran.

Trianna mencari sumber aroma itu berasal, setelah mengetahui sumber dari aroma itu berasal Trianna tersenyum. "Mau itu," pinta Trianna sembari menunjuk ke arah kedai cumi-cumi dan gurita bakar.

Bryan melihat ke arah yang di tunjuk oleh Trianna, "Mau?"

Trianna mengangguk cepat, Bryan berdiri menghampiri kedai itu dan memesan cumi-cumi bakar dan baby gurita. Setelah pesanannya jadi, Bryan membayarnya lalu berjalan kembali duduk di bangkunya.

Bryan duduk di depan Trianna, ia menaruh cumi-cumi dan baby gurita bakar itu di atas meja. Senyum Trianna seketika mengembang, "Terimakasih sayang!" ucap Trianna lalu mengambil satu tusuk cumi-cumi bakar.

Bryan yang mendengar ucapan dari Trianna seketika merasakan detak jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Bryan menatap ke arah Trianna lekat.

"Kenapa? Mau?" tanya Trianna.

"Hari sabtu kita akan menikah," ucap Bryan sembari menatap Trianna lekat.

"Iya, aku tau kok. Sabtu depan 'kan?" Trianna kembali mengambil satu tusuk cumi-cumi.

"Bukan, sabtu besok."

"APA?! Uhuuk--" Trianna menepuk-nepuk dadanya, dengan cepat Bryan mengambil minuman yang mereka pesan tadi. Trianna meminumnya, setelah rasa sakit karena tersedak mereda, Trianna menatap Bryan tidak percaya.

"Kau serius?" tanya Trianna.

"Ya, aku serius," kata Bryan. Trianna menatap mata Bryan untuk mencari kebohongan di sana, namun nihil. Justru mata Bryan terlihat sangat serius saat mengatakan itu.

"Kenapa tiba-tiba di percepat?" tanya Trianna protes. Jujur saja, dia belum siap untuk menikah. Saat masuk ke dalam tubuh Trianna yang asli dan ternyata Trianna sudah memiliki tunangan, itu membuat Trianna mau tidak mau menerima pertunangannya. Ingin membatalkan pertunangan itu juga percuma, mereka sudah bertunangan selama 5 tahun. Takut jika nanti saat ia ingin membatalkan pertunangan mereka, Bryan menebas kepala Trianna dari tubuhnya. Trianna tidak ingin mati lagi.

Sebenarnya saat Trianna pertama kali membuka handphone milik Trianna yang asli, ia melihat ada nomor Bryan di handphone itu. Trianna mengirim pesan untuk membatalkan pertunangan mereka, Bryan membalasnya marah dan mengancam akan membunuh Trianna ketika Trianna kembali mengatakan untuk membatalkan pertunangan mereka. Sejak saat itu ia menjadi sedikit takut dan waspada kepada Bryan. Jujur saja Trianna terkejut saat Bryan menjemputnya di rumah sakit dan membawanya pergi ke mansion milik Bryan.

Trianna ingin melawan Bryan, namun entah mengapa Trianna merasa jika Bryan ini bukan orang sembarangan. Aura dominant dari Bryan sungguh kuat, sehingga membuat Trianna menjadi sedikit lemah. Jadi karena itu Trianna memilih cari aman saja, siapa tau Bryan bisa menjadi pelindung untuk dirinya saat melawan keluarga bedebah itu.

"Kau menggoda diriku," ucap Bryan sembari mengambil tusukan cumi-cumi dari tangan Trianna lalu memakannya.

"Aku? Menggoda dirimu?" Trianna mengernyit heran.

"Ya, kau menggoda diriku." Bryan tersenyum tipis.

"Hey, kapan aku menggoda dirimu?" tanya Trianna.

Bryan tidak menjawab pertanyaan dari Trianna, ia menyandarkan tubuhnya di kursinya. "Tidak menerima protes, kita akan menikah sabtu besok."

"Kau yang benar saja! Kalau kita menikah sabtu besok, berarti waktu kita hanya tersisa 2 hari lagi tau! Mana sempat untuk mengurus acara pernikahan!" ucap Trianna protes.

"Sempat, aku sudah mengurus semuanya, tinggal kau besok fitting baju yang sudah aku pesan 5 tahun yang lalu," ucap Bryan membuat Trianna melongo.

"Yang benar saja! 5 tahun yang lalu?!"

"Iya, aku sudah mempersiapkan semuanya untuk pernikahan kita nanti."

"Baju itu sudah 5 tahun yang lalu loh! Ukuran bajunya pasti beda, butuh waktu untuk mengubah baju itu!"

"Tidak perlu waktu yang lama kalau aku menambah uang lebih untuk mengubah baju itu." Perkataan yang keluar dari mulut Bryan sukses membuat Trianna kembali melongo.

"Kau---"

"Tidak menerima protes," potong Bryan. Bryan melirik ke arah jamnya, "Aku harus segera berangkat meeting bersama klienku, kau akan di antar pulang oleh Willy."

Bryan berdiri dari kursinya dan menelpon seseorang. Trianna ikut berdiri dan berjalan di belakang Bryan. Trianna masih ingin protes kepada Bryan karena hari pernikahan mereka yang tiba-tiba di percepat. Tetapi Bryan terus saja mengabaikan protes dari Trianna.

Sesampainya di parkiran, Bryan menghentikan langkahnya. Trianna melihat mobil berwarna hitam memasuki area parkir. Seorang pria turun dari mobil itu dan menghampiri mereka berdua.

"Selamat siang tuan dan nyonya," sapa pria itu yang ternyata adalah Willy, asisten Bryan. Willy membungkukkan badannya sejenak lalu kembali menegakkan badannya.

"Selamat siang," balas Trianna, sementara Bryan hanya diam.

"Antarkan dia pulang," perintah Bryan melirik ke arah Trianna.

"Baik, tuan." Willy mendekati Trianna, "Mari nyonya," ajaknya.

Trianna menghela nafasnya pelan, "Baiklah."

Trianna dan Willy berjalan ke mobil yang di bawa oleh Willy. Sementara Bryan menunggu di depan mobil miliknya untuk memastikan Trianna benar-benar masuk ke dalam mobil Willy.

Willy membukakan pintu belakang untuk Trianna, sebelum Trianna masuk, ia sempat melihat ke arah Bryan yang sedang memperhatikan dirinya.

Trianna masuk ke dalam mobil dan mengucapkan terimakasih kepada Willy. Willy sempat tertegun sejenak, kemudian ia mengangguk dan menutup pintu belakang mobil.

Willy masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya meninggalkan area parkir. Bryan yang melihat mobil Willy pergi dari area parkir tersenyum tipis.

Kemudian Bryan masuk ke dalam mobil miliknya dan meninggalkan area parkiran menuju tempat yang sudah ia sepakati oleh kliennya.

'Sekarang aku sudah tau alasan tuan memilih dirinya. Dia ... berbeda.'

.
.
.

To be content.

Hai hai, jangan lupa vote, komen, dan follow akun aku yaaa, terimakasihhh.

IMAGINATION [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang