Happy Reading.
Beberapa tamu yang terluka akibat ledakan bom kini sedang di obati oleh perawat di ambulance, untung saja mereka hanya mengalami luka ringan dan tidak terluka parah.
Pemadam kebakaran sudah berhasil memadamkan api yang muncul akibat ledakan bom itu. Beberapa polisi datang untuk memeriksa penyebab ledakan dan menginstrogasi beberapa pelayan dan pengawal, termasuk keluarga Domien, Gelan, dan Willy.
Selesai di instrogasi oleh polisi, Trianna keluar dari ruangan instrogasi untuk mencari keberadaan Bryan. Di luar sudah banyak wartawan yang sedang meliput kejadian itu.
Tiba-tiba, tangan Trianna di tarik oleh seseorang. Trianna menengok ke arah orang yang menarik tangannya, ternyata orang itu adalah Bryan.
"Ada apa?" tanya Trianna. Bryan tidak menjawab, ia hanya menengok sekilas ke arah Trianna.
Bryan membawa Trianna ke sebuah ruangan khusus yang kedap suara. Beatrice dan Baslano sudah berada di sana, Willy dan Gelan juga berada di sana. Ada dua orang polisi yang duduk di sana dan seorang pelayan perempuan yang berdiri di samping Willy.
Trianna menatap heran ke arah Bryan, Bryan menatap Trianna dengan tatapan--- khawatir?
"Nanti aku jelaskan," ucap Bryan berbisik. Mereka berdua duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
Seorang polisi mengeluarkan kantong plastik putih yang di dalamnya terdapat sebuah benda berwarna hitam.
"Penyebab dari ledakan itu adalah sebuah bom plastik yang bisa di kendalikan dari jarak jauh," ucap polisi itu.
Beatrice dan Trianna terkejut, "Apa benda hitam itu adalah bom?" tanya Trianna penasaran.
"Bukan, bom plastik itu sudah kami amankan untuk kami jadikan sebagai bukti. Benda ini adalah sisa dari tempat bom itu di letakkan," jawab polisi yang kedua.
"Dan, benda ini akan kami periksa lagi untuk memastikan apa ada sidik jari yang tertinggal di benda ini. Kami harap bapak dan ibu menyetujui penyelidikan ini lebih lanjut," lanjut polisi itu.
Baslano menganggukkan kepalanya, "Silahkan di lanjutkan. Cari pelaku yang telah berani menghancurkan acara pernikahan anak saya sampai dapat, dan beri dia hukuman yang berat." Baslano menatap tajam ke arah dua polisi itu, seketika badan polisi itu gemetar karena di tatap oleh Baslano.
"Si-siap, pak," ucap kedua polisi itu, lalu mengambil kembali kantong plastik itu. Mereka berdua berdiri kemudian menundukkan kepalanya sebentar, lalu pergi keluar dari ruangan itu.
Ruangan itu seketika menjadi hening, Bryan menggenggam tangan Trianna dan mengelus tangan Trianna dengan jarinya.
"Siapa yang memberi undangan kepada keluarga bejat itu?" tanya Beatrice sembari menatap tajam ke arah Willy.
Willy maju satu langkah, "Bukan saya nyonya. Tugas saya hanya memastikan undangan tersebut sudah tersebar atau belum, untuk urusan menyebar undangan, saya serahkan kepada seorang pelayan."
Beatrice menatap ke arah pelayan perempuan yang berdiri di samping Willy. Saat merasakan semua tatapan tertuju kepada dirinya, pelayan itu duduk bersimpuh di hadapan semua orang.
"Maafkan saya, nyonya. Maafkan saya, saya tidak tau tentang hal itu, saya hanya menjalankan tugas saya, nyonya," ucap pelayan itu. Pelayan tersebut gemetar ketakutan.
"Kau yang bikin undangan itu?" tanya Beatrice.
"Bukan nyonya, undangan itu sudah ada saat saya mengambil undangan. Saya pikir keluarga dari nyonya Trianna juga di undang, maafkan saya karena kelalaian saya, nyonya."
Mereka semua terdiam saat mendengar penjelasan dari pelayan itu.
"Lalu, siapa?" tanya Gelan, "Hey, sebelum kau mengambil undangan itu, apa ada orang selain dirimu di sana?"
Pelayan itu terdiam berusaha mengingat, "Seingat saya ... saat itu saya melihat kepala pelayan sedang berada di sana untuk mengecheck undangan itu."
Willy menatap ke arah pelayan itu, "Benarkah?"
Pelayan itu menganggukkan kepalanya, "Iya, seingat saya, saya melihat kepala pelayan saat itu. Saya sempat bertanya kepadanya, dia bilang hanya ingin mengecheck saja."
"Panggil kepala pelayan!" perintah Bryan. Willy menganggukkan kepalanya dan pergi keluar untuk memanggil kepala pelayan.
Suasana ruangan itu kembali hening, semua orang terdiam menunggu kepala pelayan datang. Pintu ruangan terbuka, Willy masuk kembali ke dalam ruangan bersama kepala pelayan di belakangnya.
Kepala pelayan itu membungkukkan badannya lalu berdiri tegak kembali.
"Ada apa, tuan?" tanya kepala pelayan.
"Apa benar saat itu kau sempat mengecheck undangan?" tanya Beatrice.
Kepala pelayan itu terdiam sejenak, kemudian menganggukkan kepalanya, "Iya, saya waktu itu sempat mengecheck undangan. Saat itu juga saya bertemu dengan Nurie," ucap kepala pelayan sembari menatap ke arah pelayan perempuan yang sedang duduk bersimpuh di lantai.
"Apa saat itu kau melihat undangan untuk keluarga pamanku?" tanya Trianna penasaran.
Kepala pelayan itu mengerutkan keningnya, "Sepertinya tidak."
"Apa kau yakin?" tanya Baslano.
"Tentu, tuan. Saya sangat yakin."
Semua orang kembali terdiam saat mendengar perkataan dari kepala pelayan.
"Siapa ... dalangnya?" gumam Bryan sembari mengepalkan kedua tangannya.
.
.
.
To be content.
Hai gengs, double up nich. Gimana part ini gengs? Maaf kalo gak jelas ya gengs😭
Kalian bisa nebak gak siapa yang buat undangan sama pelaku kejadian ledakan itu?
Coba gengs tulis di komen siapa tebakan kalian👉🏻👉🏻
Jangan lupa vote, komen, dan follow akun akuu yaa. Terimakasihhh.
KAMU SEDANG MEMBACA
IMAGINATION [END]
FantasyGanti judul. JUDUL AWAL : Aku Karakter Novel?! . . . Seseorang dari dunia nyata bertransmigrasi ke dunia novel mungkin sudah biasa. Tapi, bagaimana jika karakter yang berasal dari dunia novel tiba-tiba masuk ke dalam tubuh seseorang yang ada di duni...
![IMAGINATION [END]](https://img.wattpad.com/cover/351138855-64-k713416.jpg)