60 - Mimpi?

723 29 0
                                        

Happy Reading.

"Alee," panggil seorang anak perempuan berusia 3 tahun.

"Iyaa, kenapa Nana?" jawab seorang anak laki-laki dengan usia yang berbeda 2 tahun dengannya.

"Nana mau esklim, boleh?" Anak perempuan itu mengedipkan matanya imut.

"Esklim?" tanya anak lelaki itu bingung.

"Iyaa, esklim. Nana mau esklim," jawab anak perempuan itu.

"Nana mau esklim apa?"

"Nana mau lasa stolbelli."

"Hah? Apa itu stolbelli?"

"Lasa esklim lah!"

"Ohh, strawberry?"

"Nah, iyaa! Nana mau itu!"

"Ohh, ayoo, kita beli esklim rasa strawberry!"

"Let's go!"

Kedua anak kecil itu menyeberangi jalan untuk membeli es krim di supermarket yang ada di seberang jalan. Setelah selesai membeli es krim yang anak perempuan itu minta, mereka berdua kembali menyeberangi jalan.

Saat mereka sedang menyeberangi jalan, tiba-tiba saja dari arah samping kanan mereka ada sebuah truck yang melaju dengan kecepatan tinggi.

Tet! Tot! Suara klakson berbunyi kencang.

Sayangnya, kedua bocah kecil itu tidak sempat untuk menghindari truck tersebut dan ...

BRAK!

"Aduh ..." rintih Trianna, kesakitan. Tanpa sadar dia terjatuh dari tempat tidurnya.

"Mimpi apa tadi?" gumamnya.

"Sayang? Kamu tidak apa-apa?" tanya Bryan khawatir.

"Hm, aku tidak apa-apa," jawab Trianna.

Bryan menatap Trianna dengan tatapan khawatir, "Haruskah aku memanggil dokter ke sini?"

"Tidak! Jangan! Aku beneran tidak apa-apa kok," seru Trianna.

Bryan menghembuskan nafasnya pelan, tangannya bergerak untuk mengelus rambut Trianna.

"Jika ada yang sakit, katakan saja kepadaku. Aku selalu ada di sini untukmu, sayang," ucap Bryan tersenyum tulus.

Trianna tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu ia berdiri, dan berjalan menuju ke kamar mandi.

"Oh iya, nanti malam kita akan kedatangan tamu," ucap Bryan.

Trianna berhenti, "Siapa?" tanya Trianna penasaran.

"Lee."

.
.
.

Di sebuah ruangan yang gelap, tercium aroma alkohol yang sangat kuat, sangat kuat sampai-sampai sangat menusuk hidung walaupun hanya sekali hirup. Ruangan tersebut juga terlihat sangat lembab, seolah ruangan tersebut tidak pernah terjajah oleh sinar matahari.

Di dalam ruangan itu, seorang pria terbaring lemas akibat semalam ia terlalu mabuk. Gelan membuka matanya perlahan, kepalanya terasa sangat pusing efek dari alkohol yang ia minum.

"Sialan, berengsek!" umpat Gelan.

"Ini semua karena dia!" Gelan mengacak-acak rambutnya frustasi.

Gelan mencoba untuk berdiri, namun, karena masih ada sedikit pengaruh alkohol jadi dia terjatuh kembali.

"Sialan! Seharusnya dari awal aku membunuhnya."

Gelan mencoba untuk berdiri kembali dan berjalan tertatih-tatih menuju meja satu-satunya yang ada di ruangan itu.

Ada beberapa dokumen di atas meja tersebut, beberapa novel, dan ada satu album di atasnya. Gelan duduk di kursi depan meja itu, dan mengambil album.

Gelan membuka lembar demi lembar album tersebut, sampai akhirnya ia menemukan satu foto yang ia cari.

Ia memandangi foto tersebut dalam-dalam, terbesit rasa penyesalan, takut, cemburu, dan rasa bersalah. Semua rasa itu menggerogoti tubuhnya, entah apa yang harus ia lakukan untuk kedepannya.

Semua rasa itu hadir ketika ia, tidak sengaja melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan. Seharusnya ia tidak memisahkan mereka sedari awal, karena Gelan tahu, bahwa anak laki-laki ini bukanlah anak biasa.

Tapi, ia tidak menyesali tindakannya yang itu. Yang ia sesali adalah, ketika ia yang seharusnya menjaga dia, tetapi ia malah asik bermain game bersama temannya yang lain. Sehingga insiden tersebut terjadi.

"Seharusnya ... saat itu, dia lebih baik mati." Air mata jatuh dari mata Gelan.

Gelan menghembuskan nafasnya pelan, "Tindakanku sudah yang terbaik untuk menghapus kenangan bersama dengannya itu, tapi kenapa dia harus muncul sekarang?!"

Amarah Gelan menggebu, tanpa sadar ia memukul tembok yang ada di hadapannya.

"Dan sekarang? Dia mencoba untuk menyingkirkan diriku darinya?" Gelan tersenyum miring.

"Ah, hahaha, HAHAHAHAHAHAHA!"

Gelan menyenderkan kepalanya di kursi, "Kita lihat saja seberapa banyak kemampuan dia untuk menyingkirkan diriku!" Gelan tersenyum miring.

Setelah itu ia berdiri, mengambil jaketnya dan pergi dari ruangan itu.

.
.
.

Sebuah monitor memperlihatkan ruangan tempat di mana Gelan berada. Terlihat Gelan baru saja meninggalkan ruangan tersebut.

Pria yang ada di depan monitor tersenyum lebar, ia sangat senang melihat lawannya yang ada di dalam monitor tersebut.

"Baiklah, lihat saja nanti. Seberapa kuatnya aku untuk menyingkirkan dirimu, HAHAHAHAHA!"

.
.
.

To be content.

HALOOOOOO GENGGSSSSSS, how are u?? i miss uuu so muchhh🥹🥹

i comeback nih gengs, hehehe. maaf yaa udah ngagantungin kalian setahun ini. OH IYA, ngga kerasa cerita nya udah setahun, padahal aku berusaha banget buat nyelesain cerita nya sebelum setahun, tapi apalah daya aku yang mageran ini, hehehe. maafin aku ya gengss.

oh iya, maaf yaa klo part ini ngga jelas, buntuuuu banget plis plis.

jangan lupa vote, komen dan follow akun aku biar ngga ketinggalan update-an nyaa!!! terimakasih.

IMAGINATION [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang