62 - Diculik!

749 30 5
                                        

Happy Reading.

Trianna membuka matanya perlahan, ternyata ia di bawa ke sebuah kamar yang besar dengan kondisi tangan dan kakinya yang terikat.

Trianna memperhatikan sekelilingnya, kamar itu sangat sepi. Ia mencoba untuk melepaskan ikat tali yang ada di tangannya, tetapi tidak berhasil. Saat ingin mencoba melepaskannya kembali, tiba-tiba saja pintu terbuka.

"Oh, ternyata kau sudah bangun."

Trianna berhenti, kemudian menatap ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya ia saat melihat orang yang berdiri tidak jauh darinya.

"Lee?"

Lee tersenyum dan berjalan mendekati Trianna, "Kenapa? Kau terkejut?" tanyanya sembari tersenyum.

"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menculik diriku?!" teriak Trianna, marah.

"Menculik? Aku tidak menculik dirimu, sayang." Lee menatap mata Trianna sambil menyeringai.

"Aku membawamu ke sini karena kau sudah menjadi milikku," ucap Lee.

Trianna melotot, "Apa maksudmu?!"

"Yaa, bagaimana ya cara menjelaskannya? Yang pasti, kau sudah menjadi milikku sekarang."

"Jangan berbicara omong kosong! Aku sudah memiliki suami!" teriak Trianna.

"Oh ya?" Lee duduk di samping Trianna, "Suami yang baik tidak mungkin menjual istrinya kepada orang lain."

"Apa?!"

"Iya, Bryan menjual dirimu kepadaku."

Trianna terkejut, "Mustahil! Ia tidak mungkin menjual diriku! Dia mencintaiku!"

Mendengar hal itu sontak membuat Lee tertawa, "HAHAHA, kau sangat lucu, Trianna!"

"Asal kau tau, dia tidak benar-benar mencintai dirimu."

Trianna terdiam, tangannya bergerak berusaha melepaskannya dari ikatan.

"Semua yang dikatakannya itu, hanyalah omong kosong," ucap Lee.

"Tidak! Justru dirimu lah yang berbicara omong kosong! Aku percaya dengan suamiku, aku tidak akan terpengaruh dengan omong kosongmu," balas Trianna.

Lee kembali tertawa, "Benarkah? Seberapa besar rasa percaya dirimu kepadanya?"

"Diamlah! Cepat lepaskan diriku! Suamiku pasti sedang mencari aku sekarang," ucap Trianna.

"HAHAHA, sudah aku bilang, dia itu sudah menjual dirimu kepadaku, mana mungkin dia akan mencari dirimu!" Lee tersenyum miring.

"Atas dasar apa kau mengatakan itu!" teriak Trianna.

Tangan Lee bergerak mengambil dokumen yang berada di atas meja, lalu ia menunjukkannya kepada Trianna. Trianna terdiam sambil membaca isi dari dokumen tersebut.

"Tidak! Itu tidak mungkin!" teriak Trianna sambil menggelengkan kepalanya.

"Terserah kau mau percaya atau tidak, yang penting sekarang kau sudah menjadi milikku." Lee tersenyum, kemudian ia berdiri.

"Diamlah di sini, nanti aku akan kembali membawa makanan untukmu," ucap Lee.

Trianna hanya diam melihat Lee berjalan meninggalkannya, Lee mengunci pintu kamar itu.

Trianna menghembuskan nafasnya kasar lalu menangis, ia tidak bisa menerimanya. Tangan Trianna bergerak berusaha untuk melepaskan ikatannya.

'Siapapun, tolong bantu aku ...'

.
.
.

Saat hendak menaiki lift, ada satu hal yang membuat Willy berhenti. Tangannya terulur untuk mengambil tas milik Trianna yang terletak di depan pintu lift.

Tanpa sadar, ia berlari menuju kamar Trianna. Willy membuka kamar itu dan masuk untuk mencari Trianna. Namun, Trianna tidak ada di sana.

Kemudian ia berlari menuju ruang kerja Bryan, ternyata Bryan sudah kembali ke ruang kerjanya. Ia mengetuk pintu lalu masuk ke dalam.

"Tuan, nyonya tidak ada di kamarnya," ucap Willy.

Namun, Bryan hanya diam. Ia sibuk membaca dokumen yang ada di atas mejanya, tidak menanggapi ucapan dari Willy.

"Tuan, haruskah saya mencari nyonya?"

Bryan menatap ke arah Willy, "Tidak usah."

Willy terkejut, "Kenapa?"

"Biarkan saja dia."

Willy tambah terkejut mendengar jawaban dari Tuannya itu.

"Kenapa, Tuan?" tanya Willy.

"Kau tau sendiri alasannya, Willy," ucap Bryan.

"Aku hanya mengincar harta keluarganya saja, sesuai dengan surat wasiat dari kakekku, yang menyuruh diriku menikahi dia untuk merebut semua hartanya. Sekarang aku sudah dapat itu, jadi aku sudah tidak membutuhkan dirinya lagi," lanjut Bryan.

"Lalu? Apa kau tidak peduli dengannya lagi, Bryan?" tanya Willy, tangannya mengepal.

Bryan membuang mukanya, "Tidak, aku tidak peduli dengan dia."

Willy menghembuskan nafasnya kasar, "Aku pikir kau sudah berubah," ucapnya kemudian pergi meninggalkan Bryan sendiri.

Bryan memejamkan matanya sejenak.

"Tidak apa-apa, aku sudah melakukan hal yang paling terbaik."

.
.
.

To be content.

HALOOO GENGS, HEHE. Udah menuju puncak ending nih gengs, kalian penasaran sama endingnya ngga?

maaf kalo ceritanya ngga jelas ya gengs:)

jangan lupa vote, komen, dan follow akun aku!!! terimakasih.

IMAGINATION [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang