31 - Tamu Tak Di Undang.

2.3K 84 0
                                        

Happy Reading.

Trianna dan Bryan sedari tadi sibuk bersalaman dengan para tamu, sudah lumayan banyak tamu yang datang ke acara pernikahan mereka. Beatrice dan Baslano juga sibuk menyambut para tamu.

Suasana acara pernikahan itu mulai ramai, banyak rekan-rekan bisnis Bryan dan Baslano datang untuk mengucapkan selamat. Dan teman-teman mereka, termasuk Gelan yang sedang berjalan menghampiri Trianna dan Bryan untuk mengucapkan selamat.

"Selamat ya Trianna dan Bryan, semoga pernikahan kalian selalu harmonis." Gelan bersalaman dengan Trianna lalu Bryan.

Bryan menatap datar ke arah Gelan, "Ya," jawabnya singkat. Gelan menahan untuk tidak memutar bola matanya.

"Terimakasih ya Gelan," ucap Trianna tersenyum. Gelan yang melihat senyuman itu ikut tersenyum.

"Sama-sama."

Pintu ruangan acara resepsi terbuka, perhatian Trianna teralihkan ke seseorang---eh? Keluarga yang baru saja masuk ke dalam ruangan acara.

Beatrice terkejut saat melihat siapa yang datang, ia lebih terkejut karena keluarga itu bisa masuk ke dalam ruangan acara pernikahan itu. Beatrice berjalan cepat menghampiri keluarga yang baru datang itu.

"Mau apa kalian kemari?" tanya Beatrice ketus.

"Tentu saja kami ke sini untuk menghadiri acara pernikahan keponakan kami," jawab Roselina---bibinya Trianna tersenyum miring. Sementara pamannya Trianna---Raden, menatap tajam dan dingin ke arah Beatrice. Baslano yang melihat tatapan dari Raden menghampiri Beatrice lalu berdiri di sebelahnya.

Beatrice yang mendengar itu terkejut, "Bagaimana kalian bisa tau kalau Trianna akan menikah hari ini?"

Roselina menatap Beatrice heran, "Tentu saja kami tau, kami 'kan telah di undang, masa kami tidak datang setelah kalian mengundang kami ke acara pernikahan keponakan kami sendiri."

"Di undang? Mana undangan kalian?" tanya Beatrice. Setahu Beatrice, keluarga paman dan bibi dari Trianna tidak mereka undang. Dan mereka tidak bikin undangan untuk mereka, Beatrice yang mengecheck sendiri daftar tamu waktu itu.

Roselina membuka tas branded miliknya lalu mengeluarkan sebuah undangan dari dalam tas. Kemudian Roselina melempar undangan itu kepada Beatrice.

Beatrice menangkap undangan itu lalu menatap kesal kepada Roselina. Saat melihat undangan yang ada di tangannya, Beatrice terkejut. Undangan itu sama persis seperti undangan pernikahan Trianna dan Bryan. Beatrice membuka undangan tersebut, jika undangan tersebut asli, akan ada stempel resmi keluarga Domien di dalam undangan.

Beatrice dengan cepat membuka undangan itu, saat melihat bagian dalam undangan itu, ia kembali terkejut. Terdapat stempel resmi keluarga Domien di dalam undangan itu.

"Dari mana kalian mendapatkan undangan ini?" tanya Beatrice menatap tajam ke arah Roselina.

Roselina mengangkat satu alisnya, "Bukankah kalian sendiri yang mengantarkan undangan ini? Ah, lebih tepatnya pelayan kalian yang mengantarkan," jawab Roselina tenang.

Beatrice menatap tak percaya, ia melirik ke arah suaminya yang sedang berdiri di sampingnya. Baslano melihat undangan itu, kemudian ia berbisik kepada pelayan yang kebetulan sedang lewat.

Banyak para tamu menatap penuh tanda tanya ke arah mereka, Baslano menyadari sudah banyak tamu yang sedang melihat ke arah mereka, ia meminta kepada pelayan untuk menampilkan sebuah pertunjukan yang sudah mereka siapkan. Pelayan itu mengangguk dan pergi meninggalkan mereka.

Tidak lama setelah itu, pertunjukan di mulai, perhatian para tamu terahlikan dan mulai menonton sebuah pertunjukan atraksi yang menakjubkan. Willy berjalan ke arah mereka lalu meminta mereka untuk pergi ke sebuah ruangan, tetapi Roselina dan Raden menolak.

"Biarkan kami bertemu keponakan kami terlebih dulu," ucap Raden datar. Roselina, Resta, Reynand---anak pertama dari pamannya Trianna, dan Regan---anak terakhir dari pamannya mengangguk setuju. Sementara Raksa hanya diam memperhatikan perdebatan yang terjadi di depannya.

Trianna ingin berjalan ke arah mereka, tetapi di tahan oleh Bryan. Bryan menggelengkan kepalanya berkata jangan.

"Lepaskan!" ucap Trianna menatap tajam ke arah Bryan. Bryan mengangkat satu alisnya lalu melepaskan genggaman tangannya.

Trianna berjalan ke arah mereka di ikuti oleh Bryan di belakangnya, dan Gelan mengikuti Trianna dari belakang. Gelan menatap cemas takut terjadi sesuatu kepada Trianna.

Roselina tersenyum kecil saat melihat Trianna datang, "Apa kabar Anna?" tanya Roselina tersenyum. Trianna hanya diam tidak menjawab.

"Mau apa kalian kemari?" Trianna menatap tajam ke arah keluarga bajingan itu, Beatrice mendekat lalu berdiri di samping Trianna. Roselina terkejut saat melihat tatapan tajam itu, begitu juga dengan Regan dan Reynand. Resta dan Raksa hanya diam karena sudah pernah bertemu dengan Trianna sebelumnya.

Resta melangkah maju untuk mendekati Trianna, namun Gelan menghalangi Resta.

Resta menatap marah kepada Gelan, "Jangan halangi diriku!"

Gelan tersenyum miring, "Aku tidak akan melepaskan dirimu jika kau berani melukai Trianna!"

Resta merasa geram, ia mengambil pisau kecil yang terletak di atas meja. Semua orang terkejut saat melihat itu, Resta menodongkan pisau kecil itu kepada Gelan. Gelan mundur satu langkah.

Kemudian Resta melangkah maju dan menodongkan pisau kecil kepada Trianna. Bryan yang melihat itu dengan cepat menendang tangan Resta, membuat pisau kecil itu terpental jauh dari mereka. Resta mengaduh kesakitan, Roselina menghampiri Resta dengan tatapan khawatir.

Regan dan Reynand menggeram marah, mereka ingin mendekati Bryan tetapi di tahan oleh Raden.

Raksa yang merasa tidak terima karena tangan kekasihnya di tendang berjalan mendekati Bryan, tetapi tangannya tiba-tiba saja di pelintir oleh Gelan. Raksa teriak kesakitan, membuat beberapa tamu yang mendengar teriakan itu melihat ke arah mereka.

Beberapa satpam dan pengawal yang sudah di panggil oleh Willy datang, satpam dan pengawal itu memegang tangan semua keluarga dari pamannya Trianna. 

"Lepaskan!" teriak mereka memberontak.

"Tunggu saja pembalasan kami, Trianna!"

Satpam dan pengawal berhasil membawa keluarga pamannya keluar, Trianna memegang kepalanya pusing, dengan sigap Bryan menahan tubuh Trianna agar tidak terjatuh. Mereka semua menatap Willy meminta jawaban.

"Aku---" Belum sempat Willy menjawab, sebuah bom meledak di dalam gedung itu. Ruangan itu bergetar akibat ledakan bom.

Mereka terkejut saat mendengar sebuah ledakan, para tamu berteriak histeris lalu berlari meninggalkan ruangan. Bryan melindungi Trianna dan Baslano melindungi Beatrice. Mereka ikut berlari keluar dari ruangan untuk menyelamatkan diri.

Saat sudah berhasil keluar dari gedung itu, sebuah ledakan kembali terdengar. Beberapa mobil pemadam kebakaran sudah berada di luar gedung dan beberapa mobil ambulance untuk mengevakuasi para tamu undangan.

Mereka kembali terkejut saat melihat mobil-mobil pemadam dan ambulance yang sudah berada di luar gedung.

"Siapa yang memanggil pemadam kebakaran dan ambulance?"

Seseorang berjubah hitam tersenyum miring, lalu berjalan pergi dari sana.

.
.
.

To be content.

Hai hai gengs, maaf ya gengs kemarin-kemarin belum sempet buat update hehe.

Gimana nih gengs part ini?

Kira-kira siapa ya orang itu? Dan siapa dalang dari pengeboman itu?

Tunggu aja di next part ya gengs, hehehehe.

Jangan lupa vote, komen, dan follow akun wp aku buat info update dari cerita ini gengs. Terimakasihhhh.

IMAGINATION [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang