35 - Persidangan.

1.8K 60 0
                                        

Gengs, part ini aku percepat aja jadi langsung sidang yaaa, biar cepet trus gak pusying, hehehehe.

Happy Reading.

1 minggu kemudian ...

Setelah menerima permintaan dari polisi untuk membuat surat tuntutan, kejaksaan langsung membuat surat tuntutan dan mengajukannya ke pengadilan. Hakim yang telah menerima surat tuntutan langsung menentukan hari persidangan. Persidangan itu di laksanakan tepat hari ini, pukul 9 pagi.

Bryan dan Baslano sudah sepakat untuk menyewa pengacara yang sangat hebat, pengacara itu bernama Hiro Yamada, berusia 29 tahun berasal dari negeri sakura, Jepang. Hiro sudah lama menetap di Amerika, sejak ia melanjutkan s2 hukum di universitas New York. Walaupun usianya masih tergolong muda, Hiro terkenal dengan kecerdasannya dan ketelitiannya. Sudah banyak kasus terkenal yang di tangani oleh Hiro, salah satunya pembunuhan berantai yang sempat menggemparkan seluruh negeri kala itu.

Jam menunjukkan pukul 9 pas, Bryan, Trianna, Baslano, dan Beatrice masuk ke dalam ruang sidang dan duduk di bangku-bangku sebelah kanan. Gelan dan Willy juga ikut duduk untuk menyaksikan sidang itu.

Pintu ruang sidang terbuka, terlihat kedua orangtua Raksa masuk ke dalam ruang sidang bersama seorang pengacara. Di belakang mereka ada Resta, Raden dan Roselina yang datang untuk melihat sidang. Mereka semua duduk di bangku-bangku sebelah kiri.

Bryan menoleh ke arah Baslano yang duduk dengan tenang di samping kiri Beatrice. Baslano melirik sekilas ke arah putranya, lalu menghembuskan nafasnya pelan. Baslano tidak terlalu yakin kalau Hiro akan datang ke persidangan itu, mengingat susah sekali untuk menghubunginya saat itu.

Baslano menatap ke arah putranya, mulutnya berkata, 'Pasti dia akan datang.' Tanpa mengeluarkan suara.

Seketika Bryan merasakan seluruh tubuhnya menegang, merasa cemas, lumayan takut kalau Hiro tidak akan datang. Trianna yang duduk di samping Bryan menyadari kalau tubuh Bryan menegang. Trianna menggenggam tangan Bryan berusaha memberi kekuatan, Bryan menoleh lalu tersenyum tipis.

Pintu ruang sidang kembali terbuka, mereka semua melihat ke arah pintu. Terlihat seorang pria berjas rapih, muka pria itu tampan, alisnya agak tipis, iris matanya berwarna cokelat gelap, hidungnya mancung, bibirnya agak tebal, rahangnya tegas, kulitnya berwarna kuning langsat khas orang Asia, rambutnya berwarna hitam dan potongan rambutnya rapih membuat penampilannya terlihat berkharisma dan berwibawa.

Pria itu berjalan masuk bersama beberapa orang di belakangnya, terlihat ia membawa beberapa berkas-berkas penting di tangannya. Baslano dan Bryan menghela nafas lega saat melihat orang yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang.

Hiro duduk di kursi meja untuk penuntut umum yang berada di sebelah kanan depan meja hakim. Sementara pengacara dari keluarga Raksa, duduk di kursi meja penasihat hukum yang berada di sisi kiri depan meja hakim.

Panitera masuk ke dalam ruang sidang, "Hakim memasuki ruang sidang, hadirin di mohon untuk berdiri!" Setelah mendengar teriakan itu, semua orang berdiri.

Hakim masuk ke dalam ruang sidang dari pintu khusus dan duduk di posisinya yang terletak di tengah-tengah. Semua orang kembali duduk di bangku mereka setelah panitera mempersilahkan untuk duduk kembali, hakim mengatakan bahwa sidang telah di buka lalu mengetuk palu 3 kali sebagai tanda persidangan di buka.

Raksa bersama beberapa petugas masuk melalui pintu khusus, kedua tangan Raksa di borgol. Raksa duduk di kursi yang berada di depan meja hakim sebagai terdakwa. Lalu persidangan di mulai.

Proses persidangan berjalan, hakim menanyakan beberapa pertanyaan kepada Raksa, Raksa hanya menjawab seadanya saja. Sampai di proses pembacaan surat tuntutan, jaksa penuntut umum berdiri membacakan surat tuntutan.

IMAGINATION [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang