Gadisya si baik, si cerdas, si berbakat dan si pemilik jalan kehidupan yang sempurna, semua orang tahu itu, selalu begitu sejak dulu. Ia mendapatkan banyak cinta dari orang banyak.
Sedang Dewa anak lelaki manis yang kini terkenal sebagai si berandal...
Sungguh bahagia orang yang mendapatkan cinta, tapi jauh lebih berbahagia bagi mereka yang mencintai dan cinta itu terbalas. Lalu bagaimana nasib mereka yang ditolak hanya ada dua pilihan melepaskan atau terus berjuang dengan harap tak pasti. Menyedihkan memang, tapi sabar masih jauh menyedihkan bagi mereka yang cintanya sebatas dalam diam.
Tapi beda cerita dong kalau berbicara tentang seorang Sadewa Arjuna, ga ada namanya gagal kalau tentang cinta seperti namanya ialah sang arjuna spesialis cinta. Tidak susah bagi Dewa untuk dicintai. Wajahnya rupawan, bertalenta, kalau soal harta jangan diragukan lagi, sudah menjadi artis terkenal sejak usia kanak-kanak membuat pundi-pundi hartanya menumpuk di setiap bank belum lagi asetnya yang ada dimana-mana. Ibaratnnya orang lain perlu yang namanya pdkt, tapi untuk Dewa dengan sebuah senyum tipis saja wanita manapun bisa jatuh hati, tidak ada kata susah baginya untuk mendapatkan sebuah perhatian dari kaum hawa.
"Kamu mikirin apa sih?" melihat lingkaran tangan di lengannya Dewa hanya tersenyum tipis, sudah biasa menerima perlakuan wanita yang beraneka macam, dari genitnya, manjanya, sampai galaknya, walau hanya satu yang galak sekali gak jauh beda dari macan kalau menghadapinya, hanya gadis kecil itu.
"Ga mikirin apa-apa, by the way ini kita mau kemana sih?" wanita di sampingnya tampak berpikir, sebenarnya sudah sejak awal pergi ia bertanya tapi wanita itu belum juga menyebutkan tujuannya dengan jelas, selalu dijawab, "Jalan dulu saja".
"Terserah kamu aja deh, yang penting sama-sama kamu," Dewa tersenyum dongkol mendengar jawaban wanita itu, bagaimana bisa wanita itu sudah mengganggu waktunya hanya untuk jalan-jalan ke suatu tempat yang masih abstrak karena kata terserah. Untung cantik lo, ga bete banget lah gue.
"Makan aja gimana? Ke Restoran Itali daerah pusat? Ada resto punya teman aku baru buka." tawar Dewa, wanita itu tampak berpikir lagi.
"Ke Arena Plaza aja yuk, bisa makan, bisa nonton, bisa belanja juga, ada toko branded baru buka minggu lalu di sana, gimana?" tawar wanita itu dengan riang membuat Dewa makin besar menelan dongkol, benar-benar ya wanita ini, ini dia sedang dikerjain kah? Dari tadi kek bilang mau ke mall. Ini mobil sudah menuju daerah pusat, Arena Plaza daerah selatan, balik arah jadinya.
"Kamu marah ga kalau balik arah? Agak macet lho kesana."
Dewa segera menampilkan senyum manisnya, "It's okay pretty, apa sih yang ngga buat Raninanya aku," wanita itu—Ranina tersenyum senang lalu memeluk Dewa.
"Ohoo wait pretty, aku lagi nyetir," Ranina segera melepas pelukannya dan tersenyum meminta maaf.
"Aku nyalain radio ya, Wa," Dewa mengangguk mengizinkan.
Saat pertama kali menyalakan radio yang pertama kali terdengar adalah sebuah podcast yang sedang membahas rumor skandal tentang Dewa yang menjalin kasih dengan artis lawan mainnya di drama terbaru, Ranina yang tak lain seorang janda muda dari seorang pengusaha yang bercerai dengan alasan yang tidak jelas, tentu hal ini mengundang kontroversi di tengah masyarakat. Dewa melirik air wajah Ranina. Ia tampak murung mendengar berita negatif itu.
"Kalo berita itu ga bener ngapain diambil pusing sih? Chill aja Ran," ujar pemuda itu santai.
"Maksud kamu?"
"Kita ga seperti yang diberitakan, kan?"
"Memangnya kita apa?"
Dewa menoleh pada Ranina sekilas lalu bergumam,"Ya jelas lah kita teman, teman emang ga boleh deket?" saat itu Ranina melihat raut tenang Dewa seolah itu ungkapan paling tulus dari hatinya. Wanita itu tertawa kecil, ia kini sadar di mata seorang Dewa kedekatan mereka selama ini tak ada yang spesial ia tak lebih dari sekadar rekan kerja, dan teman saat bosan. Ah begini rasanya jadi wanita-wanita itu.
Bukan satu dua orang wanita yang dekat dengan lelaki ini, dan dari semuanya tampaknya tak ada yang spesial di mata lelaki itu, semuanya sama, sama-sama penghiburnya kala bosan, temannya bersenang-senang. Jahat memang, tapi siapa suruh menggantung harap pada ilusi manis lelaki. Ujung-ujungnya hanya fatamorgana.
Akhirnya sudah mulai kenalan ya sama visual tokoh, kebetulan beliau ini yang aku jadikan sosok Sadewa Arjuna.
Sejauh ini gimana?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.