Gadisya si baik, si cerdas, si berbakat dan si pemilik jalan kehidupan yang sempurna, semua orang tahu itu, selalu begitu sejak dulu. Ia mendapatkan banyak cinta dari orang banyak.
Sedang Dewa anak lelaki manis yang kini terkenal sebagai si berandal...
"Nah Ra, gue udah hubungin semua yang terlibat sama drama Arunika, dan syukurnya, respon mereka positif banget," Dara hanya mengangguk-angguk saja dengan wajah kuyu khas orang yang kurang asupan tidur. Kemarin ia harus lembur sampai menjelang pagi untuk memeriksa keuangan kafenya bulan ini, beginilah kalau pemilik kafe kecil, semua tugas baik dari pemilik, manajer, dapur, sampai keuangan diemban seorang diri.
"Terus Ra, mereka bilang bakal luangin waktu buat ikut acara ini, keren ga tuh?" Dara mengangguk lagi, kelopak matanya terasa berat, padahal ia tak pakai bulu mata extention kali ini.
"Ra menurut lo kita pakai studio Link TV apa nyewa gedung lain buat presscon?" Dara sudah tak begitu lagi mendengar suara Rendra dengan jelas. Samar.
"Ra? Dara? Lo kenapa sih dari tadi ngangguk-ngangguk doang, ngeh ga nih dari tadi gue ngomong?"
"Gue ngantuk Ren, lo ah pagi-pagi gangguin gue, udah lo urus saja elah, gue mana bisa sanggah kemauan lo?" Rendra hanya menampilkan cengirannya, ia hanya terlalu bersemangat dengan acara reuni ini. Obrolan mereka terhenti saat seorang pelayan datang mengantarkan mereka dua gelas kopi, hal yang sangat Dara butuhkan sekarang ini.
"Makasih mbak," ujar Rendra dengan senyuman manis menyambut minuman dari pegawai Dara, sedang Dara menatap malas pada Rendra yang kini tersenyum manis penuh motif tersirat, yang namanya cowok memang ga bisa ya liat yang bening sedikit.
"Cantik juga pegawai lo, Ra," puji Rendra setelah pegawai Dara berlalu dari hadapan mereka. Dara berdecak sinis melihat tingkah ganjen Rendra yang tak pernah berubah. Ia lebih memilih mengabaikan Rendra, wanita itu meraih gelasnya mencampur sedikit gula, lalu meneguknya setelah menuangkan sedikit di piring kecil, salah satu kebiasaan Dara saat menikmati kopi.
Rendra tersenyum melihat gaya mengopi Dara, itu adalah gaya yang ia ajarkan dulu sekali saat mereka masih satu UKM di kampus, "Di umur kita sekarang ini udah tahap siaga cari pasangan lho, apalagi lo cewek sering diteror katanya, se-anti romantic-nya lo nih masa sih ga ada cowok yang lo sukain selama ini?" Rendra memang sangat penasaran dengan kisah cinta teman semasa kuliahnya ini. Selama ia mengenal sosok Dara tak pernah ia dengar kabar asmara Dara. Rasa-rasanya tidak mungkin wanita cantik, baik dan cerdas seperti Dara tak ada yang mendekati. Sedang Dara hanya tersenyum tipis, memilih tak menanggapi pertanyaan yang sangat dihindarinya.
***
Malam ini Dewa memilih tak lagi cuti menghabiskan waktu di club malam Winter Days, tempatnya selama ini menghabiskan malam yang panjang dan riuh. Lelaki itu tampak tak terusik dan memilih duduk tenang di sofa sudut club menikmati segelas minuman pesanan favorit di tangannya. Sedari tadi banyak wanita yang melirik ke arahnya, menawarkan malam yang menyenangkan. Tapi tak satupun yang undangannya Dewa terima ia hanya menonton dalam sudut gelap.
"Ga turun bro?" tanya Jeremy sambil menununjuk Kevan dan Rehal yang sedang berdansa dengan dengan wanita penghibur yang memang sudah menjadi langganan mereka.
Dewa terkekeh sambil menggeleng, "Ada masalah apa si Kevan?"
Jeremy menyeringai, "Biasa berantem sama ceweknya, tenang ditemenin Rehal kok dia."
"Jangan aja Mischa tahu, mampus juga kita. ikut di amuk dia, dikira kita ynag ngajakin padahal emang cowoknya yang sebelas dua belas sama kita," Jeremy hanya tertawa sambil mengambil duduk di hadapan Dewa menikmati minumannya yang sedari tadi sudah diantarkan di meja.
"Ya bagaimana ga bakal jeleous-jeleous-an mulu, backstreet sih,"
"Ya emang si Kevan goblok aja." Mereka kembali membicarakan serunya perseteruan sahabatnya dengan sang kekasih. Obrolan mereka terhenti saat ada seorang wanita cantik mendatangi mereka.
"Sorry, gue boleh minta tolong?" Dewa dan Jeremy hanya saling berpandangan.
***
Flashback
Setelah puas menangis Disya kecil akhirnya memilih keluar dari tenda itu, ia menoleh ke sekeliling. Mencoba kembali tempat tadi Aunty Eca meninggalkannya. Ah ternyata ia tidak pergi terlalu jauh, ini hanya sisi seberang tempat awalnya. Buktinya tidak lama ia menemukan pohon ketapang tempatnya melihat anak lelaki menyebalkan tadi. Disya memilih duduk di bangku kayu di bawah pohon ketapang itu. Kaki kecilnya yang tidak jejah ke tanang menendang semak rendah. Matanya tak sengaja menangkap tumpukan kertas di sudut kaki bangku, apa ini milik anak laki-laki itu?
"Disya!" Disya menoleh dan mendapati wajah cemas Aunty Eca.
"Kamu kemana aja sih sayang, aduh bikin panik, kirain anak orang diculik, ini kenapa juga, baju kamu kotor, nanti sebelum casting kita ganti baju dulu ya," Disya hanya meringis mendengar omelan Aunty Eca, tantenya ini memang terkenal cerewet, pantas saja sering diputusin pacarnya.
"Ya udah yuk kita temuin om sutradaranya, di sana juga ada lawan main kamu," Disya hanya mengikuti langkah tantenya tak lupa membawa kertas naskah yang ditemukannya.
Dari jauh Disya dapat melihat beberapa orang dewasa yang sedang mengobrol, Aunty Eca tampak menyapa mereka ramah, "Oh ini namanya Disya? Kenalin nama om, Gino, ini asistem om namanya Rendra dan ini penulis naskah, Dara," Disya hanya mengangguk lalu menyalimi mereka satu persatu.
"Lucu banget sih kamu dek, nanti kalau kamu udah gede, pingin deh jadiin kamu pemain utama di film abang."
"Abang? Untuk anak seusia dia, lo lebih pantes dipanggil om," hardik Dara, Rendra hanya merungut.
"Disya, kenalin ini bakal jadi teman kamu, namanya Sadewa Arjuna," Disya terkejut saat melihat anak lelaki yang tadi menolongnya, ah tidak anak lelaki yang memarahinya.
"Panggil aja Dewa," ujarnya singkat mengenalkan diri. Setelah orang dewasa itu pergi untuk mengurus hal lain, mereka ditinggal berdua. Mereka memilih sibuk dengan pikiran masing-masing. Dapat ia lihat anak lelaki itu hanya menatap ke bawah ke arah kedua sepatunya. Ah Disya baru sadar sepatu lelaki itu juga kotor mungkin karena ikut lari bersamanya. Bagaimanapun walau menyebalkan, lelaki manis ini telah menyelamatkannya.
"Ini punya kamu kan?" Anak laki-laki itu tampak terkejut saat tumpukan kertas disodorkan ke arahnya, menghalangi arah pandangnya dari kedua sepatunya.
"Maaf soal tadi dan makasih banyak ya," sejak hari itu dua orang itu memiliki hubungan cukup rumit dan membingungkan tapi juga lucu, mereka tak akan pernah akur dalam jarak kurang dari semeter, tak pernah cocok dalam segala hal tapi entah mengapa mereka selalu berhasil untuk saling mengerti.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Say hi to Winter Day's boys Kevan, Rehal, Jeremy and Dewa