Baru saja lima menit yang lalu Disya sampai di studio tiga Link TV, dan yang pertama kali menjadi tujuannya adalah ruangan sahabat dekatnya sejak dulu. Sudah lama tidak bertemu karena sahabatnya itu sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan film terbaru. Kalau tidak disempat-sempatkan sekarang mungkin bisa menunggu berbulan-bulan lagi ketemunya. Bukannya sok sibuk tapi memang keduanya sangat amat sibuk.
"Disya!" mendengar namanya dipanggil, Disya menoleh dan langsung bersorak riang.
"Mischaaaaa!!! Ih gue kangen banget sama lo," layaknya para cewek-cewek kalau bertemu, pelukan, cipika-cipiki, ketawa-ketiwi dan bakal berujung sama...
"Ih lo tahu ga sih, Dis?
Mulai...
"Ada gosip baru apa nih?" Wanita berperawakan blasteran itu mengerling tanda banyak sekali info baru yang ia punya.
"Kebiasaan deh Mischa kalo ketemu gosip mulu yang dikumpulin sama saja kaya Aunty, lo sendiri sama Kak Kevan gimana?" Langsung saja Mischa panik dengan pertanyaan Disya, masalahnya ia dan lelaki yang baru saja Disya sebut namanya masih dalam masa backstreet demi menghindari amukan penggemar Kevan yang terkenal bar-bar dan protektif dengan idolanya. Disya hanya tertawa melihat ekspresi panik Mischa, kasihan sekali sahabat kecilnya ini harus terjebak pada hubungan yang tak diakui, risiko public figure.
"Ngaso ke ruangan gue aja yuk, sambil nunggu mulai take," Disya hanya mengekor, memang sudah biasa kalau artis kelas A pasti akan disiapkan ruangan tersendiri yang lebih privasi dan lebih nyaman tentunya. Itu sudah hukumnya, layaknya penghargaan atas kedudukan yang sudah dicapai. Dulu juga saat masih artis baru mereka sudah merasakan pahitnya, harus masuk ke ruangan yang sempit dengan isi yang ramai berbagi artis lain. Harus menunggu lama sampai bisa take.
"Dis denger-denger dapat tawaran syuting sama Kak Rayyan ya?" Disya yang sibuk mencicipi berbagai cemilan rendah kalori di ruangan Mischa seketika menoleh lalu mengangguk. Ah beritanya sudah menyebar ya? Cepat juga. Padahal tak ada update apapun dari pihaknya. Kemungkinan pihak perusahaan Rayyan yang speak up.
"Wah beruntung juga lo punya kesempatan satu frame sama Kak Rayyan, mana ini proyek gede, expose buat lo bakal gede ini, kayanya ketebak yang bakal dapat penghargaan akhir tahun ini."
"Penggemar kita bakal berantem ga ya? Kaya waktu 'Once' rival-an sama 'Mengejar Bulan'."
Mischa tertawa keras mengingat acara award setahun lalu saat dua film yang mereka bintangi menjadi nominasi film terbaik, "Anjirlah fans kita kenapa ganas banget ya, panas banget TL gue, mau happy-happy tahun baruan jadi ga bisa gue tiap muncul dirujak mulu kita, eh tapi Dis sudah ketemu Kak Rayyan belum? Dia beneren ekslusif banget ya? Jarang banget muncul, seganteng dan se-gorgeous itu memang?"
"Gue bilangin Kak Kevan nih ya, lagian gue ga seobsesif itu sama om-om," sontak Disya mengaduh saat Mischa memukul lengannya gemas.
"What? Gila lo ya? Ya kali Kak Rayyan om-om, masih 27 cuy, lagi mateng-matengnya itu mah."
Tetap saja bagi Disya umur 27 sudah cukup tua untuk bersanding dengannya. Hampir seumuran dengan adik mamanya, Om Fian yang hampir mencapai kepala tiga.
***
"Lo masih ingat sama projek kita 'Arunika'?" Dara mengangguk pada sahabatnya yang sedang duduk santai di hadapannya, sahabatnya ini tumben sekali mengunjunginya.
"Gak kerasa ya udah sepuluh tahun saja sejak penayangan pertama," ucap sahabatnya Rendra.
"Tumben banget ngunjungin kafe gue, masuk ruangan gue juga tanpa permisi lagi," Rendra hanya tertawa dengan ucapan sinis wanita bertubuh kecil yang dulu sangat sering dicepol rambutnya dengan jaket denim yang lengannya dilipat sampai siku kini ia lebih sering terlihat dikucir kuda dengan pakaian kasual, satu-satunya yang tak berubah masih setia dengan kacamatanya itu walau sudah dipakai sejak kuliah. Ia juga tak habis pikir setelah empat tahun tidak bertemu apakah pernyataan seperti itu yang harus didengarnya, bukannya menanyai kabar, sahabatnya ini memang unik.
"Seharusnya lo nanyain kabar gue setelah lo tinggalin begitu saja resign empat tahun lalu," seperti kebiasaanya Dara hanya melirik sekias lalu menghela napas.
Dara sudah menduga hidup Rendra pasti baik-baik saja, produser senior televisi swasta terbesar yang di tiap acara survival atau kalau ada program TV yang lagi viral pasti muncul Rendra. Bahkan awal tahun lalu lelaki itu sempat terkenal karena menangani event kenegaraan yang sukses besar.
"Curang banget lo, lo masih bisa ngeliat gue di TV, tapi lo? Setelah menghasilkan karya besar 'Arunika' malah menghilang dan terdampar di sini. Padahal lo punya potensi untuk menulis drama-drama fenomenal lagi, jadi kan drama-drama televisi Indonesia bisa lebih berkualitas gak seperti sekarang yang lebih mengandalkan gimmick pemainnya."
Tersenyum tipis, dari dulu hanya jawaban seperti itu yang Dara berikan setiap orang menanyai hal semacam mengapa mengundurkan diri dari dunia menulis dan perdramaan televisi. Padahal jika bertahan bisa saja ia kini menempati posisi strategis perusahaan saat ini. Kini ia malah hanya menjadi owner kafe biasa.
"Gue rasa sudah cukup mengabdi dalam dunia menulis selama lima belas tahun, sudah cukup lah, giliran mereka yang muda, gue cukup jadi penikmat di depan layar kaca," Rendra hanya menggeleng masih bingung apa sebenarnya alasan sahabatnya ini tak lagi menulis naskah drama rasanya masih belum juga puas dengan jawaban konsiste bertahun-tahun lalu itu, rasanya masih ada yang kurang, ada yang ganjil.
"Tapi ngomong-ngomong berdasarkan survei penonton yang perusahaan kami buat tiga bulan lalu, orang-orang masih nempatin Arunika sebagai drama nomor satu, karya lo masih sangat dicintai, bahkan sampai hari ini banyak banget yang minta dibuatin sekuel, perusahaan juga sering nayangin lagi, banyak yang mau beli hak ciptanya tapi kami ga mau, banyak yang bilang sayang banget lo ga jadi bikin sequenya, mungkin mereka bakal seneng kalau sequel kemarin jadi dibuat."
Dara menggeleng tak setuju menurutnya, sebuah drama suskses bukan hanya karena ceritanya tapi karena pendukung cerita yang juga luar biasa, dari para pemeran, sutradara dan kru. Banyak sekali drama di luar sana yang punya alur cerita yang bagus tapi karena pengemasan yang kurang matang membuatnya menjadi tak menarik dan tak bertahan lama di hati pemirsa bahkan dilirik pun tidak, eksekusi itu tidak kalah penting. Ada pula yang cerita dan pengemasannya sudah baik, dan mendapat perhatian luar biasa dari pemirsa tapi sayang mereka menjadi terbuai sehingga cerita dibuat memaksa dan tak sesuai alur awal, pada akhirnya lihatlah pemirsa pun sadar dan mulai meninggalkan drama itu. Jadi menurutnya porsi yang pas juga tidak kalah penting.
"Pada dasarnya drama yang luar biasa adalah drama yang memegang prinsipnya bukan drama yang terikut arus ambisi rating," Rendra mengangguk menyetujui.
"Gue akui idealitas lo ini yang sudah jarang banget gue temuin di penuis baru, by the way Ra, selain kangen sebenarnya gue datang ke sini karena ada hal yang ingin diskusikan."
"Tentang apa?"
"Sesuatu yang gue mau lo benar-benar harus terlibat, kalau lo ga ikut gue juga ga akan acc," Dara menaikkan bingkai kaca matanya menyedekapkan kedua tangannya di atas meja khasnya bila tengah serius.
"Projek Reuni Arunika."
KAMU SEDANG MEMBACA
Arunika (Haechan)
Ficción GeneralGadisya si baik, si cerdas, si berbakat dan si pemilik jalan kehidupan yang sempurna, semua orang tahu itu, selalu begitu sejak dulu. Ia mendapatkan banyak cinta dari orang banyak. Sedang Dewa anak lelaki manis yang kini terkenal sebagai si berandal...
