Disya dapat lihat suasana cukup gelap dan sepi sesaat setelah ia keluar area venue menuju ke toilet, sedikit menyesal ia saat itu juga, harusnya ia terima tawaran Mischa untuk menemaninya. Belakang panggung cukup sepi karena sekarang ini, orang-orang sedang mencuri kesempatan menonton penampilan salah satu girl band korea yang katanya sangat dielu-elukan sampai ke Amerika sana. Kapan lagi bisa melihat mereka tampil di Indonesia dengan segudang jadwal menumpuk. Beruntunglah salah satu petinggi Link TV berhubungan baik dengan orang-orang agensi di Korea Selatan sana, sehingga bisa mendapat kesempatan menghadirkan artis mereka.
"Eh ketemu lagi sama penyihir kecil," Disya mengangkat bahunya lalu mengelus dada meredakan rasa terkejut karena sapaan mendadak si makhluk chocoball, siapa lagi kalau bukan, Sadewa Arjuna sesaat setelah keluar dari bilik toilet. Disya menatapnya sinis menambah bumbu tatapan tanya.
"Eit gue juga baru saja keluar toilet juga kok, by the way dari tadi lo diem-diem aja, kurang sajen lo?" Disya masih dengan pendiriannya, berusaha mengabaikan keberadaan Dewa. Malahan kini Disya melanjutkan langkahnya, kembali ke tempatnya. Tapi satu yang perlu kalian ketahui, Dewa bukan orang yang mudah menyerah.
"Kenapa sih Dis? Gue salah apa? Kenapa gue lo asingin gini?"
Disya masih diam berusaha mengabaikan, tapi Dewa tetap kekeh menahan pergelangan tangan gadis itu, "Gue menjijikkan banget ya di mata lo, ga level lagi ya ngeladenin orang penuh kontroversi kaya gue? Gue sudah bukan sahabat lo lagi ya kaya Mischa, Link TV yang sempat buang gue, dan lo juga gitu?" Disya menatap Dewa terkejut, menahan jas lelaki itu saat ia mulai beranjak meninggalkannya dengan wajah kecewa.
"Di buang? Maksudnya apa Wa?" Dapat Disya lihat perubahan riak mata Dewa yang sedikit meredup, apa yang sudah ia lewatkan?
"Lah itu bukannya Mbak Disya sama Mas Dewa ya?" Dewa dan Disya kompak menoleh melihat seseorang yang memergoki mereka berdua. Tampaknya ia adalah wartawan tabloid gosip lokal, terlihat dari logo bagian dada pada seragamnya.
"Mbak Disya sama Mas Dewa apa mojok di tempat sepi gini berduaan?" Dewa dan Disya saling berpandangan panik, ini gawat! Wartawan itu sepertinya salah paham dan mulai merangkai opini sendiri. Tiba-tiba Dewa menariknya tangan Disya dan gadis itu hanya pasrah mengikuti langkah lebar Dewa yang membuatnya kewalahan.
***
"Kok lo bawa gue ke mobil lo sih?" Protes Disya sembari sibuk mendesah frustasi kala menemukan bercak debu di ujung gaunnya, Dewa mendecak malas.
"Mau kemana lagi? Tadi udah kepepet cuman ke arah parkiran yang aman, lo mau digosipin aneh-aneh sama dia, gue sudah banyak dapat gosip ngawur gara-gara tu orang, inget banget gue sama tuh orang satu, udah dari dulu gue tandain memang, untung saja tadi dia ga bawa kamera, aman kita."
"Itu alasan gue ngacuhin lo," Dewa yang sedari tadi masih mengawasi keadaan kalau-kalau sempat terkejar oleh wartawan gila itu sontak menoleh, ia dapati Disya yang menatapnya dengan tatapan menyesal.
"Maaf ya Dewa, bukannya ga mau berteman lagi sama lo, atau buang sahabat lama, gue cuman takut. Cukup sekali gue dimaki pelakor, saat ga sengaja ngobrol sama lo di mall di mana saat itu lo juga masih jadi pacar Tiara."
Dewa menghela napas, ia ingat beberapa tahun lalu kali terakhir ia bertemu Disya di sebuah mall. Mereka masih berhubungan baik saat itu bahkan sampai makan bareng di sebuah toko donat terkenal, tidak hanya berdua juga, toh saat itu Disya ditemani manajernya begitupun dirinya. Tapi satu jam setelah foto itu beredar. Namanya dan Disya langsung melesat ke pencarian utama dan berita semakin panas karena saat itu hubungannya bersama salah satu putri produser terkenal yang juga menjadi penyanyi pendatang baru dikabarkan merenggang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arunika (Haechan)
Narrativa generaleGadisya si baik, si cerdas, si berbakat dan si pemilik jalan kehidupan yang sempurna, semua orang tahu itu, selalu begitu sejak dulu. Ia mendapatkan banyak cinta dari orang banyak. Sedang Dewa anak lelaki manis yang kini terkenal sebagai si berandal...
