Burning Night

1.7K 197 55
                                        

Ruang apartement seketika menjadi sepi setelah pemiliknya undur diri untuk pergi ke kamarnya, meninggalkan Shikamaru dengan wajah yang memanas. Pemuda berambut nanas baru saja melontarkan pujian yang tak pernah dipikirkannya akan keluar dari bibirnya yang terbiasa bungkam, enggan menyanjung meski hanya sekedar basa-basi. Tapi entah mengapa kalimat seperti tadi terlontar begitu saja dari bibirnya.

​"Hah, sungguh memalukan—" keluhnya, memegangi keningnya yang berkedut.

​Shikamaru merobohkan diri ke sandaran sofa, dengan wajah menengadah ke langit-langit. Bagaimana bisa ia terus-terusan kembali ke ruangan ini, tanpa tujuan dan maksud yang jelas, seperti sekarang.

​Apa yang dia harapkan dariku, dan—apa yang aku harapkan darinya?

​Pintu kamar terbuka. Shikamaru menaikkan kepala dan tertegun melihat gadis bersurai merah muda yang kini telah menanggalkan outer dan memperlihatkan kulit putih bersihnya yang berkilau di bawah cahaya lampu.

​Shikamaru segera membuang pandangan saat Sakura kembali duduk di sebelahnya.

​"Ekhm, kau, besok masuk kerja?"

​Sakura terdengar kikuk saat mengajukan pertanyaan konyol itu, membuat Shikamaru menoleh padanya.

​"Tentu saja. Memangnya kau tidak?"
​Sakura berdehem pelan. "Tentu saja, aku hanya memastikan."

​Suasana kembali hening. Sakura mengatasi rasa malunya dengan meraih cangkir dan meneguk minuman. Setelah membasahi kerongkongannya dengan air, ia mengembalikan cangkir ke atas meja dan duduk bersandar di sofa, dengan tubuh menghadap Shikamaru.

​Shikamaru yang merasa diperhatikan menjadi salah tingkah. "Ja—jadi apa yang akan kita lakukan?" ucapnya gugup, tidak membalas tatapan Sakura.

​"Belum ada yang terpikir olehku."

​Jawaban jujur Sakura membuat Shikamaru melongo sesaat. "Hah? Jadi kau mengajakku kemari tanpa rencana apapun?"

​Gadis itu menyemburkan tawa. "Rencana? Apa-apaan itu? Memangnya aku harus menyusun rencana segala sebelum mengajakmu kemari?"

​Lalu kau mengajakku kemari untuk apa, hah?

​Melihat Shikamaru yang hanya mendengus, membuat Sakura menelengkan bagian samping kepalanya untuk menyender di sandaran sofa, sambil menatap pria disampingnya lekat.

​Shikamaru menoleh. Kini mata sayunya menangkap raut lelah dari mata emerald Sakura. Ia baru menyadarinya sekarang.

​"Jika kau lelah, istirahatlah. Kenapa malah mengundangku kemari—"

​"Kau salah." Potong Sakura cepat, membuat Shikamaru mengernyit. "Kupikir kau orang yang cerdas, namun rupanya tidak secerdas itu ya, Shikamaru." Ia menyeringai, meledek. "Apa aku tampak seperti seseorang yang hanya butuh tidur untuk meredakan rasa lelahku?"

​Ucapan Sakura membuat Shikamaru tertegun sesaat.

Ya, aku tahu dia lelah. Aku juga tahu bahwa tidur saja tidak akan menghilangkan lelahnya. Tapi—apa yang bisa aku lakukan jika dia sendiri tak mengatakan apapun tentang rasa lelahnya itu?

​"Lalu apa yang kau—"

​"Aku hanya butuh kau duduk disini bersamaku. Cukup temani aku sebentar."

​"Hah, baiklah. Aku hanya perlu duduk saja, kan?" Shikamaru menyerah melawan gadis merah muda itu.

​Waktu berjalan sangat lambat. Selama itu, Sakura hanya duduk menatap Shikamaru, sedang pemuda itu mati-matian berusaha memandangi hal lain yang ada di sekitarnya. Dia sama sekali tidak tahu hal apa yang akan di jadikannya topik pembicaraan.

Can We Call This Love?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang