"Hei, berhenti menginjak kakiku." Pekik Temari saat lagi-lagi Shikamaru tak sengaja menginjak kaki gadis itu. "Hah, yang benar saja. Kau sudah melakukannya hampir sepuluh kali!"
Shikamaru mendengus sebal. "Kan sudah kukatakan, aku tidak bisa berdansa, tapi kau malah menarikku kesini." Keluhnya.
"Eh, lihat disana, bukannya itu Kazekage-sama? Siapa gadis cantik disebelahnya?"
"Itu Sakura-san, ninja medis yang terkenal dari Konoha—"
"Wah, cantik sekali—"
"Mereka terlihat sangat serasi, ya?"
"Apa jangan-jangan, gadis itu pacar Garaa-sama?"
Orang-orang disekitar mulai berbisik-bisik, membuat fokus Temari dan Shikamaru teralihkan. Gadis di hadapannya kini mengalihkan pandangan, mengarah ke sumber pembicaraan orang-orang. Sebuah seringai tipis muncul di bibirnyaa. Dan sungguh, dia terlihat sangat mencurigakan.
Apa lagi yang direncanakan gadis ini?
Shikamaru diam-diam menoleh ke arah Sakura dan Gara yang berdiri bersebelahan di tepi lantai dansa. Mereka terlihat sedang berbincang-bincang, meski hanya sesekali. Saat itulah Kankuro datang ke tengah keduanya, ikut mengobrol dan memecah kecanggungan.
Apa yang mereka bicarakan sampai Sakura terkekeh begitu?
Tak lama, setelah mereka bercakap-cakap. Akhirnya Kankuro melaksanakan misi rahasianya. Perlahan, dia mendorong Garaa dan Sakura ke lantai dansa. Tentu saja keduanya terkejut, sekaligus tak dapat mengelak.
"Ups, aku tak sengaja." Ucap Kakuro dengan wajah tak berdosa. "Ah, tapi karna kalian sudah menginjakkan kaki disana, kenapa tak sekalian saja ikut berdansa—"
Mereka benar-benar merencanakan sesuatu rupanya.
Shikamaru lagi-lagi merasa sangat diuntungkan. Ia tak perlu repot-repot memikirkan cara agar Sakura dapat berdansa dengan Gara. Dengan bantuan dari Temari dan Kankuro, semua berjalan mulus. Sepertinya mereka berdua benar-benar sudah merencakanakan hal ini dengan matang.
Banyak orang mulai bersorak dan memperhatikan keduanya saat memasuki lantai dansa. Musik yang awalnya terdengar biasa saja, kini entah mengapa berubah menjadi alunan instrumen romantis.
"Bukankah mereka tampak serasi?" Temari memecah keheningan. Dia menatap Gara dan Sakura dari kejauhan. "Bagaimana menurutmu, Shikamaru?" Pandangannya kembali mengarah ke Shikamaru. Kaki mereka masih berusaha mengikuti alunan musik yang mengalun begitu lambat, membuat Shikamaru kesal karna harus bergerak seperti siput.
"Entahlah—" ucapnya, jujur. "Aku tidak tertarik mencampuri urusan percintaan orang lain." Ia kembali menginjak sendal Temari, entah sudah untuk yang keberapa kalinya.
"Kyaa! Kau ini—" Kemarahan gadis itu menghilang secepat kilat saat mendengar orang-orang mulai berbisik lagi mengenai Garaa dan Sakura. "Hei, lihatlah, mereka tampak menggemaskan—" Temari tiba-tiba melepas sebelah tangannya dari bahu Shikamaru, kemudian menunjuk ke arah Garaa dan Sakura.
Penasaran dengan maksud kata 'menggemaskan' yang diucapkan Temari, Shikamaru ikut menoleh. Dan, TARA! Ia menemukan Garaa dan Sakura yang terlihat malu-malu saling menautkan jemari satu sama lain. Mereka bahkan menundukkan wajah, tak berani saling menatap. Gerakan kaki keduanya terlihat sedikit kaku dan canggung, menunjukkan kesan bahwa itu adalah pengalaman dansa pertama bagi keduanya.
Ya, sepertinya begitu, kan?
Tak ingin membuat pasangan serasi itu menjadi semakin canggung, para pedansa lain berinisiatif untuk mengambil jarak, memberi ruang bagi pasangan Garaa dan Sakura, agar keduanya dapat mengobrol dan bergerak lebih leluasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Can We Call This Love?
Fiksi Penggemar"Perempuan sangat merepotkan" Itulah yang selalu dikatakan Shikamaru. Ia tak memiliki niat bahkan pemikiran untuk menjalin hubungan dengan seseorang, meski jelas-jelas ada gadis yang amat menyukainya. Sampai suatu hari, Shikamaru harus terjebak di...
