First Meet

1K 94 11
                                        

Vernon. Si ekstrovert penyuka kesunyian menatap horor pada bayi dalam stroller yang tengah menatapnya dengan senyuman bak malaikat.

Jika kemarin bayi itu dititipkan dikantor, maka kini giliran si sepupu Seungcheol itu untuk mengurus Chan. Entah bagaimana saat ia pulang kerja jam empat sore ia menemukan Jeonghan tengah berdiri di tengah lobi apartemen dengan senyuman penuh arti. Dan benar saja, wanita itu ada memang karena ada maksudnya.

"Akhir-akhir ini kau sering di titipkan huh?" Tanya Vernon pada bayi sembilan bulan itu dan hanya di balas kekehan kecil.

Pemuda itu lalu menghela nafas dan kembali mendorong stroller keluar area gedung apartemennya. Niatnya sih mau ke minimarket membeli stok minuman dan cemilan. Sekalian menunggu Seungcheol yang kata Jeonghan akan datang menjemput.

Tin!! Tin!!

"Hua..... Mammaaa"

Tiba-tiba ada suara klakson mobil dari arah jalan dan membuat Chan terkejut, alhasil bayi itu kini menangis.

Vernon panik karena tangisan itu. Ia tak pernah menenangkan Chan yang sedang menangis sebelumnya. Jadi pri itu hanya merunduk di depan stroller Chan sambil menepuk dadanya. "Cup... Cup... Chan berhenti menangis. Tak apa, itu hanya mobil melintas"

"Huaaa.. daddaaa..."

"Aduh tadi mama sekarang dadda, bagaimana ini" gumam Vernon sambil menggaruk kepalanya. "Sudah ya sayang, berhenti menangis"

Vernon lantas menggerak-gerakkan stroller agar Chan mau diam. Tapi bukannya berhenti bayi itu malah semakin kencang menangis, bahkan sekarang mencoba bangun dari stroller seperti mau keluar.

"Mammaa.. dadda..."

"Aigoo Channie cup.. cup.. cup..."

"Ya ampun tuan! Anakmu menangis tapi kenapa tak kau angkat dan digendong?!"

Di tengah kebingungannya, seorang gadis berambut pirang mendekat pada Vernon dan tanpa izin mengangkat Chan.

"Hei nona-"

"Ssh... Berhenti menangis ya sayang.."

Vernon menahan ucapan peringatannya saat gadis berpipi bulat itu mendekap Chan dan menimangnya. Dan ajaibnya Chan langsung terdiam sambil menenggelamkan sebagian wajahnya di bayi si gadis.

"Lihat, anakmu bahkan langsung diam saat di peluk begini" ketua si gadis.

Vernon menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ah, itu dia-"

"Mamma.."

"Ah kau mau bersama mamamu sayang?" Ucap gadis itu sambil mengusap bekas air mata Chan dengan pelan, ia lalu mengubah cara pandangnya saat menatap Vernon. "Tuan. Sepertinya kau bukan tipe suami yang pandai mengasuh anak hingga anakmu mencari ibunya padahal dia sedang bersamamu! Lain kali sering-seringlah mengasuh anakmu agar ikatan kalian kuat dan anak betah denganmu!"

Pemuda setengah bule itu hanya melongo mendengar nasihat panjang si gadis. Apa-apaan gadis ini, berani sekali nyerocor begitu di depan orang yang tidak dikenal.

"Maaf nona tapi-"

"Vernon!!!"

Lagi-lagi ucapan Vernon terputus karena seseorang. Dan kali ini adalah suara ayah si bayi, Choi Seungcheol yang setengah berlari mendekat padanya.

"Dadda!!! Dadda!!!"

Chan memekik senang saat suara seseorang tersayangnya mendekat. Bayi itu mengulurkan tangannya dan mencoba lepas dari si gadis yang menatap Seungcheol heran.

"Aigoo baby," Seungcheol lalu meraih sang anak dan membawanya ke gendongannya, ia membungkuk singkat pada gadis yang tak ia kenal itu, "maaf merepotkanmu nona, terimakasih sudah membantu Vernon menjaga anakku. Apa kau teman Vernon?"

Chan the CupidTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang