"aku harus bagaimana Kak? Aku tak tau kenapa ucapan Mingyu sungguh mengganggu dan menyakiti hatiku. Aku bingung pada diriku sendiri, bukankah ini semua yang aku harapkan dari dulu? Tapi kenapa rasanya ada yang salah sekarang?"
Seungcheol tersenyum kecil mendengar curahan hati sang sahabat yang merangkap menjadi sekretarisnya itu. Tangannya mengelus rambut coklat Wonwoo dengan lembut. "Tidakkah kau berfikir Won, jika sebenarnya kau mulai terbiasa dengan efeksi Mingyu di kehidupanmu? Baik itu kehadirannya atau segala sikapnya. Cobalah mengalah dan tidak egois pada hatimu sendiri. Mencoba berjuang dengannya bukanlah sesuatu yang buruk. Mingyu pria yang baik dan bertanggung jawab, aku tau dia akan menjadi pasangan yang baik untukmu"
🐈😺🐈😺🐈😺
Wonwoo memasuki apartemen setelah jam menunjukan pukul sepuluh malam. Ia melepas sepatunya asal dan mendudukan begitu saja tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Sejenak ia tersadar jika lampu apartemen masih menyala, itu tandanya Mingyu belum tidur.
Setelah kejadian beberapa hari lalu di taman kantor, Wonwoo memang menghindari Mingyu. Bahkan rencana makan malam mereka dengan orang tua tunangannya itu terus di undur karena Wonwoo yang selalu mencari kesibukan. Entahlah, gadis itu ingin memastikan sesuatu pada dirinya sendiri sebelum akhirnya Mingyu benar-benar akan mengakhirinya hubungan mereka.
"Kau lembur lagi kak?"
Lagi. Memang kebiasaan Mingyu akan menaruh apapun yang dingin dipipinya saat dirinya tidak fokus atau sedang melamun.
Wonwoo membuka matanya yang semula tertutup dan menerima uluran sekaleng jus buah dari tangan pria itu sambil bergumam terimakasih.
"Sesekali proteslah pada kak Seungcheol untuk tidak memberimu kerjaan terlalu banyak hingga sering lembur. Kau wanita, dan tak baik jika diluar rumah hingga tengah malam" ceramah Mingyu sambil duduk di sofa yang berlainan.
"Tak apa, aku menikmatinya" jawab Wonwoo asal sambil meletakan kaleng jus yang tidak ia buka. Gadis itu lalu bangun dan siap untuk beranjak, sebelum akhirnya Mingyu kembali suara.
"Kau menghindariku?"
Wonwoo berbalik menatap Mingyu yang masih duduk, "maksudmu?"
"Sejak ucapanku di taman kantor beberapa hari lalu. Kau menghindariku"
"Ya kau benar," Wonwoo menjawab pelan, terlalu lelah ia untuk menyangkal.
"Apa alasanmu menghindariku?"
"Entahlah, ada sesuatu yang harus aku yakinkan pada diriku sendiri"
Suara mereka pelan saat saling menyahut. Tapi tension dari emosi mereka juga amat terasa.
"Bukankah apa yang aku ucapkan waktu itu adalah keinginanmu Won?"
Wajah dingin Mingyu saat menatap Wonwoo sebenarnya sangat membuat gadis itu ingin lari masuk ke kamarnya. Tapi setelah apa yang terjadi pada Jihoon, Wonwoo merasa harus segera menyelesaikan masalahnya sebelum terjadi penyesalan dan kekecewaan seperti hubungan sahabatnya itu.
"Bukankah sejak awal kau memang ingin keluar dari hubungan yang menjeratmu ini?" Mingyu berjalan mendekat. Dan berhenti tepat di depan gadis berkacamata itu, "lalu kenapa kau sekarang menghindar dan tak mau membicarakan hubungan ini, kau berniat mempermainkan ku Jeon Wonwoo?"
Wonwoo mendongak, menyelami mata beriris gelam milik pria jangkung di depannya. Seolah mencari kepastian, apakah ada lelah di sorot mata itu.
"Kau benar. Pada awalnya aku begitu tertekan dengan hubungan ini. Merasa palsu dan sulit untuk diterima. Aku merasa hubungan ini telah merenggut paksa kebahagian yang sedang ku jalin dulu bersama kak Younghwa. Karena hubungan ini aku harus berpisah dengannya. Awalnya aku menyalahkanmu karena mau saja menerima perjodohan ini, sedang akan menjadi mudah bagiku jika kau menolak. Karena kau tau ayahku adalah orang paling berharga bagiku, dan menolak permintaannya akan menyakitinya."
