11.1 The Demon's Trap

2.4K 147 10
                                        

Suara jeblakan pintu terdengar saat Finza asyik menekuri kertas-kertas gambarnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Suara jeblakan pintu terdengar saat Finza asyik menekuri kertas-kertas gambarnya. Di sana tampak Divia yang seperti hantu di siang bolong melesat masuk sambil menyeret sebuah kursi seenaknya.

"Cha! Cha! Cha! Kamu harus denger! Kemarin..."

"Kemarin?" Finza mendesah panjang. Keningnya mengernyit samar ke arah Divia. Tumben sekali sahabatnya satu ini bereaksi berlebihan. "Kamu kenapa, Div?"

Divia menarik nafas panjang-panjang dan mulai memasang senyum berseri. "Cha, masak kemarin pas aku nganterin bubur ke sini, aku papasan sama cowok ganteng. Dan kamu tahu nggak? Auranya itu lho, Cha. Seksi abis. Aku penasaran, deh. Dia klien baru kamu, ya?"

Finza menatap Divia dengan mulut menganga. "Tunggu. Maksud kamu siapa, Div. Aku nggak ngerti."

Divia mengerucutkan bibir. "Pake alphard. Aku mau cerita kemarin, eh, kamu keburu meeting."

Detik selanjutnya Finza tersadar. "Oh, maksud kamu cowok yang pake pakaian gelap? Terus pake kacamata item?"

Divia mengangguk-angguk. Matanya berbinar. "Iya, ganteng ya, Cha?"

Finza tertawa riang. "Ihh... apa aku bilang! Adiknya Dan ganteng banget, kan?"

"Jadi cowok itu adiknya Dan?"

"Iya, namanya Dafa. Mmm, sebenernya dia baik kok. Enak juga diajak ngobrol. Cuma agak-agak nggak nyambung aja ngobrol sama dia. Suka ngelantur orangnya."

Divia berusaha mengingat-ingat. "Bener banget kamu, Cha. Keturunan Dawson emang ganteng-ganteng semua. Ckck... nggak habis pikir, deh."

Finza memasang senyuman bangga. "Wah, aku beruntung dong ya bisa dapetin Dan? Daripada kamu sama Aren, Div. Apa coba yang bagus dari Jaja sama Fa? Manusia se-circle dari orok. Nggak variatif hidup kalian. Hehehe," gumamnya dengan nada mengejek.

Divia mendesis jengkel. Tapi kemudian menghembuskan nafas pasrah. "Denger ya, Cha. Kamu bilang kayak gitu karena kamu tergila-gila sama Dan. Jadi, ya gini, deh. Kamu udah nggak bisa berpikir jernih lagi. Bahkan kembaran sama sepupu kamu sendiri kamu hina kayak gitu. Jaja sama Fa saudara kamu."

Finza mencebikkan bibir.

"Oke, mereka emang ganteng. Tapi cuma sebatas ganteng aja, Cha. Dalemnya kita nggak tahu kayak gimana Dawson itu. Who knows?" Divia berkacak pinggang. "Lagipula yang aku cari dari seorang cowok bukan tampangnya. Tapi hatinya."

Divia mengakhiri ceritanya dengan seulas senyum bahagia. Finza yang melihatnya mendadak iri. Divia memang benar. Sahabatnya ini mencintai Faza dengan tulus. Begitu pula sebaliknya. Dulu mereka memang kekanakan dan tidak jelas hubungannya seperti apa. Faza yang tidak pekalah, tukang php-lah, dan segala macamnya. Tapi sekarang, cinta telah merubah mereka menjadi lebih dewasa.

Kadang Finza iri dengan hubungan Divia dan Faza. Juga dengan Mauren dan Eza. Sahabat-sahabatnya itu kini hidup bahagia bersama pasangan masing-masing. Tampak jelas tiap dia pergi ke Champ kalau kedua pasangan itu tidak bisa lepas sama sekali.

Revenger Cries NewCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang