Dafian Wiranata Dawson (Dafa) membenci saudara tirinya, Darian Wiratama Dawson (Darian) karena telah merebut cinta pertamanya dan membuat hidupnya di masa lalu bagai terkurung dalam kegelapan. Mungkin dulu dia hanya remaja lemah yang mendapat cap an...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Dafian."
Suara itu terdengar begitu saja. Bukan hanya sekali. Tapi berulang-ulang. Hingga Dafa bisa merasakan keseluruhan tubuhnya menegang. Lalu sekujur kakinya gemetaran. Bahkan sendi-sendinya melemas begitu saja.
Suara itu. Dafa tidak hanya mengenalnya. Tapi, suara itu adalah teman sehari-sehari Dafa selama nyaris empat tahun lamanya. Sudah begitu lama Dafa mencoba menutup mata, membentengi diri, dan mencari celah untuk bersembunyi. Tapi, hari ini akhirnya dunia kembali mempertemukan mereka untuk kesekian kalinya. Dan kini Dafa tak bisa menghindar sedikit pun.
Lalu ketika Dafa tak kunjung berbalik, suara bantingan pintu terdengar. Kali ini dengan begitu kencang dan kuat.
"Dafian Wiranata."
"Gue yakin itu lo. Gue nggak mungkin salah lagi."
Dafa menghembuskan nafas panjang. Pada akhirnya dia berbalik. Lalu mata keduanya bertemu. Rasanya sudah lama sekali sejak pertemuan di rumah sakit dulu. Tidak. Bahkan mungkin nyaris bertahun-tahun lamanya Dafa tidak menatap kelam mata itu. Sekarang mata dingin itu berbalik menatapnya. Mencoba menyampaikan sirat-sirat tak terjawab yang coba dia cari maknanya.
Dafa tahu dia ingin menangis. Tapi yang dilakukannya sekarang adalah memasang senyuman tipis. "Hai."
"Hai?" tanya Azel tak percaya.
Dafa terdiam kaku. Mencoba mengalihkan pandangannya sejauh mungkin.
Azel tertawa sinis. Tanpa sadar mengepalkan tangan kuat-kuat. Tangisnya nyaris meluncur jatuh. Tapi, dia coba tahan sekuat tenaganya. Seumur-umur dia tidak pernah merasakan sesak seperti ini. Rasanya menyakitkan dan dia tidak menyukainya.
"Jadi, cuma itu yang bisa lo katakan ke gue?!" tanya Azel tak percaya.
Dafa terdiam dengan pandangan merenung. "Apa lagi yang harus gue bilang?" tanyanya sendu.
Azel tak menjawab. Dia bergerak maju. Satu langkah. Dua langkah. Sampai akhirnya di langkah ketiga satu tinjunya melayang ke depan. Tepat ke arah pipi Dafa. Dalam hitungan detik, tubuh Dafa rubuh. Lalu dia ambruk dan berakhir terkapar di atas halaman.
Dafa meraba sudut bibirnya sambil meringis. Dia bisa menyecap darah di sana. Rasanya asin. Lalu kepalanya berputar. Pening menjalar. Sebelum dia berhasil bangun, satu hantaman menerjangnya lagi.
"Looser!" sinis Azel tanpa perasaan. "Bangun lo! Cuma segitu aja kemampuan lo? Mana Dafian berandalan yang gue kenal?! Mana, ha?!"
Dafa tertawa tanpa suara.
"Stupid! Lo orang paling bodoh yang gue kenal di dunia! Buat apa lo muncul lagi di hadapan gue?!"
"Dan lo, orang paling menyebalkan yang pernah gue kenal! Selalu ikut campur urusan gue! Selalu—" suara Dafa tiba-tiba hilang. Pandangannya kabur. Bahwa sebenarnya dia ingin menangis. Ingin menyesali semua hal yang telah terjadi. Tapi, dia tidak bisa melakukannya.