73. The Perfecf Lifestyle

2.2K 198 31
                                        

Keadaan di sekeliling ruangan padam

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Keadaan di sekeliling ruangan padam. Dafa terjaga tiba-tiba setelah merasakan pening dan flu yang menyerangnya semalaman penuh. Sedikit bingung, ditatapnya sekali lagi keadaan sekitarnya. Ini bukan kamarnya dan Finza. Bukan kamarnya di rumah. Juga bukan kamarnya di apartemen.

Dafa sama sekali belum pernah datang ke kamar ini sebelumnya. Penasaran diraihnya lampu duduk lalu dinyalakannya. Seketika cahaya di sekelilingnya berpendar. Sebuah kamar dengan dominasi warna biru menjadi pemandangan pertamanya. Tatapan Dafa teralih pada foto-foto yang terjejer rapi di atas meja. Foto sekelompok sahabat dengan baju warna-warni mereka. Dan Dafa bisa melihat Finza salah satu di antaranya. Dafa ingat, foto ini juga ada di dinding kamar Finza.

Dafa tersenyum sekilas. Lalu melirik pada sosok di sampingnya. Dafa tahu laki-laki itu hanya pura-pura tidur. Padahal menjaganya semalaman setelah kejadian itu.

"Gue sering lihat foto ini di kamar Arnia," gumam Dafa tanpa sadar.

Hening.

"Gue tahu lo belum tidur."

Kali ini ranjang tempat Dafa tidur bergetar. Lalu suara Azel terdengar. "Please, kasih gue waktu satu jam aja buat tidur, Daf. Gue selalu capek setelah berurusan sama lo."

Dafa hanya tersenyum sinis. "Lo nggak perlu sok-sokan jatuhin gue kalau pada akhirnya lo nolongin gue juga. Buat apa, sih? Harusnya lo tinggalin aja gue sendiri di kolam renang. Toh, gue nggak apa-apa."

Azel mendengus. "Percuma, lo selalu aja cari gara-gara yang bikin gue naik darah. Dan asal lo tahu, gue nolongin lo, bukan berarti gue udah maafin lo."

Dafa menghembuskan nafas panjang. "Hm, terserah."

Azel berbalik lagi. "Badan gue sakit. Gue gendong lo dari tempat laknat itu. Harusnya lo bilang makasih sama gue."

"Makasih. Makasih udah dorong gue dari lantai dua!"

"Dan untungnya luka lo-" Azel mendesis. "Bekas operasi lo nggak apa-apa."

Dafa terdiam. Berusaha menelaah baik-baik perkataan Azel. "Lo-udah tahu?"

Suara Azel meninggi. "Udah berapa banyak lo bohongin gue? Selain itu apalagi yang lo bohongin? Hah? Lo pikir gue bodoh?! Hampir bertahun-tahun dan lo masih terus bohongin gue?!"

Dafa terdiam. Meraih sebuah bantal dan menekan kepalanya. "Gue jadi donorin ginjal gue buat Dan."

"Terus lo rebut Finza dari dia?" Azel menebak. "Lo bener-bener sinting. Lo kasih dia sesuatu yang berharga, tapi lo rebut milik dia yang nggak kalah berharga."

Dafa menghembuskan nafas panjang. "Pertama kali gue kenal Finza, di hari pertunangan Dan."

Azel mengangguk. "Dan hari itu gue seperti lihat lo. Ternyata kecurigaan gue semuanya bener. Jadi, yang gue lihat di pesta itu emang lo."

"Beberapa hari setelahnya gue nyamar jadi kliennya Finza. Terus..." Dafa terdiam sebentar. "Gue culik dia. Karena gue pengen bales dendam sama Dan."

"Gue inget sekarang. Jadi, waktu itu." Azel memejamkan mata. "Terus, lo-udah berapa lama kenal Finza?"

Revenger Cries NewCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang