37. The Night We're Together

2.9K 178 45
                                        

Cuaca sedang buruk di luar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Cuaca sedang buruk di luar. Meskipun langit gelap gulita, Finza bisa melihat sendiri kabut tebal yang bergumul dibalik kaca BMW merah jambunya. Berulang kali dia melirik kaca jendela dan mendapati satu demi satu tetes-tetes hujan yang merembes dari sana. Finza menggigit bibir kencang. Secepat kilat merapatkan jendela mobil dan mematikan AC. Lama-lama dia bisa kedinginan kalau terus membiarkan angin itu masuk ke dalam. Huh, dia butuh kehangatan sekarang.

Suara getaran ponserl terdengar dari atas dashboard. Finza mengalihkan pandangannya sebentar. Sebuah pesan baru masuk dan nama Darian tertera di sana. Mau tak mau membuat seulas senyum Finza terbit. Finza benar-benar lega. Di tengah kesibukan, Darian masih sanggup untuk sekedar memberinya kabar. Ya, Finza tahu persis bahwa Darian sangat sibuk. Dokter muda sepertinya pasti mempunyai banyak tugas dan pekerjaan yang berat. Maka dari itu, Finza tahu diri untuk tidak menuntut terlalu banyak pada Darian. Dia harus belajar menerima kekurangan dan kelebihan Darian itu.

Meskipun, yah, untuk beberapa hal Finza harus berbohong. Bahwa Darian yang dulu maupun sekarang tak ada bedanya. Selalu penuh misteri. Bohong kalau dia sering menghabiskan waktunya berlama-lama dengan Darian. Nyatanya laki-laki itu selalu punya kesibukan sendiri. Setiap mereka bersama atau sedang merencanakan sesuatu bersama, selalu saja ada yang salah. Entah kesibukannya atau segala macamnya. Lagi-lagi Finza harus mengulang masa pacaran mereka yang sedikit menyebalkan seperti jaman SMA atau kuliah dengan intensitas yang bisa dibilang sangat jarang.

Tapi, Finza harus bersabar. Finza yakin sebentar lagi Darian akan menjadi miliknya yang utuh. Dan mimpi indahnya selama ini pasti terwujud. Tentang dongeng-dongeng kerajaan yang hidup bahagia selamanya dengan pasangan mereka. Hari itu pasti akan datang, kan?

Finza mengalihkan pandangannya. Matanya tertumbuk pada lipatan jaket hitam di atas kursi penumpang. Astaga. Dafian si brengsek itu. Bagaimana Finza bisa lupa? Dan... Oh kalimat gilanya kemarin! Entah dia masih waras atau tidak sekarang. Finza pikir, laki-laki itu benar-benar sinting. Seenaknya saja meminta dia-perempuan yang sudah mempunyai tunangan yaitu kakaknya sendiri- untuk mengajarinya hal tentang cinta. Apa laki-laki itu tidak punya otak? Sialnya Finza sudah kalah dalam taruhan kemarin. Menyebalkan sekali.

Finza menghembuskan nafas kasar. Nyaris mempercepat laju mobilnya kalau tidak sadar sosok yang dilihatnya lewat kaca spion sangat tidak asing. Ya ampun, panjang umur si brengsek itu. Baru Finza membicarakannya, dia sudah muncul. Dan ada apa, sih, dengan dia? Kenapa berjalan kaki di trotoar begitu? Memang mobil mewahnya itu kemana?

Sebenarnya laki-laki gila itu bukan urusan Finza. Tapi, mengingat segala perbuatan baiknya kemarin, tidak baik jika Finza meninggalkannya begitu saja di sana. Bisa jadi mobilnya mogok. Atau malah dirampas orang.

Akhirnya Finza menepikan mobil dan menyambar klakson berulang kali. Finza tahu Dafa mendengarnya. Tapi, yang dilakukan laki-laki itu malah menghindar. Tak mau menatapnya. Finza semakin melajukan mobilnya mendekat. Cepat diturunkannya kaca jendela mobil. Untuk kesekian kalinya Dafa masih menghindar. Baru ketika Finza menarik ujung jaketnya, Finza tahu alasan penghindaran laki-laki itu. Dafa berusaha menutupnya. Luka dan lebam di sekujur wajahnya. Seperti kejadian beberapa hari silam.

Revenger Cries NewCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang