Dafian Wiranata Dawson (Dafa) membenci saudara tirinya, Darian Wiratama Dawson (Darian) karena telah merebut cinta pertamanya dan membuat hidupnya di masa lalu bagai terkurung dalam kegelapan. Mungkin dulu dia hanya remaja lemah yang mendapat cap an...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Indonesia International Hot News Issue
Sebuah kecelakaan beruntun terjadi di pusat kota fifth avenue, New York, yang melibatkan beberapa mobil dan kendaraan muatan besar. Salah satunya mobil milik pebisnis terkemuka di Indonesia, sekaligus istri profesor dokter senior Darwin Dawson, Emira Shakiri (50), terlibat pada peristiwa naas tersebut. Dilansir dari New York Gossip Time, korban dan sopirnya dalam perjalanan menuju peresmian cabang boutique pertama di New York, namun naas kecelakaan tidak dapat terhindarkan. Hingga kini kabar terbaru Emira Shakiri, dinyatakan meninggal dunia di tempat. Jenazah akan segera dipulangkan ke Indonesia untuk peristirahatan terakhir bersama keluarga. Beberapa WNA lain termasuk warga dari Belgia dan Jepang juga termasuk dalam jajaran korban dan sedang ditindaklanjuti.
Dafa meremas koran pagi yang dibacanya hari ini. Bukan hal mengagetkan karena dia sudah mengetahui kabar ini beberapa jam lalu dari Liam. Dan Dafa hanyalah anak seperti kebanyakan, yang diam-diam menangis saat mendengar kabar duka bahwa ibunya telah tiada. Ini terlalu tiba-tiba, terlalu mendadak, bahkan saat dirinya tidak bersiap apapun. Ini adalah mimpi buruk baginya. Bohong jika dia tidak menangis, bohong jika dia tidak terluka. Hatinya berduka sampai tersayat-sayat dalam keheningan. Sebenci apapun dirinya pada Emira, wanita itulah yang telah melahirkan dirinya. Pepatah selalu mengatakan, surga ada di telapak kaki ibu.
Dafa percaya, surganya betul ada di sana. Dan surganya itu kini telah pergi selamanya. Dafa berpikir dia sedang menerima kabar baik belakangan ini, dirinya akan segera mendapatkan anak dari wanita yang dicitainya. Lalu mama yang dirindukannya, Mama Della, telah kembali dari masa penyembuhan. Tapi kini Tuhan selalu kokoh pada peraturannya. Tuhan mengembalikan, lalu Tuhan pula yang mengambil. Ternyata harus ada yang hilang.
Tapi kenapa? Secepat ini? Saat dirinya masih berlumuran dosa dan belum memohon kata maaf. Tapi dia berada pada kenyataan, mengemis maaf di pekuburan nanti.
Secangkir kopi yang sejak tadi diam di atas meja tak kunjung disentuhnya. Terdiam lama sambil menatap koran yang melusuh itu, Dafa menghela napas. Langkah kaki terdengar mendekat dari jauh. Pelukan hangat Finza terasa. Menumpukan kepalanya di pundak.
"Nggak apa-apa. Masih ada aku di sini."
Dafa tersenyum hambar, meletakkan koran itu ke meja dan beralih ke belakang. Memeluk Finza. "Makasih, Queen. Aku masih punya alasan hidup di dunia ini. Berkat kamu, kalian..." jemarinya terulur ke bawah mengelus perut Finza yang sudah mencembung.
"Iya, dimakan, sayang." Dafa terkekeh, menurunkan Finza yang duduk di meja belakangnya.
Suara roda berputar mendekat ke arah mereka. Dafa melihat Darwin mendorong kursi roda tempat Della duduk dari kejauhan. Entah bagaimana, Dafa lagi-lagi ingin menangis.
"Kita mau berangkat jam berapa, Daf, Za?" suara Della begitu lembut. Dan pandangan matanya tertuju pada Dafa. "Nak?" bisiknya. Tahu apa yang menyebabkan Dafa murung sepagi ini. Matanya sembab dan bengkak. Seperti orang menangis semalaman.