Dafian Wiranata Dawson (Dafa) membenci saudara tirinya, Darian Wiratama Dawson (Darian) karena telah merebut cinta pertamanya dan membuat hidupnya di masa lalu bagai terkurung dalam kegelapan. Mungkin dulu dia hanya remaja lemah yang mendapat cap an...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tepat pukul setengah sembilan pagi Dafa melangkah keluar dari rumah. Baru saja dia berniat masuk ke dalam mobil saat dilihatnya Fien tengah memanaskan motor tak jauh dari mobilnya. Dafa menatapnya dari jauh. Lalu memutuskan untuk mendekat.
"Hei, belum berangkat?" tanya Dafa sekadar basa-basi.
Fien meliriknya dan tersenyum miring. "Belum, Bang. Masih manasin motor. Lo sendiri belum berangkat? Katanya... mmm," Fien meringis. "Mau ke markas?"
"Haha. Markas, ya? Gue sih santai aja, kok. Nggak keburu waktu." Dafa menyenderkan diri pada alphard hitamnya sambil menatap Fien yang bertengger pada motor. "Kakak lo kalau dandan lama, ya?"
Fien tertawa. "Lama banget. Ngalahin siput."
Dafa ikut tertawa. Kemudian matanya menangkap sebuah stiker yang menempel pada helm Fien. "Lo kedokteran juga?"
Fien mengernyitkan kening. "Kok lo tahu?"
Dafa tak menjawab. Memilih menunjuk helm Fien dengan dagunya. Barulah Fien tersadar. Lalu dia kembali tertawa.
"Iya, gue kedokteran. Samaan ya kita, Bang?"
Dafa membulatkan bibir. "Kampus lo negeri terbagus, tuh. Pasti jenius, dong."
"Ah, nggak juga. Susah di sana. Tobat gue," Fien kembali melirik Dafa. "Lo sendiri apa nggak kesusahan kuliah kedokteran di luar? Di sini aja gue pusing."
"Sebenernya nggak juga. Dari kecil gue udah di London. Jadi, nggak terlalu susah ngikutin pelajaran di sana. Lo kan jenius, pasti cepet nih, kelarnya."
Fien hanya terkekeh. "Nggaklah, Bang. Gue nggak sejenius itu."
"Nggak apa-apa. Jenius kalah sama yang rajin."
"Mmm gue mau ngomong sesuatu boleh?" tanya Fien hati-hati.
"Boleh. Kenapa enggak?"
"Gue kira lo orangnya cuek. Ternyata nyerocos juga," sindir Fien.
Dafa mengedipkan mata. "Lah, gue kira malah lo yang cuek."
Tanpa sadar Fien dan Dafa berpandangan. Keduanya kembali tertawa menyadari kekonyolan mereka.
"Biasanya orang mah gitu. Sukanya nge-judge dulu," Dafa kembali tersenyum. "Padahal belum tentu dugaan mereka bener."
Fien mengangguk-angguk. "By the way, gue jarang banget ngobrol sama Bang Dan kayak gini. Serius."
"Lo pasti udah judge dia juga. Ngaku, deh."
"Ya, sih. Dikit. Lagian lo sama Bang Dan mukanya sama-sama jutek. Makanya orang males ngajak ngobrol kalian."
"Ya elah, itu lagi dibahas. Mending sekarang lo ngaca. Muka lo jutek juga nggak, tuh."
Fien terbahak. Tahu bahwa sebenarnya dia juga tipikal yang malas bicara. Apalagi jika teman-temannya ataupun kakak-kakaknya di Champ sudah angkat suara, dia paling malas menanggapi. Kadang gosip mereka tidak bermutu untuk didengar. Sepertinya bahan obrolannya dengan Dafa jauh lebih menyenangkan daripada gosip mereka semua.