Dafian Wiranata Dawson (Dafa) membenci saudara tirinya, Darian Wiratama Dawson (Darian) karena telah merebut cinta pertamanya dan membuat hidupnya di masa lalu bagai terkurung dalam kegelapan. Mungkin dulu dia hanya remaja lemah yang mendapat cap an...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setengah jam lebih Finza merenung di dalam kamar mandinya. Memikirkan Dafa dengan segala sikap aneh membuatnya bingung. Beberapa menit yang lalu laki-laki itu bersikap romantis dan memanjakannya. Lalu beberapa menit berselang dia berubah lagi. Menjadi pribadinya yang tertutup dan jauh. Seperti yang dulu-dulu.
Finza meraih kimono mandinya dan memakainya super cepat. Pelan diraihnya pintu keluar. Seperti dugaannya, Dafa merenung di tepi ranjangnya. Dengan mata yang mengkilat tajam ke bawah.
Menyadari kedatangan Finza membuat Dafa segera bangkit. Lalu memasang senyum seadanya. "Udah selesei?"
Dafa mengacak rambut Finza yang basah. "Thanks," lirihnya sambil menangkup kedua pipi Finza berniat mengecupnya. Sebelum itu terjadi, suara keritan pintu terdengar dan bayangan Fien muncul dari belakang.
Hal yang paling tidak disukai Dafa adalah jam-jam makan bersama. Entah itu sarapan, makan siang, ataupun makan malam sekalipun, Dafa tidak menyukai. Karena artinya dia harus bergabung dengan keluarga Finza. Tentunya dia harus mengikuti segala obrolan mereka. Paling tidak sekadar berbasa-basi untuk menunjukkan rasa sopannya. Meski Dafa tahu dia paling tidak bisa melakukannya.
Lalu setiap hari dia harus melewati saat seperti ini. Berpura-pura memasang seulas senyum di depan keluarga. Kemudian memakan makanannya dengan lahap seolah makanan di depannya makanan terenak yang ada. Dafa tidak bisa merasakannya dengan baik. Semua terlalu asing meskipun ada Finza di sampingnya.