31. The Mother F*cker

2.4K 158 35
                                        

Seharian terjebak di rumah Dawson membuat Finza nyaris mati kebosanan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Seharian terjebak di rumah Dawson membuat Finza nyaris mati kebosanan. Berulang kali dia bolak-balik kamar tamu. Sampai akhirnya dia menyerah dan duduk di sana menyalakan sebuah siaran televisi. Rasanya sangat membosankan di sini. Finza ingin segera pergi ke butik menemui Anna. Juga mengurus seluruh pekerjaannya. Tapi, mengingat pesan Darian membuatnya tak bisa berkata apa-apa selain menunggu di sini.

Suara hentakan lankah kaki terdengar. Diana muncul dengan sebelah tangan sibuk memainkan ponsel. "Za, aku pergi dulu, ya? Aku ada mau meeting sama rekanan. Kamu nggak apa-apa, kan?"

Finza tersentak kaget. Rasanya tidak rela dengan kepergian Diana. Tapi, secepat kilat dipasangnya sebuah senyum. "Oh, nggak apa-apa, Kak. Mmm... Atau aku pulang naik gocar aja, ya? Aku juga mau ke butik soalnya."

"Jangan, Za. Tadi Dan udah pesan supaya kamu tunggu di sini. Biar Dan sendiri yang antar kamu nanti. Lagipula bentar lagi Dan pulang. Hari ini dia nggak begitu padat kok jadwalnya."

"Ya udah, Kak Di hati-hati, ya." Finza memaksakan seulas senyum.

Diana tersenyum lebar dan menepuk pundak Finza. "Iya, pasti. Kamu juga baik-baik, ya. Nanti kalau butuh apa-apa panggil aja Liam."

"Oke, Kak Di."

"Oh, kalau kamu butuh temen ngobrol. Bisa juga ajak ngobrol Dafa. Kebetulan dia nggak pergi-pergi."

Finza memaksakan seulas senyum. Setelah Diana pergi, suasana rumah kembali seperti dulu saat dia sering berkunjung. Sepi senyap. Finza benar-benar gatal ingin segera pergi dari sini. Kalau bisa dia pasti sudah menelpon Faza sejak tadi untuk menjemputnya. Sayangnya dia tidak tega pada Darian yang berjanji akan mengantarnya.

Karena siaran televisi tidak ada yang menarik, Finza memutuskan berjalan-jalan sebentar mengelilingi rumah. Lumayan juga untuk menghabiskan waktu bosannya. Lagipula berjalan mengelilingi rumah ini bisa berkali-kali lipat dari rumahnya sendiri.

Beberapa menit berlalu dan pada akhirnya Finza kembali menuju dapur menyeduh teh seadanya. Sebenarnya dia agak lapar. Tapi, dia bukan Divia yang pandai memasak. Kalaupun dia mencobanya, malah bisa gawat. Mungkin dapur ini akan berubah menjadi kapal pecah. Dia bisa saja meminta salah seorang pelayan untuk memasakkan sesuatu. Tapi, siapa dia berhak memerintah pelayan seenaknya?

Baru ketika Finza memutuskan duduk santai di taman belakang yang luas, suara ketukan highheels terdengar. Finza pikir Diana tidak jadi pergi. Tapi, bukan itu kenyataannya. Wanita yang berdiri di depannya itu Emira.

Emira melangkah mendekat dan berhenti di sebelah Finza. "Halo Finza. Boleh Tante duduk di sini?"

Finza tersentak kaget. Nyaris menyemburkan tehnya. Matanya berputar pada Emira. Sedikit ketakutan, Finza mengangguk. "Bo-Boleh Tante. Silahkan."

Emira tersenyum manis. Lalu duduk tepat di hadapan Finza. Dengan satu gerakan tangan dipanggilnya salah seorang pelayan untuk menyiapkan secangkir kopi panas.

Revenger Cries NewCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang