Dafian Wiranata Dawson (Dafa) membenci saudara tirinya, Darian Wiratama Dawson (Darian) karena telah merebut cinta pertamanya dan membuat hidupnya di masa lalu bagai terkurung dalam kegelapan. Mungkin dulu dia hanya remaja lemah yang mendapat cap an...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Guys, jangan lupa cerita Azel sudah aku publish, mampir yoo. Rajin update kok
Happy Reading...
Hari itu ribuan pelayat berdatangan dan Dafa tidak akan pernah melupakannya. Hari itu mendadak datang ke hidupnya. Saat dia tidak mempersiapkan apapun. Hari itu dia berada di sana, menaburkan bunga di pekuburan ibunya. Menyalami pelayat yang terus berdatangan dan bergantian satu per satu. Di kehidupannya yang ini, mungkin dia telah dinyatakan gagal menjadi seorang anak. Seumur hidupnya habis untuk membenci ibunya. Sebesar apapun kesalahan yang ibunya perbuat, tapi Dafa tahu tak seharusnya memendam kebencian sedemikian rupa. Dan di sinilah dia sekarang, menyesali semua kehidupannya. Hari itu membuatnya belajar bahwa penyesalan akan datang di akhir. Terutama saat orang yang kita benci tiada.
Finza ada di sampingnya, menggenggam tangannya tanpa henti. Terus memberinya kekuatan. Kalau-kalau dia akan jatuh, lalu menangis, kemudian berteriak histeris dan meraung-raung. Finza akan memeluknya. Darwin dan Della menemaninya tadi, lalu pamit saat cuaca mulai mendung. Menyisakan sedikit pelayat yang masih berada di sana.
Azel berjongkok di sampingnya, merangkulnya dan menepuk-nepuk bahunya memberi ketenangan. "Kuat buat lo. Kuat. Lo pasti bisa."
Dafa mengangguk menatap Azel dalam sisa pandangannya. Orang itu juga yang selalu ikut andil dalam hidupnya. Berperan besar pada proses kedewasaannya. Dan dipeluknya Azel kuat-kuat. Sahabatnya, lebih dari itu saudaranya. "Thanks bro, thanks..."
Azel mengangguk, menepuk punggungnya lebih kuat. "Gue pamit ya, Daf." Tatapannya teralih pada Finza. "Titip si bodoh ini, Cha."
Bahkan dalam situasi begini pun Azel masih mengejeknya si bodoh. Dafa hanya tertawa untuk menghilangkan sisa tangis di wajahnya. Bergantian berikutnya Eza dan Mauren. Kali ini, Eza menghela napas panjang dan lebih tenang dari hari biasanya. Tidak ingin memperkarakan apapun. Dafa justru tertawa melihat sifat kelewat tenang Eza.
"Sorry..." sesal Eza. "Meskipun gue nggak kenal nyokap lo," Eza mengedikkan bahu. "Gue harap, nyokap lo bahagia di sana. Hari ini kita libur dulu berantemnya."
Dan di sisa hari itu setidaknya Dafa dapat tertawa. Bahkan menyambut obrolan Eza. "Oke, kita sambung kapan-kapan."
Finza melambaikan tangan pada Eza. Satu per satu mulai pamit hingga tersisa mereka di pekuburan yang masih basah itu. Cuaca mulai mendung dan gerimis rintik-rintik turun membasahi tanah.
Finza masih mendekap tubuh Dafa memberi ketenangan. "Ayo. Hujan, sayang," bisiknya pelan-pelan.
"Kamu duluan aja," perintah Dafa. Finza menggeleng keukeuh. Sampai dia rasakan, hujan yang mulai deras, tapi kering di sekitarnya. Dafa meringis dan mendongak, menyadari Darian berdiri di atas mereka, melebarkan payung di tangan.
Tidak ada suara apapun dari mulut Darian. Selain mulutnya yang mengeras kaku. Juga jemarinya yang membeku oleh dingin. Dafa menatapnya dalam sorot mata tajam, yang langsung dibalas Darian. Ada satu lagi yang tidak pergi dari sana, yaitu Darian. Darian terus berada di sana, tidak kenal lelah. Menunggu dibalik pohon besar. Menghindari keramaian dan lalu lalang manusia yang ada. Darian menjadi sangat introvert sejak hari kebebasannya itu. Menjauhi siapapun dan menolak siapapun.