Epilog

3.6K 145 16
                                        

Kematian Ibunya, Emira, beberapa tahun silam membuatnya jatuh dalam keterpurukan, Dafa akui itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kematian Ibunya, Emira, beberapa tahun silam membuatnya jatuh dalam keterpurukan, Dafa akui itu. Bagaimana bisa dirinya hidup bahagia di dunia ini, di saat ibunya telah tiada. Di saat Dafa sendiri tidak tahu, apa yang tengah Emira alami di belahan dunia lain saat ini? Dunia yang Dafa tidak ketahui wujudnya. Dunia yang sejauh apapun Dafa ingin menjangkaunya, Dafa tidak akan pernah sanggup. Emira pergi, bahkan di saat Dafa belum menunjukkan baktinya selama ini. Apakah ini adil? Dafa membenci Emira, tapi bukan seperti ini caranya.

Sudah bertahun-tahun, tapi luka itu belum sembuh juga. Meski Della telah kembali, ada sebagian dari hidupnya yang kini hilang, kosong, tak berbentuk. Kenangan tentang Emira. Jika Dafa melakukan ini, melamun di sela-sela aktivitasnya, Finza akan marah, karena dia kembali merasa bersalah.

“Sayang…” tegur Finza, “kamu bengong lagi.”

“Ayo kita ajak anak-anak ke makam Mama.”

Finza tahu, Dafa ingin mengajak Riro dan Rira ke sana sejak lama. Kedua anak kembarnya, Varierro Rangga Dawson dan Varierra Raisha Dawson, hanya mengenal Oma Della di hidup mereka. Meski sedikit, Dafa berharap kedua anaknya mengenal sosok Emira di tempat peristirahatannya.

“Ma, sampai kapanpun Mama akan selalu menjadi mamaku. Nggak akan pernah terganti selamanya. Terima kasih sudah pernah melahirkanku ke dunia ini. Maafkan aku karna aku nggak pernah membuat Mama bahagia.” 

Sebagian hidupnya kini berisi kebahagiaan. Dafa bahagia karena telah meraih apa yang dia inginkan selama ini. Kebahagiaan. Ya, bahagia yang dulu seperti hal yang sangat mustahil untuknya. Sekarang, kebahagiaan itu mengelilingi setiap jengkal hidupnya. Tapi di saat-saat seperti ini, ada kalanya, Dafa teringat Emira. Kadang, Dafa merasa bersalah, Dafa merasa tidak pantas. Ibu yang sudah melahirkannya telah tiada. Sedangkan dia tersenyum bahagia di dunia ini. Apakah adil?

“Sayang…” ringis Finza saat menyadari sore itu Dafa lagi-lagi melamun dengan wajah penuh lara. 

Dafa memaksakan seulas senyum. “Eh, Queen, kamu belum tidur?”

“Ini masih jam lima sore,” kekeh Finza, “tidur maghrib maksud kamu?”

“Ah,” Dafa tersenyum menyadari kebodohannya, “sorry, aku kira udah malem. Belum mandi juga aku. Jadi jemput anak-anak?”

“Kan udah ada Jaja sama Aren yang jemput. Lagian minggu ini jatah mereka.”

Dafa mengerjap menatap Finza, lalu tertawa. “Baru inget. Hehe, maaf.”

“Kamu kalau udah diem sore-sore gini, biasanya keinget Mama, kan?”

Mau tak mau Dafa tersenyum, terkekeh lagi, menghapus titik-titik di matanya. “Mama udah nggak ada…” kadang fakta itu menyambarnya diam-diam. “Dulu aku membenci dia, tapi aku nggak pernah nyangka, aku mengusir dia dari hidup aku.”

Jika Dafa sudah begini, Finza akan selalu menambahi. “Mama udah nggak ada. Mama udah bahagia di sana. Sekarang Mama bersenang-senang di surga.”

Dafa mendengarnya dan tersenyum, meraih jemari Finza perlahan, menempelkannya ke pipinya. “Makasih, karena selama beberapa tahun ini, aku punya kamu di sisi aku.”

Revenger Cries NewCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang