Dafian Wiranata Dawson (Dafa) membenci saudara tirinya, Darian Wiratama Dawson (Darian) karena telah merebut cinta pertamanya dan membuat hidupnya di masa lalu bagai terkurung dalam kegelapan. Mungkin dulu dia hanya remaja lemah yang mendapat cap an...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Biasanya Finza akan menolak mentah-mentah ajakan Eza untuk mengunjungi Wide Entertainment. Karena yah, sejujurnya Finza sedikit tidak tertarik dengan perusahaan tempat Papa dan saudara kembarnya itu bekerja. Tentu saja itu juga gara-gara segudang model-model genit di dalamnya.
Oke, lupakan sejenak fakta bahwa Finza juga termasuk golongan genit. Setidaknya genit ala Finza sedikit berbeda dengan kegenitan para model itu dalam berpose di depan kamera. Tapi, hari ini Finza harus menelan kenyataan pahit bahwa meskipun mereka genit, mereka memang cukup berbakat . Jadi, setaralah dengan sikap menyebalkan mereka.
Dulu Finza sempat mengontrak para model untuk kerjasama mempromosikan brand fashion-nya dalam beberapa majalah. Dan Finza cukup merasa terpuaskan dengan kinerja mereka. Mungkin ke depannya dia akan membutuhkan lagi bantuan para model itu. Pastinya dengan orang-orang baru yang lebih segar dan fresh.
Eza berdecak menatap Finza yang tampak mengamati ruang pemotretan di Wide. Matanya sejak tadi tertuju ke arah perempuan itu—Princessa. Hanya Sessa yang tampak paling berkilau dari semua deret model yang ada. Mau tak mau Eza harus mengakuinya.
Finza menyenggol lengan Eza. "Ja, yang namanya Sessa itu..." Seulas senyum Finza terbit. "She is perfect. Dia cocok jadi model rancangan baruku. Menurutmu gimana?"
"Princessa? Lo yakin? Bayaran dia mahal."
"Why not?" Finza masih tersenyum. "Asal kamu tahu, aku juga pernah ketemu sama dia sebelumnya. Sessa ini salah satu kenalannya Dan. Jadi, aku bisa minta tolong dia baik-baik. Aku yakin banget Sessa mau bantuin aku."
"Well, kayaknya kalau lo emang cocok deh sama Sessa dan temen-temennya. Kalian satu spesies. Tapi, kalau Divi dan Aren, gue yakin mereka benci banget sama sebangsa model ini."
Finza memilih mengabaikan Eza dan melangkah maju. Tepatnya menghampiri Sessa yang tengah merapikan riasannya bersama Oggy. "Hai, Mbak Sessa. Masih ingat aku? Aku tunangan Dan."
Bola mata Sessa membulat saat melihat Finza. Entah ini sebuah kebetulan atau apa melihat mangsanya berada di sini. Datang sendiri tanpa diminta. Wow, sebuah pancingan yang bagus.
"Oh... Of course, Arniafinza? Kalau nggak salah kita ketemu di bandara waktu itu."
Seulas senyum lebar terbit di wajah Finza. "Ya, kamu bener."
Sessa membalas senyuman Finza. Tentu saja perempuan itu ingat. Bagaimana tidak. Saat itu Finza tersenyum riang di atas seluruh tangisannya. Ya, sampai kapan pun Sessa tidak akan pernah melupakan hari kehancuran itu. Sama sekali tidak pernah.
Eza menarik lengan Finza. "Cha, ayo ikut gue take."
"Ihh... Apaan, sih? Aku masih ngobrol sama Princessa!" Finza melotot ke arah Eza. Tapi, sedetik kemudian mengalungkan lengan ke leher Eza dengan mesra. "Oh iya, kami ini kembar. Aku dan Eza."