Extra Part

2.9K 113 7
                                        

Seperti weekend di hari biasanya, berkumpul di rumah Dawson tak pernah ketinggalan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Seperti weekend di hari biasanya, berkumpul di rumah Dawson tak pernah ketinggalan. Memarkirkan alphard-nya di halaman utama, Dafa dan Finza langsung mendapat sapaan dari Liam. Tidak ada yang berubah.

"Selamat pagi Tuan Muda...."

Anak-anak berlari ke arah Liam. Rira yang paling semangat. Sudah merentangkan kedua tangan menerima pelukan Liam.

"Liaaammm... Lilaaaa datang..." dan hup, Liam menangkap si putri kecil, lalu menggendongnya ke udara. Riro hanya menatapnya datar.

"Selamat datang Tuan Putri kecil!"

"Liam nggak kangen Lila?" cerocos Rira pura-pura ngambek. "Udah berapa hari Liam nggak main ke lumah Lila?"

Liam memasang wajah sedih. "Maafkan saya Tuan Puteri. Belakangan ini Pangeran sibuk. Banyak kerjaan."

Rira mencebikkan bibir. "Kenapa Liam kerja terus?"

"Saya bekerja agar bisa membelikan Tuan Puteri sepatu yang cantik!"

"Aaaa... makacih Liam."

Ganti Dafa yang menatap datar. Berdiri di samping Riro, saling berpandangan. "Adikmu kenapa, Ro?"

Riro mengedikkan bahu cuek. "Nggak tahu. Bukannya dia emang gitu, ya?"

Dafa memandang Riro, yang ngacir masuk ke dalam rumah, tertawa kaget. Buset, itu anak cuek bener. Ajaran siapa, ya?

"Eh, maaf Tuan," Liam terkekeh kikuk, "saya kangen dengan Tuan Putri kecil kita," tawa Liam meledak.

Dafa hanya menghela napas, menatap Liam dengan lelucon, "Liam, jangan bilang kamu ingin jadi menantuku di masa depan?" guyonnya yang membuat Finza tertawa terpingkal-pingkal. Liam lebih kencang lagi. "Please, saya nggak siap bermenantukan kamu."

"Bagaimana kalau saya mengejar kesiapan Anda?" tantang Liam.

Dafa menghela napas menahan kekehan. "Kau sedang mengujiku?"

Setelahnya hanya tawa yang terdengar dari sana. Liam pamit undur diri. Dafa dan Finza mengejar Riro dan Rira yang sudah berlarian masuk ke dalam. Senyuman Dafa mengembang lebar. Dulu rumah ini bagaikan fosil tak bernyawa. Rumah yang menyimpan duka baginya di masa lampau. Bagaimana Dafa mengenang setiap jengkal kebaikan Della? Bagaimana Darian terus menyerangnya? Rumah ini menjadi saksi bisu peperangan saudara mereka. Siapa sangka di masa depan, rumah inilah yang mempersatukan mereka. Dulu membayangkan hal itu hanyalah mimpi, sampai-sampai untuk bermimpi saja rasanya Dafa tak pantas. Siapa dirinya? Pantaskah?

"Hai... Sudah datang?" suara Darwin menyadarkan lamunan Dafa dari pandangannya yang menembus kaca. Menatap ke arah kebun bunga yang dulu hanya menjadi angan-angannya saja. Tempat dia berusaha mencurahkan rindunya pada Della. Tempat yang dulu sempat gersang dan tandus. Kini berseri kembali karena pemiliknya telah kembali dengan senyuman.

Revenger Cries NewCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang