Dafian Wiranata Dawson (Dafa) membenci saudara tirinya, Darian Wiratama Dawson (Darian) karena telah merebut cinta pertamanya dan membuat hidupnya di masa lalu bagai terkurung dalam kegelapan. Mungkin dulu dia hanya remaja lemah yang mendapat cap an...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Butuh perjuangan bagi Finza untuk berhasil mencuri setelan piyama dari kamar Eza. Bukan apa-apa, sih. Hanya saja kembarannya itu selalu tidur dengan suara yang menyebalkan. Bahkan dia peka terhadap rangsangan. Sedikit suara saja Eza bisa langsung terjaga. Entah apa yang akan terjadi kalau si tengil itu sampai tahu dia membawa orang asing dari luar. Bisa habis Finza nanti.
Begitu berhasil keluar, Finza kembali mengendap menuju kamarnya sendiri. Untung suasana rumahnya selalu gelap di malam hari. Jadi, gerak-geriknya tidak mudah terlihat.
Pintu kamar Finza masih terbuka seperti ketika dia pergi tadi. Di balik pintu kacanya sudah tampak postur tubuh Dafa berdiri tegap. Finza tersenyum sekilas sebelum akhirnya membuka pintu kaca secara perlahan. Tak lama kemudian wajah horor Dafa muncul.
"Kok gitu amat? Takut naik tangga, ya?"
Dafa mengedikkan bahu. "Enggak. Serem aja sama kamar sebelah. Aku ngetok di sana. Ternyata suara om-om."
Finza mendesis. "Ih, aku bilang kan dari kiri. Bukan kanan. Kalau yang itu kamar orang tuaku. Mampus kamu nanti!"
Dafa melotot kaget. Nyaris jantungan. "Apa?"
"Udahlah, nggak usah dibahas. Oh iya, kamu dingin?" tanya Finza yang sedari tadi melihat gerak-gerik Dafa tampak mendekap tubuhnya. Sedikit kasihan melihat Dafa memaksakan diri memakai kemeja pilihannya. "Seharusnya kalau kamu nggak suka, nggak usah pake. Kamu kan jadi sakit."
Dafa mengangguk sekilas. Matanya berputar menatap seisi kamar Finza. Semua serba pink. Dinding wallpaper berwarna pink cerah dengan tambahan garis-garis putih. Lalu ranjang dan meja belajarnya semua lagi-lagi dipenuhi warna pink. Belum lagi sekumpulan bonekanya yang berwarna juga nyaris sama. Pinky holic.
Dafa mengerjap kaget. Seketika dia berdeham. "Aku nggak yakin bakal bisa tidur di sini. Lihat boneka kamu aku jadi ngeri sendiri."
"Ih, kenapa? Bagus, kok. Aku suka."
"Kamu suka. Akunya yang enggak."
Finza menyedekapkan tangan malas. "Udah dikasih tempat nginep malah protes segala. Makasih, kek."
Lalu Dafa memaksakan seulas senyum yang dibuat-buat manis. "Iya, kalau gitu makasih, ya. Makasih, Arnia yang baik hati dan—"
Belum selesai Dafa berkata, sepotong setelan piyama sudah dilempar Finza tepat ke wajahnya. Sebelum akhirnya mendarat ke tangan Dafa. Dan seperti yang Finza duga, raut wajah laki-laki itu berubah datar.
Finza berdecak. "Kamu nggak cocok sok manis gitu. Udah, daripada aku makin mules, lebih baik kamu buruan ganti baju. Inget, jangan sok imut lagi karena itu nggak pas buat tampang kamu, Daf."
"Oke, Arnia. Apa kata kamu." Dafa menyerah dan segera beralih menuju kamar mandi.
Di belakangnya Finza hanya tertawa. Beberapa hari ini dia sedikit sedih memikirkan hubungannya dengan Darian. Darian menghilang tanpa jejak. Tanpa kabar dan kepastian. Bahkan menghubunginya atau mengiriminya pesan saja tidak. Sering Finza diam-diam bersedih memikirkannya. Tapi, sejak laki-laki itu selalu hadir, Finza merasa begitu lega. Kesedihannya selalu hilang.