Apakah Cinta Memang Seperti Ini?

260 41 8
                                        

"Harsya, apa yang terjadi padamu?"

Salma terkejut saat membuka pintu, ia mendapati putrinya terduduk di teras rumah sembari menangis.

"Ibu." Harsya bergegas menghapus air matanya, ia tidak ingin ibunya khawatir dengannya.

"Ada apa, Nak?" Salma merangkul Harsya dan membantunya untuk berdiri.

"Sungguh, aku tidak apa-apa, Bu. Aku hanya sedikit tidak enak badan."

Harsya tidak mungkin menceritakan apa yang baru saja terjadi padanya saat di kantor.

Sungguh, Harsya tak menyangka Handes tega berbuat seperti itu padanya. Ia pikir, Handes mencintainya seperti yang sering pria itu ucapkan hingga ia luluh dan mau menerimanya. Nyatanya, pria itu sama dengan pria-pria lainnya yang lebih mementingkan nafsunya daripada hati nuraninya.

Handes, pria yang ia cintai sepenuh hati tega melakukan hal buruk padanya. Meski Harsya sendiri bingung, apakah pria itu menjadi satu-satunya orang yang bersalah?

Tentunya semua tidak akan terjadi jika ia sanggup menolaknya. Mempunyai pendirian yang tegas, meski Handes terus merayunya. Namun, nyatanya ia luluh dengan ucapan manis pria itu dan bersedia memberikan sesuatu yang berharga miliknya meski akhirnya ia sendiri yang menyesal dan kecewa pada dirinya sendiri.

"Hanya tidak enak badan?" Salma memegang kening Harsya untuk mengecek suhu tubuhnya. "Tidak panas.  Apa kepalamu pusing?"

"Aku memang tidak demam, Bu." Harsya terpaksa kembali berbohong pada ibunya. Ia belum siap bercerita tentang masalah yang terjadi dan selama ini, ia juga belum pernah bercerita pada ibunya tentang hubungannya dengan Handes.

Mungkin tidak hanya ibunya, orang-orang di kantor juga belum ada yang tahu tentang hubungan dirinya dan Handes. Semua itu memang permintaan darinya. Harsya tidak mau menjadi sasaran wanita-wanita yang mengagumi Handes.

Jika mengingat masa lalu, rasanya Harsya ingin tertawa. Ia telah mengingkari ucapannya sendiri. Dulu, ia sering menganggap wanita-wanita yang mengejar Handes adalah wanita malang, nyatanya kini ia jauh lebih malang dari para wanita itu. Ia terikat dengan Handes dan tak tahu bagaimana caranya keluar dari situasi ini.

"Kamu istirahatlah di kamar, ibu akan memasak sup hangat untukmu supaya keadaan kamu membaik."

Harsya memaksakan diri untuk tersenyum. "Terima kasih, Bu."

Salma mengangguk, mengusap lembut rambut Harsya beberapa kali lalu pergi ke dapur untuk membuat sup seperti yang ia bilang tadi. Ia berharap, sup hangat itu mampu meredakan sedikit rasa sakit kepala Harsya.

Harsya melanjutkan sendiri menuju kamar miliknya. Namun, baru beberapa langkah ponselnya berbunyi. Ia membuka tas kerjanya dan mencari benda itu.

"Handes," gumam Harsya saat berhasil menemukan ponselnya. Ia melihat nama Handes muncul di layar.

Harsya tidak ingin bicara dengan Handes saat ini. Sehingga ia memilih untuk mematikan panggilan darinya. Ia butuh istirahat dan butuh waktu untuk menenangkan diri serta menyesali perbuatannya.

Rasanya ia melupakan sesuatu. Handes bukan pria yang bisa mengerti. Harsya meringis saat melihat notifikasi pesan yang pria itu kirimkan untuknya. Pesan berisi kemarahan.

Apakah ini tidak terbalik? Bukankah ia yang harusnya marah?

Lagi-lagi Harsya harus mengingat, Handes bukan pria yang bisa mengerti, bukan pria yang peka dan bukan pria yang bisa disalahkan.

Tidak hanya hari ini mereka bertengkar dan selalu berujung ia yang harus meminta maaf pada pria itu demi meredakan emosinya yang meledak-ledak.

Harsya tahu persis bagaimana Handes. Lalu mengapa ia masih saja mau termakan ucapan manisnya? Mengapa ia masih mencintainya dan tidak pernah bisa lepas darinya?

Ribuan tanya sudah biasa memenuhi kepala Harsya tapi sampai detik ini semua pertanyaan itu tidak pernah menemukan jawabannya.

Apakah cinta memang seperti ini?

Tidak membutuhkan alasan apa pun saat menjalaninya. Semua mengalir begitu saja tanpa perlu diarahkan karena cinta pasti sudah tahu kemana mereka akan bermuara. Meski tak jarang salah tempat. Mungkin Handes termasuk tempat yang salah untuknya dan ia harus bisa terbebas supaya sampai ke muara yang tepat.

Love and Tears Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang