Lepaskan Aku, Han

108 32 12
                                        

Handes bingung, ia tidak yakin dengan ucapannya kali ini. Apakah Harsya benar-benar egois atau malah justru dirinyalah yang egois.

Akan menikah dengan wanita lain tapi tidak menginginkan Harsya pergi darinya.

"Lepaskan aku, Han."

Menurut Harsya, lebih cepat lebih baik. Jika ia memaksakan diri untuk bertahan, sama saja ia mencoba untuk bunuh diri perlahan. Lebih baik ia menikam hatinya sekarang meski sangat menyakitkan tapi rasanya jauh lebih baik daripada menikamnya berulang-ulang hingga hancur berantakan. Ia takut, setelahnya tidak akan memiliki tempat bagi pria lainnya lagi.

"Pergilah ke ruang kerjamu. Aku tidak ingin bicarakan sekarang."

Handes kembali duduk di ranjang miliknya. Pikirannya kacau, ia tidak tega melihat Harsya yang menderita tapi ia juga tidak bisa melepaskannya.

Tanpa banyak bicara atau bantahan, Harsya bergegas keluar dari ruang pribadi Handes. Ia membutuhkan udara segar saat ini. Berdua dengan Handes diruangan itu serasa sangat sesak padahal ruangan sangat luas dan sejuk.

"Handes ada di dalam?" Orion bertanya pada Harsya saat mereka berpapasan.

"Ya."

"Dia menyakitimu?" Orian sungguh iba dengan kondisi Harsya yang terlihat sangat menyedihkan.

"Aku baik-baik saja." Harsya memaksakan diri untuk tersenyum, ia tidak suka untuk dikasihi.

"Aku minta, kamu terus baik-baik saja setelah ini. Handes akan bertunangan."

"Tunangan?"

Terkejut? Tentu saja. Harsya benar-benar terkejut mendengar apa yang baru saja Orion sampaikan. Handes akan bertunangan?

Rasanya Harsya tidak ingin mempercayai ucapan Orion tapi ia tahu kalau Orion adalah sahabat baik Handes dan tentunya dia tidak mungkin berbohong. Lalu kenapa Handes tidak pernah membicarakan hal ini padanya?

Harsya marah dan kecewa, ia seperti tengah dipermainkan oleh Handes. Pria itu mengatakan cinta tapi ternyata dia sudah memiliki wanita lainnya yang akan dia ajak bertunangan dan tidak menutup kemungkinan mereka akan menikah. Lalu bagaimana dengan dirinya? Rasanya Harsya kini ingin menangis dan juga tertawa atas kebodohannya sendiri yang terlalu percaya dengan kata-kata manis seorang pria.

"Aku dengan seperti itu. Handes akan bertunangan Minggu ini."

"Minggu ini?"

Ya Tuhan, Harsya sudah tidak mampu banyak berpikir lagi. Ia sudah tertipu dengan sikap Handes yang ia pikir sangat mencintainya sampai ia rela melepaskan sesuatu yang berharga untuk pria itu. Namun nyatanya, pria itu hanya bermain-main saja.

"Iya. Semua karyawan akan diundang. Aku bersedia menemanimu jika kamu butuh teman."

"Aku tidak akan datang."

Harsya tidak mau menyaksikan Handes bersanding dengan wanita lain secepat ini. Meski sejak awal hubungan mereka terjalin, Handes sudah mengatakan padanya, mereka tidak akan mungkin bisa berlanjut ke tahap selanjutnya tapi bukan secepat ini yang Harsya bayangkan. Ia merasa belum siap.

"Handes akan marah padamu."

"Justru aku yang seharusnya marah padanya. Dia berbohong padaku."

"Seharusnya kamu sudah siap menerima berita seperti ini. Bukankah, saat kalian memulai hubungan, Handes sudah menjelaskan terlebih dahulu?"

Semua yang dikatakan Orion benar, ia sudah memikirkan itu tadi tapi ia benar-benar belum siap jika harus berpisah dengan Handes secepat ini. Seminggu adalah waktu yang sangat singkat.

Biarlah Handes menyebutnya plin-plan, ia yang meminta putus, ia yang meminta untuk di lepaskan tapi ia juga yang tidak rela dan merasa terluka saat Handes bersedia putus dan kini dia akan bertunangan yang otomatis hubungan diantara mereka berakhir.

Harusnya Harsya senang karena tidak perlu repot-repot berusaha susah payah melepaskan diri dari jeratan Handes tapi hatinya sudah tertawan dan ia kesulitan melepaskan diri meski pintu kebebasan sudah terbuka lebar di depan mata.

"Harusnya seperti itu. Aku harus siap." Harsya berkata sangat lirih lalu ia melanjutkan langkahnya yang tadi terhenti. Dadanya terasa semakin sesak, ia takut tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri dan pingsan dihadapan Orion karena kabar yang dia bawa sangat mengejutkan baginya.

Sejujurnya, Harsya ingin berbalik ke ruangan pribadi Handes dan menanyakan kebenaran berita itu tapi ia merasa tidak berhak. Memang siapa dirinya? Ia harus sadar diri, ia hanya seorang karyawan rendahan yang tidak seharusnya bermimpi memiliki pasangan seperti Handes yang kaya raya.

Love and Tears Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang