13. PUTUS?
Pagi hari pukul tujuh lebih lima menit, suara ketukan pintu kamar membangun kan laki laki yang tengah bergelut dengan mimpi nya.
"Berisik banget anji*g" Gerutu nya.
Ia pun bangun dan duduk sejenak, pening di kepala nya menguasai diri nya saat ini.
"Sialan pusing banget hisstt"
Tok...
Tok...
Tok...
Suara ketukan pintu yang kian mengencang membuatnya emosi.
"WAIT IS IT PLEASE" Gertak nya, lalu bangkit dari tempat tidur.
Pintu terbuka menampakan laki laki paruh baya mengenakan jas dan sepatu.
Plak...
Tamparan keras melayang ke pipi nya ringan, "DARI MANA KAMU SEMALAM AZKA?"
Azka terdiam berusaha mencerna pertanyaan dari Winata.
"JAWAB.."
"Clubbing"
Winata menghembuskan napas nya lalu menggelengkan kepala.
"Kamu tau nggak sih, kamu itu calon dokter, calon pakar penyakit, tapi kenapa kebiasaan kamu kaya gitu, kalo kamu gitu terus yakin kamu bisa jadi dokter?"
"Jawab AZKA... mau jadi apa kamu kalo kaya gini terus"
Plak..
Satu tamparan kembali mendarat di pipi kanan Azka, denyut nyeri membuat diri nya semakin emosi.
"Nggak kasihan kamu sama papa hah? Papa kecewa tau nggak sama kamu, berapa kali papa bilang stop mab*k Azka, nggak berfaedah kamu kaya gitu"
"Kenapa sih semenjak SMA kamu jadi gini, gara gara geng motor kamu jadi berantakan kaya gini"
"Stop salahin geng pa"
"DIAM KAMU, kamu sama mama kamu sama aja... bikin papa kecewa"
Disini amarah Azka meluap, ia merasa tidak terima Winata menyamakan diri nya dengan wanita itu.
"PA... apa salah nya sih Azka main sama temen? Salah iya?"
"Papa, ngerti nggak sih perasaan Azka Hah?"
"Pernah papa tanya keadaan Azka gimana? Pa, di kira cuma papa yang kecewa? Azka juga kecewa pa"
"Azka kaya gini juga karena papa, karena si jalang itu, semua karena kalian, semua terjadi karena keegoisan papa sama mama"
"Azka cuma nyari pelampiasan atas ke kecewaan Azka selama ini, di kira Azka nggak kecewa sama papa?"
"Papa marah sama Azka perkara Azka nakal, apa Azka pernah marah sama pilihan papa buat nikah lagi sama FANYA..."
Plak...
"Jaga omongan kamu Azka"
"Apa? Nggak terima? Cih... tau gini Azka milih buat nggak ikut siapa siapa, nggak mama nggak papa sama aja egois"
KAMU SEDANG MEMBACA
ANXIETY (dark side)
Teen Fiction"Emang, orang yang down mental nggak boleh bahagia ya?" Kesedihan, hingga kecemasan akan suatu hal bukanlah sesuatu yang mesti terus menerus di pendam. Selalu mengatakan dirinya baik baik saja membuat seseorang larut dalam sisi yang gelap. Hingga...
