PADA CHAPTER INI MENGANDUNG BEBERAPA CUPLIKAN TEKS TENTANG TINDAKAN PENDERITA SELF INJURY, MOHON BIJAK DALAM MEMBACA!!!
6. SERUMAH SEHARI...?
Plak...
Denyut nyeri terasa jelas di pipi kanan Cahaya.
"Kamu ngak boleh ikut mama, NGERTI KAMU" Bentak Ady.
"Alasan nya kenapa, kenapa anak kandung ngak boleh ketemu orang tua nya" Sela Cahaya di tengah tengah amarah.
Ady berbalik badan menatap sengit Cahaya, "masih tanya alasan nya apa, setelah kamu di tinggal sendiri disini di urus nenek sama kak Ady?"
"Aku bukan anak durhaka yang lupa sama orang tua nya, mau susah apa seneng aku tetep berharap mama pulang jemput aku"
"Pikir, siapa yang durhaka disini?"
"Hampir tujuh belas tahun kamu hidup siapa yang besarin kamu? ada mama kamu dampingin kamu? ngak kan?"
"STOP, Laura itu tetep orang tua aku, sejauh dan sejahat apa pun dia, mama itu orang yang berjuang nyawa demi putri tunggal nya mama yaitu aku"
"Tunggal? disana kak Laura udah punya putra kesayangan Aya" Timpal Reina.
"DIEM LO GOBL*K, LO NGAK ADA HAK IKUT CAMPUR"
"GARA GARA LO, KAK ADY NGAK SAYANG LAGI SAMA GUE, KEHADIRAN LO DISINI NGEREBUT KEBAHAGIAN GUE, NGERTI LO" Bentak Cahaya menumpahkan amarah nya.
"STOP, jangan salahin Reina seolah olah dia yang paling salah CAHAYA" Tegur Qiriel.
Perasaan Cahaya hancur, ini kali pertama Qiriel membela Reina di hadapan nya.
"Oke, silakan kalian banggain Reina, lupain aja aku" Cahaya pun berlari ke dalam kamar nya dan membanting pintu dengan keras.
"ARGHHHH, SIALAN"
Prank...
Sebuah vas bunga yang Cahaya letakkan di nakas hancur seketika.
Ia memprosotkan dirinya di balik pintu, sembari tersendu tanpa dasar kesadaran Cahaya ia mengeluarkan sebuah cutter kecil berwarna hijau muda dari dalam saku hoodie nya.
*tidak untuk di tiru☡☡☡
Satu per satu sayatan tipis terukir di lengan kiri Cahaya. Kulit yang semula bersih perlahan memunculkan bercak merah dari bekas goresan.
Tak bisa di bayangkan bau anyir dan rasa perih yang menurut Cahaya tidak seberapa dengan rasa sakit yang kini menyelimuti hati nya.
Tetesan air mata yang menyatu dengan darah segar tercetak di sebuah ingatan dalam benak Cahaya.
"Mama" Satu kata yang terucap saat ini ialah seseorang yang paling ia rindukan kehadiran nya.
Cahaya melirik ke arah lengan nya, ada beberapa bekas sayatan yang mengering disana.
"Aku pingin sembuh" Ujar nya lirih.
Dreeettt....
Dreeettt....
Cahaya melirik ke arah ponsel nya yang ia letakkan di nakas.
[Hallo]
"Kak Az...-" Tangisan Cahaya pecah ketika mendengar suara Azka.
[Are you oke, Cahaya?]
"No"
Tidak ingin membuat orang lain tau keadaan nya, Cahaya memutuskan untuk menutup panggilan Azka.
Cahaya sudah terbiasa dengan kesendirian ini, ia tidak pernah menginginkan siapa pun mengerti siapa sebenar nya Cahaya, dan bagaimana sisi gelap diri nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANXIETY (dark side)
Fiksi Remaja"Emang, orang yang down mental nggak boleh bahagia ya?" Kesedihan, hingga kecemasan akan suatu hal bukanlah sesuatu yang mesti terus menerus di pendam. Selalu mengatakan dirinya baik baik saja membuat seseorang larut dalam sisi yang gelap. Hingga...
