¶¶ 8• AMARAH RAMA ¶¶

31.5K 1K 5
                                    

Annyeonghaseo guyss...💗

Welcome back to my story🥳

Oh iya, kalian nemu cerita ini dimana? Komen ya😗

Sebelumnya gue mau ngucapin terimakasih buat kalian yang udah vote dan komen😍 jangan bosan-bosan ya🤗😘

Makasih juga buat yg udah berbaik hati nge follow akun gue🤩

Semoga kalian suka terus ya sama cerita gue🤠

Typo komen aja, belum sempat edit editan🥲

Thankyou



















¶¶ 8• AMARAH RAMA ¶¶

🍂

🍂

🍂

Selamat membaca❤
















Nata terus menangis di pelukan Hana. Di depan matanya, Rama sedang memberikan hukuman kepada Ivan. Nata tidak bisa menolong karena Hana melarangnya.

"Ma, lepasin Nata! Nata mau nolongin Ivan, kasian Ivan, Ma!" Nata terus berontak meminta dilepaskan. Tapi bukannya mengendur, pelukan Hana semakin mengerat.

"MA, LEPASIN NATA!" Nata berteriak.

"IVAN!" Gadis itu semakin histeris saat melihat darah keluar dari hidung Ivan.

"PA, UDAH! KASIAN IVAN, PA!" Nata menarik paksa tangan Rama. Nata berhasil lepas dari Mamanya yang juga terkejut melihat Ivan mengeluarkan darah dari hidungnya. Nata memeluk Ivan.

Rama reflek mundur. Pria dewasa itu menatap tanpa ekspresi lelaki yang kini sudah babak belur karena ulah nya. Namun, sedetik kemudian ekspresinya berubah saat sebuah tangan mengusap punggung nya.

"Mama mau bicara sama Papa." Hana membawa suaminya ke kamar mereka. Mereka perlu bicara.

"Kamu terluka, Ivan.." Nata semakin tidak terkendali melihat banyaknya luka di wajah dan beberapa bagian tubuh Ivan.

Melihat Nata yang begitu mengkhawatirkan dirinya, Ivan malah tersenyum. "Gue..."

"Jangan senyum Ivan, aku nggak suka!" Bentak Nata.

"Senyum kamu itu menjelaskan semua rasa sakit yang kamu rasakan Ivan, jangan coba menghibur aku dengan senyuman kamu itu. Senyum kamu palsu!" Nata ambruk di lantai. Kepalanya menunduk, hatinya benar-benar sakit melihat kondisi Ivan.

Ivan terbatuk membuat Nata langsung mendongak. Matanya melotot saat darah keluar dari mulut Ivan. Dengan tangan gemetar, Nata mengusap bibir Ivan yang berdarah.

"Nata, jangan nangis." Ucap Ivan lembut.

Nata menggeleng, gadis itu masih menangis. Melihat bagaimana parahnya luka Ivan, mana mungkin Nata tidak menangis.

"Kamu bisa bangun?" Tanya Nata.

Ivan mengangguk saja. Meskipun untuk bergerak sedikit saja tubuhnya terasa sangat sakit, namun Ivan tetap memaksakan bangun.

IVAN, the best YOUNG Papa! (HIATUS)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang