Energinya habis seperti memulai dari nol kembali. Datangnya Alan sangat memengaruhi pikiran Zea, sampai 3 hari ini gadis itu demam tinggi.
Mempunyai fisik yang lemah jelas tak bisa terlalu banyak pikiran, sekali terlalu dipaksa memikir akan membuat asam lambung Zea naik dan berakhir muntah-muntah.
Belum lagi Zea tengah datang bulan. Sudah dapat dibayangkan seenggak enak apa tubuhnya sekarang.
"Zea udah baikan Rey," jawabnya pada panggilan telfon.
"Boong. Pulang sekolah Rey ke rumah ya? Zea mau dibawain apa, biar Rey siapin."
"Kebab."
"Boleh, tapi jangan pedas ya?"
"Ih gamau, mau pedes. Ga enak kalau gak pedes."
"Mau nurut sama Rey atau enggak?"
Zea cemberut, ingin kesal tapi yang Rey katakan ada benarnya juga. Terlebih perutnya baru baikan, tidak mungkin Zea kasih makan pedas-pedas lagi.
"Pulang sekolah Rey langsung ke rumah Zea ya. Sekarang Zea istirahat aja dulu. Rey mau KBM sekali lagi, abis itu pulang."
"Jangan bandel kalau dibilangin."
Baru saja Zea akan berbicara, Rey terlebih dulu mencela ucapannya. "Callnya dimatiin dulu ya, udah mau masuk Rey nya. Zea istirahat sampai Rey pulang."
Rasa bosan kembali menyelimuti dirinya, selepas callnya mati Zea kembali melamun menatap langit-langit kamarnya seraya makan coklat yang diberi Alan 3 hari lalu. Sudah habis 5 bungkus, masih sisa 5 bungkus lagi.
Perasaannya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Rey selalu menemani Zea, menghibur gadis itu sehingga Zea lupa akan semua luka yang tengah dipikirnya.
Zea memutuskan kembali memejamkan mata seraya menunggu 2 jam sebelum pukul 4 sore tiba. Resiko dekat dengan cowok yang masih sekolah ya gini, rutinitasnya menunggu dia pulang.
Setelah bangun, Zea memutuskan mandi karena dari pagi dia belum mandi. Dia hanya memakai kaos polos dengan celana pendek untuk menemui Rey yang sudah ada di ruang tamu.
Cowok itu masih memakai seragam sekolahnya dengan rambut yang acak-acakan. "Hai," sapa Rey, selama 2 hari keduanya baru bertemu lagi.
"Rey bawa bubur, kebab, es krim, cokelat. Tapi es krimnya dimakan nanti kalau Zea lebih baikan."
"Zea kan cuman minta kebab? Kok banyak banget bawanya?"
"Biar cepat sembuh."
Zea tersenyum, mengambil kebab kesukaannya untuk dinikmati. "Perutnya udah ga sakit?" tanya Rey, karena saat hari pertama datang bulan gadis itu mengeluh nyeri.
"Udah, sekarang mah udah enakan."
Hari pertama datang bulan untuk wanita emang sangat menyakitkan. Mereka tak bisa beraktivitas seperti biasanya, berakhir hanya guling-guling di atas tempat tidur.
"Kalau udah sembuh kan bisa beli jajan banyak-banyak lagi sama Rey. Tapi gaboleh makan yang aneh-aneh."
Zea mengangguk nurut, mulutnya sibuk mengunyah menikmati tiap gigitan kebab yang menjadi makanan paling favoritnya selama 19 tahun. "Rey pulang sekolah langsung ke Zea ya? Enggak ganti baju dulu gitu."
"Rey tadi pulang telat, karena ada piket. Jadi lebih baik langsung ke Zea biar gak bikin Zea nunggu lama."
"Baik banget sih." Zea menyengir, dia diam baru ingat 2 hari lagi akan KKL ke Semarang Malang dan dirinya belum punya persiapan apa-apa. Semoga saja tubuhnya tidak sakit-sakitan saat di sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
HTS?! [SELESAI]
Fiksi Remaja"Bocil." "Bocil? 17 tahun lo bilang bocil?" "Iyalah, lo masih 17 tahun. Sedangkan gue bentar lagi 19 tahun. Lo masih terlalu kecil." "Gapapa umur 17 yang penting bawahnya gede." Damn. Bukan cerita tentang anak geng...
![HTS?! [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/361758315-64-k446192.jpg)