Hanya si Rubah🦊

2K 63 4
                                        

50 vote Maybe it will be good? Pliss🥺

***

"minggir"
Renjun mendorong pelan tiap orang yang menghalau nya. Kediaman Lee lebih ramai dari biasanya, lengkap dengan orang berpakaian hitam. Lari tergesa-gesa melupakan fakta dia belum mandi 3 hari.

Handphone Renjun sudah rusak, jika kalian ingat dengan kejadian beberapa waktu yang telah terlewat saat Renjun melempar ponselnya ke lantai setelah ia habis selesai berteleponan dengan Mark.

Hal buruk macam apa lagi yang bisa terjadi?
Jika saja
Jika saja bukan karena Renjun yang sedang tidak ada kerjaan dan memutuskan menonton Renjun tak kan tahu kabar memilukan yang terjadi.

Kabar kematian yang Renjun tak duga, meninggal salah seorang pengusaha paling berpengaruh di negara, Tuan Lee. Ayahnya Mark.

Bagaimanapun, saat itu Paman Lee lah yang membantu kala susah. Walau kemaren sempat terjadi aksi sakit hati yang ia rasakan, apa yang Renjun dapatkan selain bersedih mendengar kematiannya orang yang berperan penting dalam hidupnya sekarang?

Bukan saat nya, tidak waktu tepat untuk sekarang memikirkan, Haechan yang akan menjadi duda. Menjadi sendiri, siap di persunting oleh nya, harus jadi ibu dari anak-anak, jadi milik Renjun seutuhnya -
Tidak. Itu bukan waktu yang tepat, walau Renjun bisa merencanakan nya dalam waktu dekat.

Renjun sedang gundah gulana.
Ia kehilangan seseorang yang ia hormati.

***

Kediaman Mark nampak tak begitu ramai, maksudnya kurang dari yang Renjun akan kira. hanya sedikit dari orang pemerintahan yang datang walau Renjun tau bahwa Mereka lah yang mungkin paling berpengaruh untuk dunia politik, adapun rekan-rekan bisnis tuan Lee yang sudah menjalani hubungan lumayan lama yang datang, serta keluarga dekat saja yang hadir.
Nampaknya Mark ingin menggelar pemakaman ayahnya secara tertutup ya?

Khalayak ramai yang sudah bisa ditangani oleh orang-orangan Mark, agar tak terlalu ricuh.

Renjun nampak di sana, cintanya, dekat peti mati tuan Lee, Haechan menangis tersedu-sedu, menerka-nerka kiranya yang dipikirkan apa ya? Apakah ia kecewa dengan takdir yang menjadikannya seorang duda muda? Atau kah ia bahagia kala harus terbebas dari orang bau tanah dengan campuran aroma parfum jutaan macan tuan Lee? pikir Renjun dalam hati.

Aduh, Renjun sendiri saja nampak bingung, mau bahagia apa senang. Rasanya tidak etis sekali memikirkan bagaimana dia akan meminang Haechan untuk kedepannya, di saat Haechan baru saja di tinggalkan meninggal oleh sang suami.

Renjun baru beberapa langkah mendekat, sebelum terhenti, dan tersentak kalau mengetahui bahwa ia keduluan orang lain.

"Tuan Haechan, saya disini dari pengacara pribadi tuan Lee, sekaligus yang mengurus pembagian harta yang akan diserahkan pada anda. Taun Lee sudah memutuskan dari keseluruhan hartanya. Sebagaimana harusnya, silahkan tanda tangan disini" Haechan mendongakkan kepala melihat oraang di hadapannya yang terasa asing, wajah nya yang masih berlinang air mata, mencoba mem fokus kan diri pada orang di depannya.

Andai saja kalian tahu, wajah nya yang menangis pun masih lah sangat mempesona bagi diri Renjun yang melihatnya.

"Beraninya kau menyuruh ibu ku melakukan hal seperti ini di tempat pemakaman ayah ku? Setidaknya ketahuilah bahwa kami masih dalam keadaan berduka!" Renjun mengangkat alis nya.

Sebenarnya Renjun juga setuju tentang ujaran Mark, tapi bukan itu.

Renjun lihat tangan Mark yang meng apit mesra pinggang Haechan, dan nampaknya Haechan berdala dalam posisi tidak nyaman seraya memandang Mark dengan tatapan takut.

MengHaremTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang