'prepared for it'

2.1K 75 3
                                        

"iya dia anak yang sedikit pendiam, tapi dia anak baik dan penurut. Bagaimana? anda tertarik?"

Ke empat pria tersebut saling menatap sama lain dan melemparkan senyum ke sesama.

"Kami yang ambil yang itu saja"
salah satu dari empat pria itu menjawab
"Ah! Terimakasih tuan-tuan sekalian semua"
Ucap ibu panti dengan bahagia

Selanjutnya pria tersebut memberikan tangan nya, di sabut dengan ibu panti tersebut, mereka pun bersalaman, di barengi setelahnya dengan ke 3 pria lainnya.

"Huhfff-"

Haechan terganggu dari mimpinya, nada dering dari jam alarm yang sudah berbunyi. Peluh membasahi keringat di wajah nya dan sekitaran tubuh bagian belakang.
Haechan lagi kembali bermimpi tentang masalalu.

"Tuan, Tuan, Tuan Haechan! Waktunya bangun"
Dibarengi dengan suara pelayan yang yang memanggil berulang kali.
Matanya pun akhirnya terbuka. Haechan bangun lalu terduduk, menatap pada pelayan yang membungkuk padanya berikan hormat.

"Maaf Tuan, di hari ini jadwal setelah sarapan, anda akan lanjut dengan sesi belajar di rumah, lalu di lanjut dengan pembelajaran menenun dan menjahit." Pelayanan itu bergerak mematikan jam khusus alarm yang sebelumnya masih berbunyi di samping ranjang tidur Haechan.

Haechan menunduk setelahnya mengangguk.
"Terimakasih" katanya, badannya masih lemas sehabis mimpi tadi, seolah tenaganya di kuras hanya oleh itu.

"Selanjutnya silahkan mandi, nanti makanan akan di hidangkan di bawah. Saya undur diri"

Pelayanan itu pergi dari kamar Haechan. Meninggalkan Haechan sendiri pada ruangan besar itu.

Haechan tak ambil pikir lama lalu menyingkirkan selimut yang membalut tubuh nya, ia bangun dan bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, siap mengawali hari.

"""

Haechan terdiam di meja besar tiap ia siap makan, hanya menunggu beberapa pelayan menaruh jenis makanan lagi hingga siap untuk makan.

Mimpi yang barusan masih terngiang dalam pikiran. Hanya ingatan kecil dari masa lalunya, tentang sekilas kenangan bagaimana ia di adopsi dulu.
Benar ia di adopsi oleh 4 orang pria saat umurnya belum genap tahun, yang mana saat ini ke empat pria itu ia panggil papa.

Itu bukan mimpi buruk sebenarnya, tapi entah kenapa saat Haechan memimpikan nya, ia selalu merasa tak nyaman sehabis nya. Dan lagi mimpi itu sering datang akhir-akhir ini. Haechan jadi berpikir di buatnya, sebenarnya ada apa sih? Sebuah tanda atau bagaimana?

Larut dalam pikirannya Haechan tak menyadari bahwa ada yang memanggil.
"Haechan Haechan Haechan"
Tubuh Haechan di goncangan kan sedikit sampai akhirnya ia sadar kembali dari pikiran yang membuat nya larut.

"Papa" suara Haechan kecil menatap pada salah satu papa yang berada di depannya.
"Maaf papa"
"Kenapa melamun manis?" Tanya Jeno mendekat pada Haechan.
Haechan tak berani menjawab dan hanya menunduk.
Jeno tersenyum dan mengusap surai Haechan.
"Jangan ulangi lagi ya sayang, lihat, kamu sampai tidak sadar kalau sarapan mu sudah siap"
Benar makanan sudah siap semua ternyata dari tadi, tapi Haechan malah asyik sendiri dengan pikirannya, dan pelayanan pun tak berani mengganggu karena Haechan terlihat berpikir dengan serius.
Haechan mengangguk mendengar apa kata Jeno.

Jeno bangkit kembali ke posisi tegap
"Hari ini aku akan pergi untuk perjalanan bisnis Haechan. Mungkin sekitar tiga hari baru kembali, jangan nakal ya."
Haechan tak menjawab tapi kepalanya mendongak menatap mata Jeno, Haechan mungkin tak bicara, tapi Jeno memahami sirat mata Haechan yang sepertinya keberatan. Para papanya selalu begitu, memberikannya kabar saat harinya tiba.

MengHaremTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang