Vote nya pak
Vote nya buk
Vote nya kak
Vote nya dik
---
Cahaya pagi mulai menyusup lembut melalui tirai kamar yang di buka secara perlahan orang pelayan, menyentuh wajahnya yang masih terbenam di bantal. Nafasnya pelan, namun berat tanda tubuh yang belum benar-benar pulih.
Perlahan akhirnya membuka mata, yang pertama dirasakannya bukan segarnya pagi, melainkan nyeri tumpul di sekujur badan, baru pertama kali Haechan bangun seseorang siang ini.
Ia mencoba berguling, namun gerakan kecil itu pun membuatnya meringis.
"Shhh"
Otot-otot Haechan terasa kaku, seolah protes atas malam panjang yang bekas keintiman masih melekat di tubuh dan pikirannya, menyisakan lelah yang menggantung, bukan sekadar fisik, tapi juga dalam diamnya.
Haechan kembali memejamkan matanya, tak peduli dengan keadaan sekitar.
"Bangun Love"
Mark terdiam, sudah 3 hari Haechan libur dari kegiatan, setelah berhubungan dengan Renjun ia mengalami demam.
Mark mendekat pada Haechan yang masih terbaring, ia dekatkan punggung tangannya.
"Untung panas nya sudah turun"
Mark melirik ke arah pelayan, dengan sigap pelayan tersebut mendekat dan mengarahkan nampan berisi sarapan dan satu tempat yang diisi dengan vitamin untuk mempercepat pemulihan.
"Sudah cukup 3 hari istirahat di kamar love, kamu perlu udara segar"
"Kita akan keluar papa?"
Haechan terlihat sedikit lebih bersemangat karena Haechan jarang di ajak keluar.
"That's right"
Haechan segera bangun dari tidurnya, menolak memakan sarapan, bergegas turun dari tempat tidur karena ingin lekas mandi.
"Mau ku mandikan love?"
"Tidak perlu papa!" Ucap Haechan semangat terdengar seperti tidak sakit lagi.
Mark kembali mengkode ke pelayan, pelayan tersebut mengangguk dan bergegas lebih dulu menuju kamar mandi menyiapkan kebutuhan untuk Haechan membersihkan badan.
---
Pagi itu, kota Seoul baru saja bangun. Udara masih dingin, dan embun tipis menempel di kaca-kaca jendela gedung bertingkat. Di dalam sebuah mobil yang sedang melaju dengan kecepatan sedang, duduk Haechan di kursi belakang bersama Mark di sampingnya, satu sopir di depan, dengan dua mobil pengawal yang mengiring mereka di belakang.
Haechan duduk bersandar di kursi penumpang bagian belakang, mengenakan jaket tebal berwarna biru langit. Wajah terlihat sedikit pucat, dan hidungnya tampak merah karena pilek. Meski tubuhnya belum benar-benar sehat, matanya tetap menyimpan semangat yang besar.
Mark duduk bersandar sambil memainkan iPad-nya, jari-jarinya cepat mengetik sesuatu di layar. Meski tampak santai, sepertinya sedang membalas email pekerjaan. Sesekali ia melirik ke samping, memperhatikan Haechan.
"Love, kalau kamu tidak enak badan, kita bisa tunda ke lain waktu" ucapnya dengan nada lembut.
"Papa tidak keberatan."
Haechan menggeleng pelan, tapi tegas. "Tidak mau! Papa sudah janji"
Mark tersenyum kecil. Ia tahu, bagi anak seumuran Haechan, momen seperti ini adalah sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu. Ia sendiri pun merasa bersalah karena belakangan ini terlalu sibuk bekerja, katanya saja tinggal di Korea, bahkan membawa Haechan keluar bermain di sana pun tidak pernah.
KAMU SEDANG MEMBACA
MengHarem
No Ficción- isi book nya cuma naena doang! - Haechan uke Haechan x All Haechan Harem -Jangan salah lapak -🔞 -MURNI IDE DARI SAYA SENDIRI- -slow update - males revisi
