09

2.6K 220 3
                                        

Pagi hari adalah hari penyambutan kepada para murid baru.
Semua murid baru duduk di barisan aula untuk mengetahui tingkat sihirnya masing-masing.

Tingkat sihir ini nantinya yang akan menentukan kelas mereka.

*Tingkat sihir rendah biasanya hanya memiliki satu jenis sihir
yang akan di tempatkan pada gedung pertama .
*Tingkat sihir tinggi biasanya memiliki beberapa jenis sihir, bisa dua dan empat biasanya sihir tingkat tinggi ini hanya di miliki oleh anggota bangsawan saja. Dan mereka yang memiliki tingkat sihir tinggi di tempatkan pada gedung kedua
*Gedung ketiga di tempatkan oleh tingkat sihir tertinggi tingkat sihir yang lebih dari jumlah sihir tingkat tinggi. Pengguna tingkat sihir tertinggi hanya sedikit jumlahnya.
* Dan gedung keempat adalah gedung spesial si Akademi ini, bahkan pemilik sihir ini sangat langka sehingga gedung itu masih kosong karena belum di temukannya sang pemilik kekuatan itu. Kekuatan dewa, kekuatan spesial yang diberikan dewa kepada sang wadah kekuatan yang di pilih dan di berkati sang dewa.

                       ***

Niven duduk dengan tenang di bangku barisan paling belakang. Ya dia sengaja karena tidak ingin terlalu mencolok nantinya.

Yang membuatnya kesal adalah kedua kakak lelakinya yang berhasil menemukan dirinya di sini. Kakaknya itu terlalu mencolok sehingga menarik perhatian murid lain, sedangkan dirinya yang tidak ingin menjadi perhatian publik. Padahal seharusnya bukan di sini tempat mereka berdua emang dasarnya kakaknya itu sesuatu.

Lifen tersenyum geli ketika tangannya di tepis oleh adik manisnya ini.

" Hey adik manis- kenapa kau terlihat kesal begitu? Seharusnya kau bangga bisa duduk bersama kedua kakak tampanmu ini tau"
Ujar Lifen bersedekap dada tersenyum tampan tapi di mata Niven itu entah mengapa terlihat menjengkelkan.

Urat-urat imajiner muncul di keningnya, membuang nafas perlahan untuk meredamkan kata- kata mutiara yang akan keluar. Niven tersenyum kesal

" Bangga matamu, lagian kalian ngapain sih duduk di sini! tempat kalian tu di sana bukan di sini!" Ujar Niven sedikit menekankan kata di akhir, sesekali menunjuk ke arah kanan tempat para seniornya duduk.

" Lihat tuh para gadis udah pada heboh karena kalian, entah apa yang dilihat mereka pada kalian sampai mereka ngereok seperti itu" ujar Niven memutar matanya malas

" Tentu karena kami tampan" ujar bangga kalien sambil mengedipkan mata ke para gadis gadis itu.
Para gadis itupun bertambah heboh saat mendapatkan kedipan dari kakak kelas tampan mereka mungkin bisa saja sampai kejang kejang.

" Pede sekali. lagian gantengan juga gue " ujar Niven mengguman julit di akhir tapi masih bisa di dengar oleh kedua pemuda di samping kanan kirinya.

Kalien menolel-noel pipi sedikit berisi milik Niven
" Kau imut- jikapun ada seseorang yang menyukaimu dan merebutmu dari kami maka orang itu harus siap dengan kematiannya" ujarnya membatin di akhir dengan desisan tajam yang menyeramkan.

" Benar kau itu imut jadi cukup kau bermanja kepada kami maka akan kami turuti semua keinginnanmu ,kecuali jika kau meminta kebebasanmu maka kami takkan segan akan mengurungmu di sangkar emas yang sudah kami buat baby!" Ucap Lifen menyeringai tajam tapi tak bisa di lihat oleh Niven

Niven menyrengit, menatap kesal kedua kakaknya.  'apa apaan mereka berdua? Jangan Ngadi Ngadi deh Mana mau gue manja sama kalian gue yang lelaki tulen ini? Ya emang sih kalian kakak dari tubuh ini yang berarti kakak gue juga tapikan- iiiuh bayangin aja udah jijik. Tapi tawaran terakhirnya menarik sih?' batin Niven sambil menimang nimang ucapan Lifen tadi.

Niven tersadar dari fikiranya yang entah kemana ketika ada tangan yang memegang keningnya yang menyrengit.

" Jangan memikirkan sesuatu yang membuatmu berfikir keras"

bukan Lifen maupun kalien.
Tapi xender yang berucap dengan wajah datar tapi suara yang tersirat kelembuatn.

" ha-ha?" Niven berucap linglung, sedikit gugup ketika di tatap sedekat ini dengan Xender
'aniir gak bisa gak bisa dia terlalu tampan kalau sedekat ini'

"Jangan Deket Deket!"
Ujar Lifen menatap dingin xender setelah mendorong kuat pemuda yang berani mendekati adiknya sedekat itu.

' huhu aku padamu kak,tenkyou karena udah nyelamati adekmu ini'
Batin Niven menatap haru sang kakak , kalien yang tadinya menatap tajam xender berahli menatap ke Niven,mengangkat salah satu alisnya ketika melihat ekspresi Niven yang emm entahlah?

" Khehe ekspresi seperti apa itu hm? Menggemaskan" batinya mengepalkan tangannya kuat kuat.

Xender menatap tajam Lifen
Untung dirinya mempunyai pertahanan yang kuat sehingga tidak membuatnya jatuh akibat dorongan tadi.

Mengepalkan tangannya xender berucap dan menatap Niven kalau menatap remeh ke arah lifen
" hhh -itu terserahku kau tidak berhak melarangku tuan Lifen Eliax yang terhormat" ujarnya memberi tekanan di akhir kalimat

Lifen menggeram, sebelum masalah membesar kalien segera bertindak untuk menenangkan sang kakak. Kalien ini meski menyebalkan tapi mempunyai sisi dewasanya meskipin-sedikit.

" Jangan memperpanjang hal yang tidak berguna kak dan kau,"
Ucap Kalien menatap xender dingin dan di balas tak kalah dingin
" Jika itu menyangkut tentang Niven, itu juga akan menjadi urusan kami Duke Xender valius" ujarnya sembari tersenyum namun mengapa terlihat menyeramkan?

" Tcih!" Mendecih lalu melihat ke arah tempat keberadaan Niven tadi mengapa kosong? Bukankah tadi bocah itu masih berada di sana? Batin xender dan seketika matanya menatap tajam tempat kosong yang entah ke mana pemiliknya tadi

" Bajingan itu!" Menggeram kesal karena sudah kehilangan start. Xenderpun pergi dari sana menghiraukan kedua pangeran Eliax yang kelimpungan mencari Niven.

" AARHHHG di mana anak itu brengsek!" Amuk kalien tertahan karena tidak ingin menarik perhatian

" Berani sekali kau kabur dari pengawasan kami adik kecil" desis  Lifen lalu menyeringai

" Tunggu saja hukumanmu" ujar keduanya bersamaan

Gila!
                     ***

Sedangkan di posisi Niven
Entah mengapa ia merasa merinding 'apa jangan jangan ada dedemit di akademi ini?" Batinya menatap horor sekitarnya, semakin menggenggam erat tangan yang sedari tadi membawanya kabur.

Bukan dedemit sayang tapi singamu telah marah yang berarti lebih menyeramkan dari dedemit hahh! Habislah .

______________________________


Kira kira siapa  ya yang bawa Niven kabur?


become an outcast young master Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang