Selamat datang kemari!
Semoga betah dan mau menemani kisah Arvin juga kedua gadis yang terlibat dalam hatinya.
Jangan lupa, jejaknya ☺️
HAPPY READING 📖 and ONLY FUN MY BAE🤍
SORRY FOR TYPO
•••
|Sepertinya, rindu yang tidak terobati memang cukup diikhlaskan saja agar tidak semakin sakit rasa di dada|
—By Arvin Putro Rekatama yang tenggalam dalam rindu penuh rasa—
•°•°•
2015; Bandar Lampung, Indonesia
Tiada suara selain napas para siswa, rasa tegang dan pening memenuhi benak mereka. Sunyi itulah yang ada di ruang kelas saat ini.
Suasana menegangkan menyelimuti para peserta yang sedang berkutat dengan lembar soal dan jawaban mereka, juga dua pengawas yang berkeliling kesana-kemari, melirik, menilik, dan memperhatikan para peserta.
Hidup ini tidak perlu dibawa terlalu serius, karena ini bukan ujian dan ujian jangan terlalu di bawa santai, karena ini bukan mainan. Prinsip hidup tentram milik cowok berbelangkon coklat.
Namun, suasana menegangkan yang terasa tidak berlaku untuk Arvin Putro Rekatama, cowok berhidung mancung, berkulit kuning Langsat agak sedikit gelap, dan tak lupa blangkon coklat yang selalu menjadi ciri khasnya itu bertengger manis di kepalanya.
Untuk yang kesekian kalinya Arvin melirik jam dinding yang seolah-olah jarumnya diedit menjadi slow motion. Benar-benar terasa lambat waktu ini.
Tidak. Arvin tidak takut untuk mengerjakan atau takut kehabisan waktu. Hanya saja, dia menunggu waktu yang tepat untuk keluar ruangan agar tak dianggap ngasal saat mengerjakan soal. Padahal kan, memang iya, dirinya benar-benar ngasal.
Dirinya hanya memilih jawaban yang menurutnya tepat saja. Lagi pula di aturan tertulis agar menjawab dengan benar dan tepat.
Jadi, Arvin melaksanakannya, menjawab sesuai jawaban tepat dan benar yang ada di hatinya. Dia tidak salah, kan?
Yang penting mengerjakan saja, tidak kosong kolom jawabannya. Wah, ini pengaruh buruk yang blak-blakan buruknya.
Kendati dirinya dipenuhi keraguan, pada akhirnya Arvin tetap mengangkat tangannya guna mengambil perhatian para pengawas.
Hingga, satu pengawas yang melihat, langsung berjalan cepat dan tanpa basa-basi mengambil kertas ujian sekolah terakhir Arvin di jenjang SMP-nya.
"Keluarlah."
"Terima kasih, Pak." Tentu saja Arvin sumringah saat melontarkan ucapannya.
Setelah mengucapkan tiga kata tersebut. Cowok dengan belangkon tali coklat itu keluar dengan bangganya, mengangkat dagu dan berjalan tegap penuh kepercayaan diri.
Hanya untuk memberitahukan pada teman se-ruangannya, bahwasanya ujian sekolahnya telah usai. Arvin berhasil melewati ujian penuh kata 'mengasal' pada satu minggu penuh ketegangan ini.
Untuk urusan nilai, biarlah Tuhan yang mengatur. Sekarang yang terpenting dia telah belajar, secukupnya, seinginnya, seridhonya. Tuhan tidak akan mengecewakan hambanya yang telah berjuang'kan?
KAMU SEDANG MEMBACA
9 Lintang; Arvin [END]
Teen Fiction"Mana boleh menyimpan tiga perempuan dalam satu hati?" Sebuah kalimat tanya yang dikhususkan untuk Arvin Putro Rekatama, seorang cowok berbelangkon coklat. ♡? ♡? ♡? "Goblok, lo itu cewek goblok yang cuma gue jadiin pengganti! Lo harusnya sadar, muka...
![9 Lintang; Arvin [END]](https://img.wattpad.com/cover/365760792-64-k513959.jpg)