Chapter 24| Setelah Semuanya

24 5 6
                                        

HAPPY READING 📖 and ONLY FUN MY BAE🤍

SORRY FOR TYPO

Jangan lupa jejaknya, ya, Sayang!🐐
•••

Hari demi hari, Minggu ke minggu, hingga hampir tiga tahun yang cukup berat mampu dilalui oleh Arvin Putro Rekatama. Semuanya dihadapi, termasuk kebohongan-kebohongan yang terbongkar dalam waktu yang hampir bersamaan.

Mulai dari kenyataan mengenai teman masa kecilnya yang pergi menghilang tiba-tiba karena menikah akibat pergaulan bebas, pernyataan dari sahabatnya bahwa dia hanya terpaksa berteman dengan Arvin, hingga kenyataan dimana keluarga cemara yang dia miliki ternyata palsu.

Sungguh semua itu sangat-sangat membuat mental Arvin goyah. Bagaimana tidak? Arvin bersekolah sembari mencari nafkah untuk pendidikannya dan untuk biaya ibunya yang ada di rumah sakit jiwa yang tak kunjung sembuh.

Namun, untungnya Arvin masih memiliki seorang gadis yang sangat cinta dengan marsmellow. Lecya Aure Putri, gadis yang kini hanya menjadi temannya tanpa ada embel-embel status lainnya.

"Apin! nanti sore belajar untuk persiapan ujian, yuk!" Lecya berlari sekuat tenaga sembari berteriak memanggil cowok dengan blankon tali yang berjalan sendirian di koridor sekolah.

Warga sekolah yang mulai pulang dan meninggalkan sekolah, membuat suasana cukup sepi hingga Arvin dapat mendengar jelas suara melengking Lecya.

Arvin menoleh, lalu kedua ujung bibirnya sedikit tertarik naik melihat gadis dengan rambut dikepang berlari kearahnya. "Ga usah lari-lari, Lecya," peringat Arvin dengan suara yang lembut.

Lecya akhirnya sampai di hadapan Arvin dengan dada yang naik turun, terengah-engah sembari mengatur napasnya. Dia menyengir dan itu membuat Arvin gemas hingga menyentil jidatnya.

"Aw, sakit tau!"

"Kemarin kamu pasang jebakan tikus di bawah mejaku, itu juga sakit karena kaki ku kejepit, Lecya."

"Kan niatku untuk bujuk kamu yang udah dua hari sikapnya kaya kulkas, diem aja sambil senyum terus mengangguk." Lecya cemberut karena Arvin malah balik menyalahkannya. "Arvin kalau lagi kayak kemarin itu ngeri, buat Lecya merinding," lanjutnya.

Arvin dan temannya itu sibuk bersenda gurau sembari berjalan menuju parkiran, hanya terlihat segelintir siswa-siswi saja di sekolah. Ada yang sedang melakukan piket, belajar bersama, atau mojok untuk berpacaran.

Langkah kaki yang cukup ramai terdengar oleh telinga Arvin dan Lecya, sementara mereka sudah sampai di koridor paling ujung. Koridor yang sudah sangat sepi.

"Ada yang ngikutin kita, ya?" Lecya berbisik dan melirik ke Arvin, dia berjalan semakin cepat.

Arvin ikut melirik Lecya. Tangannya naik untuk mengusap-usap tengkuknya. "Kayaknya iya deh," jawabnya, sambil terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.

"Lecya merinding."

"Ga papa, ada aku pasti setannya takut," ujar Arvin sok menjadi penenang padahal dia juga merinding sebadan-badan.

"Soalnya Arvin setannya."

"Hahahahaha!" Bukan, itu bukan suara tawa Lecya maupun Arvin, tapi suara ramai-ramai dari cowok-cowok di belakang mereka.

Mereka langsung menoleh berbarengan dan mata mereka menangkap delapan cowok yang berjalan bersama. Mereka adalah 9'Lintang yang sekarang hanya beranggotakan 8 orang saja, karena Arvin tidak bergabung bersama mereka lagi, bahkan untuk sekedar bicara satu sama lain dengan mereka saja Arvin sudah jarang.

9 Lintang; Arvin [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang