HAPPY READING 📖 and ONLY FUN MY BAE🤍
SORRY FOR TYPO
Jangan lupa jejaknya, ya, Sayang!
•••
"Mak, minta duit dong. Lima ribu aja, untuk beli es cekek sama untuk pegangan," pinta Arvin, telapak tangannya sudah stay by menunggu uang yang dia minta diberikan padanya.
Reta yang sedang menonton acara gosip selebriti di televisi, langsung melirik tangan putranya yang sudah seperti pengemis.
Dengan sinis dirinya berkata, "Nggak, nggak, uang terus, mau jadi apa kamu?" Sedetik Reta berhenti mengoceh, tapi saat Arvin hendak melangkah ke kamarnya, dia angkat bicara lagi.
"Minta uang terus, lagian habis magrib itu ke masjid, nunggu waktu isya datang. Bukan malah haha, hihi, minta uang untuk main." ocehan Reta membuat Arvin memejamkan matanya rapat pun erat-erat, terasa frustasi.
"Iya, nanti mampir ke masjid, Mak. Cuma minta lima ribu doang," ucap Arvin, dia pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Dirinya akan pergi ke studio 9'Lintang. Bukan untuk bermain musik, melainkan untuk belajar bersama teman-temannya. Mereka sepakat memutuskan untuk belajar bersama setelah hampir seharian mereka berlatih musik.
Di tengah kesibukannya mengambil buku, sarung, serta jaket. Arvin mendengar suara yang menandakan ada tamu datang ke rumah. Benar, tidak salah lagi, ibunya sedang menerima tamu.
Dengan seringai nakal, Arvin bergegas menggendong tas ranselnya, lalu keluar kamar dan tidak lupa mengunci pintunya.
Sedikit, mata Arvin muncul di sela pintu mengintip siapa yang datang. Bergejolak kaget bahunya ketika melihat siapa tamu yang datang.
Seorang ibu-ibu dengan sanggul sebesar bola voli, rambutnya pirang merah menyala, wajahnya pun seperti tomat, merah-merah mengkilap.
"Itu ibu-ibu lagi nyamar jadi tomat, kah? Merah amat kepalanya," cibir Arvin, berbisik pada dirinya sendiri.
Arvin putuskan untuk melangkah, melenggang santai dan bersalaman pada ibunya lalu pada tamu ibunya. Dengan senyum ramah juga manis, dirinya mendekat kepada ibunya.
"Mak, minta uang dong. Lima ribu aja," pinta Arvin kembali. Rupanya dia masih mencoba mengantarkan nyawanya pada sang ibunda untuk kedua kalinya.
"Kok cuma Lima ribu, sih? Nih, jajan aja sana, suka-suka kamu," ujar Reta, tangannya dengan enteng mengeluarkan sepeser uang berwarna ungu dari saku dasternya.
Sumringah Arvin langsung menerimanya. Dia menatap ibunya dan tamu ibunya bergantian, mereka berdua sudah kembali mengobrol.
Nah, kenapa jika ada orang lain ibunya ini menjadi tidak pelit?
"Mak, aku pengen martabak. Tambahin dong, lima ribu lagi."
Bak petir Reta menoleh, menatap tajam anaknya, bibirnya mengoceh-ngoceh tanpa suara. Tetapi, tangannya tetap mengeluarkan sepeser uang lima ribu dari sakunya.
Reta marah, hanya saja dirinya tidak memperlihatkan kemarahannya selain kepada putranya. Arvin ragu-ragu menerimanya, tapi tetap saja dia sambar uang itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
9 Lintang; Arvin [END]
Novela Juvenil"Mana boleh menyimpan tiga perempuan dalam satu hati?" Sebuah kalimat tanya yang dikhususkan untuk Arvin Putro Rekatama, seorang cowok berbelangkon coklat. ♡? ♡? ♡? "Goblok, lo itu cewek goblok yang cuma gue jadiin pengganti! Lo harusnya sadar, muka...
![9 Lintang; Arvin [END]](https://img.wattpad.com/cover/365760792-64-k513959.jpg)