Chapter 18| Jaga Diri, Jangan Rusak

37 13 9
                                        

HAPPY READING 📖 and ONLY FUN MY BAE🤍

SORRY FOR TYPO

Jangan lupa jejaknya, ya, Sayang!

•••

Pola pikir itu penting.

♡bocilgabut_♡

••

Waktu istirahat sudah tiba lima menit lalu. Setelah menyelesaikan masalahnya dengan guru menyebalkan tadi, kini Arvin sedang berjalan seorang diri menuju Kiosla setelah melompati pagar sekolah.

Teman-temannya pasti sudah di sana. Nielsen juga sudah meninggalkannya, dia lebih dulu pergi ke Kiosla.

Hanya tinggal menyebrang saja Arvin sudah sampai ke tempat tujuannya, tapi sebuah motor berhenti menghadangnya.

Cowok yang mungkin masih seusianya mengendarai motor CBR 250R, motor yang teramat mahal menurut Arvin. Dengan dilengkapi helm full face menyempurnakan penampilan yang sudah sangat keren itu.

"Tunggu. Gue mau tanya, kantor polisi di mana?" tanya cowok itu pada Arvin tanpa membuka helmnya.

"Di Turki, Mas."

Apa ini? Jawaban macam apa ini? Di daerah bandar Lampung, apalagi di desanya. Adakah Turki di sini?

Cowok itu menggenggam erat setir dan dibalik kaca helm itu matanya bergulir malas. "Turki ya Turki, kantor polisi ya kantor polisi. Itu beda."

Arvin terkekeh, menertawai orang yang sepertinya bukan berasal dari sekitar sini. Harusnya jika orang ini adalah orang sekitar, dia bisa tahu 'Turki' yang di maksud itu apa.

"Iya, Mas. Tugu kampung belok kiri."

"Suka hati lo, lah." Cowok itu sudah memegang kunci hendak menghidupkan motornya kembali. Namun, niatnya diurungkan dan malah menurunkan standar motor. Mencari posisi enak duduk santai di atas jok.

"Hobi lo apa?" Lagi-lagi cowok tidak jelas itu bertanya.

Arvin sudah terbakar sinar matahari dan terkejar waktu istirahat yang sebentar, malah dihadang oleh kendala berbentuk manusia seperti ini.

"Mas, sampeyan sebenarnya pendatang atau wartawan?"

"Gak tau. Males gue sama lo." Motor ber-kenalpot racing itu melaju tanpa pamit. Kontan rahang Arvin jatuh ke bawah. Matanya mendelik kaget melihat punggung pengendara motor itu.

"Ancen as—astagfirullah, ya Allah, lailahailaallah," ceplos Arvin lancar. Daripada berbicara kotor, lebih baik berdzikir, kan? Arvin itu anak sholeh.
—memang—

Tangan cowok itu bergerak naik turun di dadanya sendiri, mencoba menenangkan diri walaupun rasa ingin mengumpat sangat tinggi.

Akhirnya Arvin bisa menyebrang dengan tenang, sampai di Kiosla dengan keadaan waras tanpa kemiringan otak sedikit pun.

Masih ada waktu untuk nimbrung bersama anggota 9'Lintang yang lain. Mereka sedang sibuk mengobrol dan gitaran setelah makan siang.

"Weish, mas bro kita udah sekolah lagi, Guys," sorak Janu heboh. Alhasil teman-temannya yang lain tertawa lebar menyambut kembalinya Arvin.

Oh, ayolah. Arvin hanya dirawat kurang dari seminggu di rumah sakit, bukan koma bertahun-tahun hingga harus overdramatis seperti ini.

Arvin lantas mendaratkan bokongnya ke kursi kayu panjang yang juga diduduki teman-temannya. "Biasa aja kali." Tawa pelan Arvin lepaskan.

9 Lintang; Arvin [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang