HAPPY READING 📖 and ONLY FUN MY BAE🤍
SORRY FOR TYPO
Jangan lupa jejaknya, ya, Sayang!🐐
•••
Dua pasang kaki sedang berjalan beriringan di pinggiran jalan pedesaan, melewati sawah-sawah yang padinya mulai menguning, menikmati pemandangan cahaya jingga yang terpancar dari matahari nan hendak pamit.
Arvin dan Lecya pulang bersama setelah tadi Arvin sempat berbincang dengan teman-teman sesuai baku hantam dengan Elard.
Lecya memegang dua tali tas ransel di pundaknya, dia remat-remat berkali-kali seolah itu akan menyalurkan rasa sakit bercampur penasaran dalam dirinya.
Pada akhirnya dia menoleh menatap Arvin yang berdiri di sebelahnya.
"Aku mau ngomong—"
"Kita bisa ngomong—"
Mereka berucap bersamaan dan akhirnya berhenti bersamaan pula. Suara tawa terdengar renyah sejenak setelah hal itu terjadi, mereka memalingkan wajah satu sama lain menatap hal lain yang lebih membuat mereka tenang atau yang lebih tepatnya, membuat mereka tidak salah tingkah.
"Arvin duluan aja," suruh Lecya.
Arvin mengangguk. "Cowok dengan blangkkon udeng jawa warna coklat ini mau pamit—"
Belum selesai Arvin bicara, langsung disela oleh Lecya dengan suara panik sembari mengoyang-goyangkan tubuh Arvin.
"Mau kemana?! Mau kemanaaaaaaaaa?!" teriaknya membuat beberapa orang di sawah dan sekitar. langsung menoleh.
Arvin menyengir pada para warga yang terenggut perhatiannya, tertawa untuk memudarkan rasa malu itu ternyata tidak efektif.
"Lecya, Lecya diem dulu, jangan dorong-dorong aku gitu, aku bisa—"
Lecya mendorong Arvin begitu kuat sehingga sepatu cowok itu terpleset di rumput yang basah. Saat ini sedang musim penghujan membuat selokan di pinggir sawah tergenang air.
Dan yap, Arvin tercebur kesana bersama-sama dengan Lecya yang langsung tenggelam ke selokan dengan ketinggian di atas mata kaki saja.
"Jatuh...." Arvin melanjutkan perkataannya yang tadi sempat terpotong.
Lecya langsung bangun dan berdiri dengan seluruh tubuh yang sudah basah kuyup. "Kan! Arvin sih!"
"Kan kamu yang dorong!" Arvin ikut berdiri. Baru saja dia berdiri tegap dengan tubuh basah dan berlumuran tanah basah. Sudah mirip donat yang diberi topping coklat.
"Maaf," lirih Lecya yang menunduk.
"Aku mau ke kota cari kerja setelah lulus. Mamak belum sembuh, butuh uang lebih banyak untuk bayar rumah sakit jiwa." Arvin melanjutkan perkataannya yang tadi terpotong karena tragedi jatuh ke selokan.
"Terus aku gimana?"
"Kamu bukan urusanku."
"Apa ini maksudnya, kalau apa yang Elard bilang itu bener?"
"Iya."
Dalam sekejap Lecya merasa sesak. Bukan hanya sesak biasa, ini sesak napas karena asmanya kambuh. Dia sudah kedinginan setelah masuk ke selokan dan langsung dihantam kenyataan mengagetkan pun menyakitkan.
"ARVIN KAMU—"
"Apa? gue jahat?" Arvin menatap Lecya dengan tajam. "Ga usah teriak-teriak. alay tau ga? malu-maluin," ujarnya menusuk hati Lecya, menyakiti gadis di hadapannya tanpa menghasilkan tetesan darah keluar.
"Lo-gue? kok Arvin gitu bahasanya?" tanya Lecya dnegan bibir bergetar.
"Goblok, lo itu cewek goblok yang cuma gue jadiin pengganti! Lo harusnya sadar, muka cantik Caily nggak pantes lo pakai."
"A-Arvin, Lecya nggak bisa ketawa, loh. Dada Lecya lagi sesak, ini bukan waktunya bercanda." Gadis berambut kepang itu melirihkan suaranya.
"Cya, gue cuma butuh Ily. Butuh temen kecil gue, bukan lo. Lo itu bukan urusan gue," cecar Arvin habis-habisan, mengeluarkan semua isi hatinya selama ini. Membongkar semua rahasianya.
"Kenapa Arvin jahat?"
"Maaf, Cya. Kita ke rumah sakit, ya?"
"Arvin! Gue nggak suka lo cari diri gue di diri orang lain!" teriak gadis berkerudung, gadis yang dulu selalu mengepang rambutnya dengan cantik pun manis.
"Caily?" Arvin menoleh pada mobil yang berhenti di sebelahnya.
Gama keluar dari mobil itu. "Ayo bawa gadis itu ke dalam mobil, kota bawa ke rumah sakit," ajaknya.
•••
2017, TPU Teratai
"Apa? Sekarang apa, Nil?" Serak suara Arvin bertambah serak saat berteriak histeris.
Nielsen—sahabat Arvin Putro Rekatama itu mencoba memeluk tubuh Arvin yang kini bergetar hebat. Di tepi gundukan tanah bertabur bunga Arvin bersimpuh. Menangisi raga di dalam gundukan tanah ber-nisan itu.
Tujuh anggota sembilan lintang yang lainnya sibuk memayungi diri mereka sendiri dan Dery memegang dua payung. Satu untuk dirinya, satunya lagi untuk memayungi Arvin juga Nielsen. Hujan turun begitu lebat dan langit abu-abu tampak pekat.
"Dalam Islam gak boleh menangisi orang yang sudah meninggal secara berlebihan, Vin," tutur Galih dengan suara lembutnya.
"Dia juga gak bakalan suka kalau lo susah untuk bisa ikhlas atas kepulangannya," timpal Buana yang tengah menahan tubuh lemas milik Janu agar tidak tumbang dari sikap berdirinya.
Janu tetap hadir. Dia akan selalu hadir di manapun sembilan lintang berada, dalam keadaan suka atau duka. Janu ada walaupun, rasanya setengah mati untuk menunaikan ‘kehadiran’ yang dia usahakan.
"Lagipula masih ada Sembilan Lintang, kan? Kehilangan satu tokoh tidak akan membuat suatu cerita tamat begitu saja." Kean berusaha ikut menenangkan walaupun menjadi Arvin kali ini memang sakit jika dibayangkan.
"Masih ada kita. Kita harus bareng-bareng selamanya, sampai tua, sampai masuk liang lahat seluruhnya!" seru Liam mencoba menyalurkan semangat di momen kelam ini.
"Betul, tuh!" Itu Elard, dia yang diam saja sedari tadi. Diam mendoakan untuk kepulangan gadis paling menyebalkan yang selalu menganggu hidup tenangnya dan mendoakan untuk keikhlasan mereka yang ditinggalkannya.
Gelengan kuat Arvin lakukan. Tidak. Dia tidak akan menerima semua kalimat-kalimat penyemangat itu. "Ra iso. Aku ra iso. Iki salahku, kabeh salahku. Ibu masuk rumah sakit jiwa, ayah minggat, Caily nikah, dan dia? Dia malah pergi sejauh-jauhnya?"
—Gak bisa. Aku gak bisa. Ini salahku, semuanya salahku—
Kalaupun satu dunia berteriak dan memeluk sembari berseru menyemangati, jika sudah lelah, yasudah, tidak bisa diganggu gugat lagi. Sekali lelah tetap lelah.
•°•
Vote? Komen? Follow? Udah?!
Continued....
Tetap ikuti kisah Arvin. Jangan lupa follow akun sosmed and Wattpad aku biar nggak ketinggalan notifikasi!
Wattpad: @bocilgabut_
Tiktok: Eka.S.W.
Instragram: bocilgabut_1
Thank you 🤍
bocilgabut_ as Eka
Friday, 27 December 2024
KAMU SEDANG MEMBACA
9 Lintang; Arvin [END]
Teen Fiction"Mana boleh menyimpan tiga perempuan dalam satu hati?" Sebuah kalimat tanya yang dikhususkan untuk Arvin Putro Rekatama, seorang cowok berbelangkon coklat. ♡? ♡? ♡? "Goblok, lo itu cewek goblok yang cuma gue jadiin pengganti! Lo harusnya sadar, muka...
![9 Lintang; Arvin [END]](https://img.wattpad.com/cover/365760792-64-k513959.jpg)