HAPPY READING 📖 and ONLY FUN MY BAE🤍
SORRY FOR TYPO
Jejaknya jangan lupa, ya, Sayang!
•••
|Dia bukan tokoh utama perempuan di cerita gue, tapi tanpanya cerita gue rasanya hampa.|
—by Arvin yang sibuk mencari apa yang sudah pergi—
•°•°•
Setelah mengambil nomor pendaftaran di SMK yang Arvin pilih, kini remaja tanggung itu sedang menikmati makan siang di sebuah warung makan, rata-rata kini dipenuhi anak sekolah seperti dirinya.
Piring yang penuh dengan nasi putih dan kering tempe, serta tak terlupakan makanan renyah penuh lemak, kerupuk udang.
Makanan-makanan sederhana yang berhasil membuatnya bertahan hidup kala sedang malas pulang. Walaupun begitu, Arvin akan tetap makan di rumah untuk sekedar menemani ayah atau ibunya makan siang.
Jika kalian pikir Arvin orang berpunya, itu benar. Arvin memang memiliki orang tua yang lengkap, untuk ekonomi keluarga dia termasuk kaum menengah.
Tidak kaya, tidak juga miskin. Saat ayahnya lancar bekerja hidupnya lumayan tenang, jika ayahnya serat pekerjaan hidupnya akan sedikit terusik dan gelisah.
Kehidupan di perkampungan tidak sekumuh yang orang kota pikirkan, terkadang kampung yang terjaga memiliki banyak keunggulan. Alamnya, keramahan penduduknya, keunikan penghuninya, dan kekompakannya.
Sekarang ini contohnya, Arvin tidak makan sendirian. Melainkan, ditemani delapan orang teman yang seumuran dengannya di Kiosla mereka berkumpul bersama, berbincang, melempar canda tawa dan saling mengenal lebih dari sekedar hanya tahu nama satu sama lain.
Mereka adalah sembilan pemuda nan sedang merajut hubungan yang mungkin bisa begitu berarti bagi masa muda mereka.
"Selayaknya bhinneka tunggal Ika, kita harus tetap satu walaupun berbeda-beda. Yo opo ora, Rek?" Janu berbunyi setelah menyesap kopi hitamnya.
—iya atau tidak, Guys?—
Janu Adigra Nugra; cowok bebibir tipis, bibirnya bisa mengerucut seperti tikus jika dia sedang ngambek. Dia adalah cowok yang sedari tadi mengoceh, beradu mulut dengan Buana, serta mencoba mendapatkan perhatian dari Galih.
Entahlah, Buana selaku teman dekatnya malah membuat Janu sendiri muak terus menerus, tapi Galih membuatnya nyaman dan sikap manjanya seolah ingin keluar jika melihat cowok berahang tegas itu.
"Emang apanya yang beda dari kita?" tanya Kean, cowok berperawakan besar dan tinggi, dia duduk di sebelah Janu.
Kean Robby Raganu; cowok yang hanya bicara jika ingin atau butuh, terbukti dengan dirinya yang tak bicara sedari tadi, dan baru bicara satu kalimat ini. Jujur saja, awal bertemu tadi, Arvin dan Neil sempat berbisik bahwa, Kean orang bisu.
Namun, jika sudah dekat dengan Kean. Dipastikan kalian lelah menghadapi mulutnya yang terus mengoceh dan tingkahnya yang sebelas dua belas dengan Janu dan Buana.
Walau hanya kadang-kadang, jika sedang mood saja dia begitu dan jika tidak dalam mood baik, pasti dia akan menjadi kembaran Elard. Diam, tenang, tentram, dan gladi jadi orang malas. Malas buka suara, untuk sekadar gerakin bibir saja mereka malas.
"Nah, iya, dari segi gender pun, sama. Jadi apa yang beda?" Buana menimpali, pria paling percaya diri yang, bahkan tadi berani tebar-tebar pesona ke kakak-kakak perempuan SMK.
KAMU SEDANG MEMBACA
9 Lintang; Arvin [END]
Jugendliteratur"Mana boleh menyimpan tiga perempuan dalam satu hati?" Sebuah kalimat tanya yang dikhususkan untuk Arvin Putro Rekatama, seorang cowok berbelangkon coklat. ♡? ♡? ♡? "Goblok, lo itu cewek goblok yang cuma gue jadiin pengganti! Lo harusnya sadar, muka...
![9 Lintang; Arvin [END]](https://img.wattpad.com/cover/365760792-64-k513959.jpg)