HAPPY READING 📖 and ONLY FUN MY BAE🤍
SORRY FOR TYPO
JEJAKNYA, JANGAN LUPA YA, SAYANG!
•••
Perasaannya buram, tidak jelas, hingga susah dipaparkan.
—by Arvin yang sedang berada dalam kebimbangan—
•°•°•
Usai menemani ibunya, sekarang ini Arvin berada di rumah Elard. Menyusul teman-temannya yang sudah ada di sana sejak pukul sembilan, sementara dia baru datang pada pukul sebelas.
Mereka telah usai latihan dan sekarang mereka sedang duduk di balkon lantai dua rumah Elard. Untuk sekedar bercengkrama dan menikmati cuaca yang bersahabat.
Awan putih hampir sepenuhnya menutupi birunya langit, menghalau cahaya matahari untuk terlalu terik bersinar, sungguh cuaca yang indah.
"Kata Niel, lo gak dibolehin pergi, ya?" Buana menodongkan pertanyaan pada Arvin yang baru duduk dan menuang es kopi dari teko.
"Hm." Hanya deheman jawabannya. Arvin menyesap kopinya dengan matanya yang melirik tajam pada Niel.
Sudah Arvin duga, teman laknatnya itu pasti yang menceritakan semuanya. Memang penjaga rahasia yang buruk. Arvin membencinya, tapi tanpa dia Arvin akan bertambah hancur.
Teman dekat masa kecil memang berpengaruh itu dalam hidupnya .
Niel yang ditatap seperti itu langsung merasa gelisah. Itulah akibatnya dia yang ceplas-ceplos dan tak bisa menjaga amanah. Sungguh, dia was-was Arvin tak akan memperbolehkannya menginap di rumahnya lagi. Takut sekali dia tanpa Arvin.
Tengkuk leher yang tak gatal menjadi objek penyalur kegelisahannya sendiri, dia menggaruknya. Niel hanya menyengir simpul saja, dia juga tak berani membalas tatapan Arvin.
Cowok keturunan Jawa asli itu memiliki tatapan yang teduh, sangat teduh hingga membuat yang ditatap pengap sendiri akibat terlalu teduh.
Mata gelap itu teduh. Namun, teramat tajam.
"Gue gak bisa tidur semalem," ucap Janu, cowok yang berbaring di ayunan kain itu menatap plafon.
"Kenapa?" tanya Galih.
"Mikirin siapa itu Caily."
Melotot tajam, mata dan jantung milik Arvin dan Nielsen hampir lompat dari tempatnya. Bagaimana bisa nama itu terlontar oleh mulut bocah kematian ini?
"Maksud lo apa, hah?" Serempak Arvin dan Niel berdiri, tapi hanya Arvin yang berlebihan sampai-sampai bergemuruh napasnya dan dadanya kembang kempis menahan gejolak amarah.
Otomatis yang lain langsung menatap Arvin dan Niel, kecuali Janu yang malah memejamkan mata saat angin sepoi-sepoi menyapu kulitnya. Cowok itu memang cari masalah atau bagimana pun tidak ada yang tahu.
Galih yang berada di sebelah Niel langsung memegang pundak Niel, menyuruhnya duduk kembali. Niel menurut, dia duduk dengan helaan napas gusar yang dia hembuskan.
"Jawab gue, Janu," desak Arvin yang enuh tekanan di setiap katanya, Arvin ingin membuat Janu merasa terintimidasi dan akhirnya menjawab dengan jujur. Apapun yang terjadi Janu harus mengatakan yang sebenarnya.
Arvin tak sadar, dia tak sadar bahwa teman-temannya membeku, takut, dan merinding melihat tatapan dan raut wajahnya sekarang. Begitu berbeda dengan Arvin yang santai dan terkadang jahil. Walaupun jahilnya hanya secuil saja.
"Ck, kenapa lo kesel?" Janu memberikan diri untuk menatap mata tajam Arvin. "Itu nama yang ada di catatan nama-nama calon anak bibi gue."
Arvin langsung memejamkan mata. Mati-matian dia tenangkan dirinya yang hampir lepas kendali, hampir dia lempar Janu ke bawah sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
9 Lintang; Arvin [END]
Fiksi Remaja"Mana boleh menyimpan tiga perempuan dalam satu hati?" Sebuah kalimat tanya yang dikhususkan untuk Arvin Putro Rekatama, seorang cowok berbelangkon coklat. ♡? ♡? ♡? "Goblok, lo itu cewek goblok yang cuma gue jadiin pengganti! Lo harusnya sadar, muka...
![9 Lintang; Arvin [END]](https://img.wattpad.com/cover/365760792-64-k513959.jpg)