HAPPY READING 📖 and ONLY FUN MY BAE🤍
SORRY FOR TYPO
Jangan lupa jejaknya, ya, Sayang!🐐
•••
Delapan anggota 9'Lintang berpencar menuju lokasi-lokasi yang sudah direncanakan. Mereka melajukan motornya bak angin, mungkin jika dilihat kecepatan mereka melebihi 80 km/jam. Untungnya jalanan tidak sibuk seperti hari-hari selain weekend.
Nielsen, Buana, dan Janu akhirnya menurunkan standar motor mereka di halaman sebuah rumah di mana seorang gadis sudah melambai-lambai di terasnya.
"Heiii, ayo bantuin Arvin! Arvin udah sadar tapi dia masih lemes banget!"
Tergopoh-gopoh tiga cowok itu berlari masuk ke rumah setelah mendengar teriakan Lecya yang penuh dengan kepanikan.
Setelah mengucapkan salam, mereka masuk ke dalam rumah, mendekat ke Arvin yang duduk dengan pandangan kosong.
"Vin...."
Arvin kontan menoleh, dia tersenyum tipis, tapi matanya terlihat memiliki sakit yang mendalam saat ini. "Nil, gue tau lo ga suka sama gue, gue juga tau lo udah benci gue...." Arvin menjeda kalimatnya kala dia berdiri memeluk cowok yang dia anggap sebagai sahabat. "Tapi untuk sekali ini aja, gue mohon, tolong bantuin gue ketemu mamak. Gue ga kuat kalau mau naik motor sendiri," lanjutnya.
Nielsen memejamkan matanya. Jauh di dalam hatinya, dia menyalahkan dirinya sendiri, mengutuk segala ucapannya yang tadi dia lontarkan pada Arvin saat di studio.
"Ayo, ayo gue bantu!"
Ketika Nielsen memapah Arvin, Lecya pun langsung menyalami tantenya. "Tante, aku ke rumahnya tente Reta dulu, ya? Assalamualaikum."
Buana dan Janu pun ikut menyalami Noye. "Kami juga pamit, Tan. Assalamualaikum," pamit Buana
"Assalamualaikum," lanjut Janu.
Noye mengangguk, dia sebenarnya juga ingin ikut, ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya. Sebenarnya ada apa dengan Reta hingga putranya pingsan?
•••
Riuh, ramai, rumit, mencekam, mengerikan, dan membingungkan. Mungkin semua kata-kata itu tepat untuk menjadi deskripsi singkat suasana kediaman Arvin saat ini.
Elard, Liam, dan Dery baru turun dari mobil. Sementara Kean dan Galih baru mematikan mesin motor mereka.
Pemandangan yang mereka lihat sungguh tidak sedap. Mereka melihat segerombolan warga yang berbisik, berteriak panik, dan ada yang ikut berusaha melerai Reta yang memberontak mencoba melayangkan pisau ke suaminya.
Reta yang sudah dikelilingi aparat kepolisian dan petugas rumah sakit jiwa terlihat sangat acak-acakan. Reta masih memakai atasan dari mukenanya, matanya sembab merah, wajahnya basah karena air mata dan keringat, dan mulut wanita itu berteriak-teriak histeris.
"ISO-ISONE, SAMPEYAN NGAPUSI AKU, MAS? BAJINGAN RAIMU!"
—Bisa-bisanta, kamu bohongi aku, Mas? brengsek kamu—
Semua orang yang ikut berkerumun tidak tahu sebenarnya ada masalah rumah tangga seperti apa di sini. Namun, yang jelas situasinya kacau.
Dery menggelengkan kepalanya. "Wah, kacau," celetuknya.
"Lebih kacau lagi kalau Arvin lihat ini," komentar Kean mendapatkan anggukan dari yang lain.
"Kean, anter gue ambil air." Galih menggandeng tangan Kean agar dia ikut dengannya.
"Untuk apa?" Kean enggan untuk jalan, dia tak ingin memecah gerombolan warga di teras rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
9 Lintang; Arvin [END]
Teen Fiction"Mana boleh menyimpan tiga perempuan dalam satu hati?" Sebuah kalimat tanya yang dikhususkan untuk Arvin Putro Rekatama, seorang cowok berbelangkon coklat. ♡? ♡? ♡? "Goblok, lo itu cewek goblok yang cuma gue jadiin pengganti! Lo harusnya sadar, muka...
![9 Lintang; Arvin [END]](https://img.wattpad.com/cover/365760792-64-k513959.jpg)