chapter 17| Penyakitan dilarang sukses?

58 15 12
                                        

HAPPY READING 📖 and ONLY FUN MY BAE🤍

SORRY FOR TYPO

Jangan lupa jejaknya, ya, Sayang!

•••

“Bagaimana dengan manusia-manusia yang ingin sukses dan membanggakan kedua orang tuannya. Namun, terhalang ekonomi keluarga, terhalang kekuatan fisik, dan terhalang aturan gila yang ditetapkan mereka?”

•••

"Apin udah pernah makan buntut megaladon belum?" Lecya bertanya secara tiba-tiba kala tangannya sibuk mengupas mangga untuk Arvin.

"Jangan, ya, Dek, ya. Nanti kalau kena ngap, langsung ngep, ya, Dek, ya," celetuk gadis berkepang dua itu sebelum Arvin sempat menjawab.

Sementara cowok yang diajak bercanda hanya memasang wajah datar, merajuk mode on. Yah, bagaimana tidak merajuk?

Semalam Arvin kabur dari rumah sakit, dikejar-kejar oleh teman-temannya seolah dia adalah maling bersarung. Demi siapa? Demi bertemu dengan Lecya yang memberinya pesan seolah akan mati malam itu juga.

Ending dari cerita semalam adalah Arvin yang menemukan Lecya tidur di kursi tunggu di dekat kamar jenazah karena tak menemukan ruangan di mana Arvin dirawat. Anak ajaib emang si Lecya ini.

Saat ditanya maksud dari pesannya yang dia kirim begitu ambigu, Lecya malah menjawab dengan hal yang bodoh, semua itu karena dia terlalu mengantuk hingga takut tidak bangun lagi. Sangat menggemaskan sekali ketakutannya.

"Kenapa diem aja?" tanya Lecya sambil mendongak dan melirik Arvin sekilas.

"Biasalah, dia bisu kalau lagi marah." Tidak lain, tidak bukan, yang menyeletuk adalah Nielsen. Ya, sekarang hanya ada Nielsen dan Lecya yang menemani Arvin di rumah sakit. Sedangkan yang lain sudah kembali ke sarang masing-masing.

Orang tua Arvin? Mereka ke kebun, sedang panen jagung. Sebenarnya mereka hendak kemari menemui putra semata wayang mereka, tapi Arvin mencari-cari alasan yang entah apa hingga kedua orang tuanya tidak datang, alhasil Lecya bisa tenang, aman, dan damai di sebelahnya.

"Nil, Nil, Nil."

"Hah?" Nielsen mendekat ke temannya yang masih setia berada di atas brankar rumah sakit.

"Ruh ya ndiluk, dia auknget." ucap Arvin, dia berbicara dengan bahasa yang jelas, tapi begitu cepat secepat kereta listrik.

Nielsen mengernyitkan alisnya, matanya menyipit, memutar otak memikirkan arti bahasa celurut yang digunakan Arvin.

Sementara itu, Lecya juga sibuk menoleh kesana kemari, menyimak dua cowok yang sedang bercengkrama di depannya.

"Oh!" Satu hantaman tangan Nielsen ke perut Arvin mendarat sempurna. Membuat Arvin kontan memejam dan mengerang keras. "Lecya, mandi sana, bau banget kamu ini," lanjutnya setelah mengerti arti ucapan Arvin.

Mulut Lecya penuh dengan mangga, tapi dia berhenti mengunyah dan malah menyimak Nielsen dengan seksama.

"Aku bau?" Kembang kempis hidung Lecya ketika sedang mencium aroma keteknya sendiri. "Nggak, ah. Tadi malam sempat mandi pas ada petugas yang mandiin jenazah."

"Curiga sebentar lagi jadi jenazah," cetus Arvin, nada bicaranya benar-benar tidak mengenakan, putran bola matanya juga menyebalkan.

"Lambemu!" Tabokan mantap mendarat di bibir Arvin, pelakunya tentu saja Nielsen.

9 Lintang; Arvin [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang